Resolusi yang Usang; Sekumpulan Renungan

Judul      : Resolusi Yang Usang

Penulis   : Zulkifli

Penerbit  : Carabaca

Tahun Terbit : 2018

Tebal Halaman : 130 Halaman

ISBN: 602117554-9

Buku “Resolusi yang Usang” adalah sebuah karya dari tangan seorang pelupa yang menulis agar ingatan terawat dalam lembaran kertas. Penulis adalah alumni mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Sebelumnya, penulis sendiri lebih banyak menulis naskah drama hingga ketika kedatangannya ke Jogja pada saat itu penulis bertemu dengan banyak orang yang baik hatinya, juga beradu pemikiran tentang buku-buku bersama orang-orang yang gila dalam kepenulisan yang membuat penulis menjadi terbuka matanya dan melihat ternyata ada banyak hal baru disana-sini. Buku “Resolusi Yang Usang” adalah sebuah buku yang bergenre fiksi. Di mana fiksi hanya berdasarkan imajinasi seseorang meski begitu fiksi tetap masuk akal dan bisa mengandung kebenaran di dalamnnya.

Buku “Resolusi Yang Usang” dikemas dengan pemberian sampul berwarna cokelat dilengkapi juga dengan pemberian ilustrasi berwarna putih. Ilustrasi tersebut mengambarkan seorang lelaki yang sedang tidur, tetapi isi kepalanya tidak. Kepalanya dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran yang meronta ingin dikemukakan, tetapi tidak kunjung mendapat kesempatan. Pun di bawah ilustrasi terdapat sebuah tulisan yang telah menjelaskan isi dari buku tersebut, “Sebuah Antalogi Cerpen dan Naskah Drama”.

Ketika membuka buku tersebut, pada lembar pertama terdapat sebuah bab yang berjudul “Sekapur Sirih” atau kata pengantar. Disitu, penulis menceritakan secara gamblang isi dari buku tersebut. Berisi 13 cerpen dengan “Dongeng Nek Minah” sebagai pembuka awal dari buku dan sebuah naskah drama yang berjudul “Orang-Orang Sakit” sebagai penutup dari buku tersebut. Resolusi yang usang lahir dari pecahan-pecahan arsip yang banyak hilang karena seringnya berganti laptop. Alasan mengapa akhirnya penulis kemudian menjadikan “Resolusi yang Usang” sebagai judul pada buku tersebut karena mengingatkannya pada rencana penerbitan buku pada tahun sebelumnya yang berakhir dengan kekecewaan, sampai membuyarkan semua resolusi di tahun tersebut.

Mengutip sebuah kalimat dalam bab Sekapur Sirih, “Bukankah panggung yang paling fantastis di dunia ini ada di dalam kepala kita sendiri?”. Di dalam kepala atau lebih tepatnya adalah pikiran. Iya, benar. Bahkan senior sewaktu Smk mengatakan kepada saya bahwa penyebab kematian itu dari sakit dan pikiran. Sejatinya, pikiranlah yang membuat kita akan terus positif atau negatif dalam hidup karena pikiranlah yang mengendalikan segalanya dari mata, kaki, hati, tangan dan lain sebagainya semua dari pikiran. Berbuat pun juga dari pikiran.

Resolusi yang usang…

Dongeng nek Minah adalah suatu interpretasi dari penulis yang menyatakan bahwa, bila peri itu baik, mengapa peri mengancam Pinokio dengan memanjangkan hidungnya bila berbuat jahat, mengapa tak dianugerahi hati yang sejuk saja? Dongeng nek Minah juga memberikan kita suatu kesadaran di mana kadang sebagian besar keadilan hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berpakaian rapih saja dan bahwa kejujuran kadang membuat kita menjadi bimbang, apakah siap demi kebenaran atau siap menanggung rasa malu?.

Resolusi yang usang…

Cerpen “Kamase-mase” adalah cerpen dari bentuk penyadaran diri bagi yang membacanya, manusia semakin hari semakin sering main hakim sendiri, menempatkan diri sebagai hakim yang tidak akan merasa bersalah bila menetapkan terdakwah. Sebuah kutipan dari cerpen “Kamase-mase” mengatakan “Tak ada hati. Tak punya jati diri, sirna kemanusiaannya. Hanya satu kebenaran yang diperjuangkan lalu yang lain dihempaskan.” Di era posmodernism atau posmodernisme saat ini yang ditandai dengan kata kunci “Everybody is Truth”mulailahsebagian besar orang-orang melakukan gerakan penolakan, hanya karena mereka merasa dirinya benar. Kita sampai lupa, benar atau salah hanya masalah sudut pandang saja atau perspektif. Manusia kadang menjadi buta hanya demi mencapai sesuatu yang diinginkan atau parahnya tidak segan menghancurkan orang lain yang menjadi penghalang dari sasarannya. Semakin hari semakin sirna sudah rasa kemanusiaan ini. Seringnya terlalu merasa benar dan terlalu terobsesi.

