Keniscayaan

Diriku, yang tak pandai memaknai keindahan dari sajak, kutulis yang serupa untuk rasa yang ingin tersampaikan tersentak pada kecemasan.

Menulis keindahan mu dengan kata-kata Tapi tak ingin membuat mu terbang lalu jatuh tenggelam. Kata-kata tak ingin memuji mu lalu membuatmu tersipu malu namun, aku sedang mengaku.

Dalam pelataran rindu, memujimu dan memuja Tuhan atas keindahan yang diciptakan atasmu tapi, tak memuji mu berlebihan sedang takut Tuhan pun cemburu.

Senang berada di setiap cerita masalahmu, ideologi mu yang menolak dibungkam, diperbudak, jujur dan berbahaya. Sedang kamu tahu apa yang hendak dijaga agar tak kehilangan, sangat indah.

Perihal masalah dalam rasa itu akan datang menghentikan sejenak sesapan rasa pada setiap kopimu, menghilangkan cerita dalam masalahmu, dan menolak bersanda dalam lingkaran kopimu. Sangat membosankan, hingga harapan dan doa ku agar tak ada kata pergi.

Meminta semesta mendukung, agar kedai kelak kembali kedatangan tamu, rasa dan kopi yang masih sama.