Dunia setelah Malam

Angin gurun berhembus

Membawa kabar buruk

Dalam terik yang mengingkari janjinya ketika kemarin

Mengusir dingin yang berkuasa semalam

Bercengkrama bersama pedih, duka, dahaga, darah dan ketakutan

Di sebuah negeri ketika bandit menjadi maharaja

Hak-hak rakyat dilucutinya satu-persatu

Kehendaknya adalah sabda yang tak boleh dilanggar

Lidah-lidah kaku berjuta diam

Bersama ketakutan yang menguasai negeri

Tak ada teriakan, tak ada protes, tak ada unjuk rasa

Dalam bungkamnya

Telah bangkit seorang kesatria

Mendendangkan nyanyian dari syair-syair amarah

Yang telah lama mengepul di langit semesta

Nyanyian diukir dengan darah dan tangisan

Terbang di antara awan

Bergemuru bagai halilintar

Berkilatan sebagai petir

Lalu.. turun menjadi hujan merah

Meski pisau pancungan telah menanti di urat leher

Takkan ada kata mundur sebelum merdeka

Dari atas singgasana

Sang raja murka besar, tertampar, terhina dan terancam

Geliat kesadaran rakyat kian terkonsolidasi

Lalu sang raja menyeru kepada prajuritnya

Tangkap, pukul, dan seret ke tiang pancungan

Namun hati takkan gentar

Meski berakhir dengan kematian

Namun jiwa pergi dengan kemerdekaan.