Resolusi yang usang…

“Adab Beradik” adalah salah satu cerpen yang paling menarik perhatian saya, bahwa yang kita telah ketahui universitas bukanlah hanya tentang masa depan atau bagaimana menjadi “apa”, universitas haruslah berguna untuk kemanusiaan. Cerpen “Adab Beradik” membawa kita pada ruang humaniora. Yang saat ini kita ketahui bahwa ada banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, juga pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan sudah semakin parah. Maka ruang humaniora adalah salah satu upaya dalam mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan tersebut dan menjadikan manusia agar lebih mengenal dirinya. Bagaimana seharusnya senior dan junior dalam bersikap? Seperti yang kita tahu bawah senior adalah orang yang lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan sedang junior adalah orang yang berada di bawah senior baik sebagai mahasiswa maupun dalam segi pengalaman dan kemampuan. Cerpen “Adab Beradik” pun membuat kita tahu bahwa senior dan junior adalah hubungan emosional yang saling terikat bukan saling melawan dan bergaya seakan tak pernah bersalah. Yang terpenting adalah bagaimana senior dan junior menanggalkan egoisme diri masing-masing. Karena sejatinya, Senior dan junior hanyalah persoalan waktu.

Resolusi yang usang…

Di akhir buku tersebut terdapat sebuah naskah drama yang berjudul “Orang-Orang Sakit”, naskah tersebut mengingatkan saya akan percakapan dengan mama saya, saya mengatakan pada mama “Orang-orang pada akhirnya kembali menjadi anak kecil saat memasuki tahapan lansia.” Tapi sebenarnya orang-orang pada tahap lansia memiliki dua pilihan, apakah siap menerima datangnya masa tua atau menolak datangnya masa tua. Orang-orang yang menolak datangnya masa tua adalah orang yang seringkali bersikap kekanakkan serta memiliki emosi yang tidak stabil. Menyelisik lebih jauh, naskah drama “Orang-Orang Sakit” di mana semua tokoh yang terlibat di dalamnya memiliki sikap yang kekanakkan. Salah satunya adalah Abi Maru, tokoh utama dalam naskah drama tersebut. Abi Maru dengan sikap kekanakkannya tidak lagi menganggap bahwa persaudaraan itu adalah hal penting. Abi Maru tak segan menghalalkan berbagai macam cara termasuk memberikan racun pada roti yang akan diberikan kepada saudara-saudaranya hanya demi mendapatkan cintanya Lela Rasa, tanpa harus merasa tersaingi lagi. Dari tokoh Abi Maru kita paham bahwa terobsesi pada hal apapun termasuk cinta adalah suatu hal yang tidak baik. Obsesi tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Secara garis besar, buku “Resolusi Yang Usang” adalah salah satu upaya dalam mengajak pembaca untuk belajar bagaimana menjadi manusia dan memanusiakan manusia lewat tulisan penulis. Bukan berarti kita sebelumnya tidak memperlakukan manusia itu seperti manusia. Tetapi, alangkah lebih baik bila kita semakin tahu bagaimana memanusiakan manusia. Seperti filosofi Sam Ratulangi, “Manusia baru dapat disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.” namun, kita perlu tahu bahwa memanusiakan manusia itu terwujud lewat sikap, perilaku dan perbuatan tidak hanya terucap manis lewat perkataan semata. Buku “Resolusi Yang Usang” mengingatkan kita akan pentingnya budaya toleransi, etika dan adab dalam kehidupan bermasyrakat serta mengingatkan kita untuk tidak cepat mengambil suatu perspektif hanya dengan melihat sebuah kejadian dari satu sisi saja.

Sama halnya manusia yang penuh dengan kekurangan serta tak luput dari kesalahan pun juga buku, karena yang menulis dan menerbitkan adalah seorang manusia. Maka buku pun kadang masih memiliki kesalahan-kesalahan kecil. Tetapi, tidak sampai menghilangkan esksistensi sebuah buku. Pada buku “Resolusi Yang Usang” pemberian tanda baca masih sering terlupa oleh penulis juga pada naskah drama “Orang-Orang Sakit” karena itu adalah naskah drama maka akan lebih bagus bila penulis membedakan suatu narasi dengan suatu percakapan.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah melahirkan sebuah buku yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang pada saat ini. Salah satu keunikan dari buku tersebut adalah penulis menyatukan antalogi cerpen dengan sebuah naskah drama yang kita tahu bahwa naskah drama dalam bentuk buku sudah jarang ditemukan. Saya sungguh salut dengan semangat penulis dalam melawan beratnya menanamkan kepercayaan diri yang tentu kita tahu bahwa membangun kepercayaan diri pada seseorang itu bukan suatu hal yang mudah apalagi bila ternyata orang itu memiliki sifat pemalu. Tidak sampai disitu saja, penulis juga mampu membangkitkan kembali cita-cita menerbitkan antalogi cerpen yang sempat redup sampai akhirnya lahirlah buku yang diberi judul “Resolusi Yang Usang”.

Buku “Resolusi Yang Usang” bukan hanya sebuah antalogi cerpen, tetapi juga sebuah kumpulan renungan untuk diri kita sendiri. Apakah kita sudah menjadi manusia?

“Saya tahu tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar kepada kemanusiaan.”

-Voltaire