Tragedi Oktramuliana (3)

Oktramuliana

Hari ini, hujan pertama kembali menyapa Oktober. Ana duduk di teras rumahnya. Mengurai rintik hujan yang telah menjadikannya manusia. Ia mengingat cerita Ibunya, tentang kelahirannya di bulan Oktober, tepat saat hujan pertama membasahi tanah-tanah kering yang dijajah kemarau. Kata Ibunya, Ana mengiak-ngiak ketika hujan memukul-mukul atap rumah.

Ana terus mengurai rintik hujan dengan matanya. Baginya, hujan berasal dari rahim awan, berbutir-butir bak selonsongan peluru yang menyerang. Bersebaran mencari mangsa, namun terjatuh ke bumi, ditarik gravitasi. Sayangnya, saat menyentuh tanah, hujan tidak mau lagi menjadi hujan. Dipilihnya menyatu dan menjadi air, lalu bergegas menuju sungai, menempuh perjalanan panjang ke muara, dan bersatu dengan rekannya di lautan.

Hujan sangat benci berada di bumi yang panas. Hujan tak ingin mendidih. Itulah sebabnya, saat matahari kembali bersinar, hujan-hujan memohon agar dirinya dikembalikan ke rahim awan.

Mengurai hujan, sama halnya mengurai kenangan yang bentuknya seperti hujan. Berbutir-butir bak selonsongan peluru yang menyerang, tepat di dada. Perih. Begitulah Ana. Ketika ia kembali mengingat pertemuannya dengan seorang lelaki. Lelaki yang selalu meyakinkannya tentang tangisan bulan yang berubah menjadi hujan.

Konon dalam cerita itu, telah hidup sepasang kekasih yang saling mencinta. Mereka  berkomitmen saling setia, apapun yang terjadi. Namun, suatu saat lelaki meminta izin untuk meninggalkan kampung halaman ke negeri seberang, untuk mencari penghidupan yang layak. Jika telah ia dapatkan, maka lelaki itu akan kembali dan meminang perempuannya, berniat hidup dengan bahagia.

Sebelum pergi, lelaki itu berpesan, jika perempuannya hendak mendengar kabarnya, bertanyalah pada angin di sore hari, niscaya angin tersebut telah dititipkan kabar tentangnya. Dan, jika perempuannya hendak melihat dirinya, tataplah bulan yang bersinar sempurna, nicaya bulan akan memantulkan segala tentangnya. Pesan itu, dijunjung kuat oleh perempuannya. 

Namun, lama juga perempuan itu menunggu kabar dari angin sore dan gambaran lelakinya dari bulan sempurna. Jenuh dan geramlah perempuan itu dalam menunggu. Ia berusaha menangkap angin, ingin bertanya perihal kabar. Karena ketakutan, angin berlari begitu kencang dan berhasil lolos dari geramnya perempuan itu. Kesal, tidak mendapatkan angin. Perempuan itu membuat tangga bambu yang sangat tinggi hingga menjangkau bulan.

Ia menaiki anak tangga satu persatu, terus dan terus, naik dan naik, tinggi dan tinggi. Tiba-tiba dia menengok ke bawah, ke bumi. Diliatnya lelakinya sedang berdua dengan perempuan lain. Ia sangat kecewa, angin tidak mengabarkan hal demikian dan bulan tak mengambarkan hal demikian. Ia melanjutkan perjalanan, menapaki anak tangga yang tersisa. Lalu, tibalah ia di hadapan bulan, ditamparnya bulan hingga menangis, dan tangisan bulanlah menjelma hujan.

Setelah bercerita hal demikian, lelaki itu berkata kepada Ana, “itulah sebabnya, jika hendak hujan, angin berhembus kencang. Angin masih mengingat, ketika perempuan itu memburunya dengan mata melotot.” Berulang kali Ana diceritakan hal tersebut, namun, Ana tidak pernah menumbuhkan benih kepercayaan terhadap cerita itu. Baginya, cerita itu hanyalah dongeng yang dibuat-buat untuk mengambarkan kesetiaan palsu.

Meski tidak percaya, cerita itu mampu menggoyangkan perasaan Ana, berulang kali dia tersenyum sendiri jika teringat kisah itu. Sering kali, dia mengulang alurnya dalam benak hingga hafal betul, narasi perpisahan sang lelaki. Seperti saat ini, mengamati rinai hujan, Ana tersenyum mengulang kalimat-kalimat si lelaki, sambil sesekali dibukanya lembaran-lembaran buku karya Marxim Gorki, Ibunda.

Baginya, buku itu memperbincangkan keinginan atas penghidupan yang ideal di tengah carut marutnya dan ketimpangan sekitar, yang sama halnya bagia Ana, seperti membangun cinta di atas pondasi ketidakpercayaan. Selalu butuh perjuangan dan juga selalu rapuh, tetapi bisa terwujud jika dibarengi dengan kegigihan. Sayangnya, soal kegigihan bercinta, Ana bukan ahlinya. Dia hanya perempuan yang pandai berbicara logika, tapi lupa cara kerja rasa.

Sementara aku? Yah… Akulah lelaki yang kerap menceritakan kisah tangisan bulan yang menjadi hujan itu.

***

“Bro, rapat sudah mau dimulai?” Imnyung menepuk pundakku.

“Ana, sudah hadir?” tanyaku.

“Dia sakit, katanya!” Imnyung menegaskan ketidakhadirannya.

Entah mengapa, ketidakhadirannya adalah kemenangan atas perasaan ini. Urusan Imnyung, biarkankanlah…

Kali ini, rapat membahas pendampingan masyarakat miskin kota yang tergusur karena pembangunan. Bukan membahas hati yang tersingkirkan karena kebimbangan.

Semua bermula ketika kota membangun dengan megah, gedung yang kakinya menghujam tanah serta kepalanya yang menyundul langit, adalah solusi.  Kota telah berubah menjadi arena gladiator, siapa yang kuat maka dia yang akan bertahan. Bagaimana pun, kami kaum terpelajar, masih merasa kuat diantara para cukong-cukong.

Mereka berdiri mengangkang, kami berdiri menantang! Namun, lari berteduh kalau hujan, sebab kami bukan kambing.

Sebelumnya I Selanjutnya