Titik Balik

Perihal cinta,
Tak ada yang benar-benar nyata
Semuanya telah menjadi buram
di antara aksara-aksara yang runyam.

Manusia; satu karakter yang runyam
Mereka berpesta pora di atas kekacauan aksara.
Memanipulasi naskah oleh birahi mereka.
Menafsirkan cinta dari kobaran api.

Hari-hari terbakar begitu saja
Ia melahap setiap tanah dalam diri manusia
Menjadi abu dalam epos sejarah
Dan menjadi tumpukan yang diterpa infinitum

Ia terus berputar,
Mencari pintu yang sebenarnya telah menjadi batu

Tanah ini semakin merah
Retak keringnya mangalir darah,
Mengalir deras di sela-sela jemari sutradara
Di muara telunjuknya, kita menjumpai korban-korban berjatuhan

Mereka telah dicumbu dengan amarah,
Dibalut oleh cinta dan ditutupi oleh kotak hitam kebohongan

Dan pada suatu saat yang dinantikan
Manusia menghadapi satu tembok masa kehancuran.
Masa yang saling berhamburan dan celakanya pisau yang diasahnya malah berbalik menikam dirinya

Cukuplah!
Di tanah ini, ada titik keseimbangan,
Begitupun manusia,
Ia menjadi titik di antara hitam dan putih.
Di tubuhnya bersemayam malaikat dan iblis.

Ia menjadi oposisi di antara dua gejolak itu.
Cinta atas dirinya adalah titik balik kekacauan itu.

Tabaria, 22 September 2019