Joker Perlu Alquran

Setelah sekian kali melihat trailer film Joker menghantui beberapa dinding sosial media saya. Membuatku penasaran dan kemudian komitmen bersabar dan menunggu debutnya akan tayang di layar lebar. Entah apa yang memotivasi saya sehingga menganggap film ini membutuhkan waktu khusus untuk menyaksikannya. Secara, saya memang fans DC Comic dan di satu sisi, ini akibat obsesi imajinasi saya yang membayangkan, bahwa karakter Joker akan melalui pertempuran sengit bersama lawan setianya Batman dengan narasi yang berbeda. Itu mungkin salah satu alasan yang membuat saya menspesialkan film ini. Tiba saatnya saya berkesempatan untuk menyaksikan dengan harapan, beragam suguhan visual effect yang spektakuler dan siap memanjakan imajinasi. Ternyata sutradara berkata lain dalam film tersebut, cuma menggambarkan alur yang menjenuhkan bak rubik, yang perlu melibatkan analisis kompleks dalam menemukan bentuk utuh dari ceritanya dan seiring kejenuhan tersebut perlahan-lahan menghapus obsesi imajinasi saya yang sudah sekian jam mengendap dalam ruang bioskop. Adegan action tembak-tembakan, menunggu kendaraan canggih Batman menyerang sosok menjengkelkan Joker (it is bullshit). Hal tersebut salah satu indikator kenapa film Joker ketika dinonton akan menjenuhkan karena tak seperti yang seharusnya sebagaimana aksi klasik Joker dan Batman.

Di sini saya tak akan berbicara panjang lebar mengenai proses kehidupan Arthur Fleck (Joker), yang diperankan oleh aktor kawakan Joaquin Phoenix, sebab saya masih menghargai kawan-kawan sekalian yang belum menonton film ini dan khawatir akan mengurangi sensasi film dalam imajinasi di saat kawan-kawan menontonnya, akibat tulisan ini kebanyakan spoiler adegan. Namun yang ingin saya tunjukkan disini adalah sisi lain dari hingar bingar alur kehidupan Joker. Kaitannya dengan kontekstualisasi teks-teks Al-Quran yang menginstruksi umatnya untuk menjadikannya sebagai way of life. Kaitan tersebut akan menjadi variabel dalam tulisan ini untuk mengupas jati diri seorang anak manusia si Joker, sebagai gambaran konsekuensi atas makhluk yang ingkar terhadap kebenaran yang Allah turunkan bagi manusia. Sekaligus sedikit rasionalisasi atas teks-teks Al-Quran sebagai pembenaran bahwa apa yang kemudian tertulis dalam Al-Quran, sesungguhnya sudah teruji dan rasional sehingga layak dijadikan sebagai suatu pandangan hidup secara umum. Tinggal bagaimana kita betul-betul meyakininya dengan penuh keimanan dan melibatkan seluruh kemampuan akal, mengkaji lebih komprehensif dalam praksis kehidupan, baik sifatnya individu ataupun berkelompok.

Joker perlu baca Al-Quran
Joker hakikatnya hanyalah salah satu gambaran manusia, dari miliyaran manusia di muka bumi ini yang belum tuntas terhadap pengendalian dirinya. Dan kutipan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti, bukanlah pembenaran atas kejahatan yang dilakukan oleh Joker. Sebagaimana kata netizen yang maha benar atas segala quotesnya. Karena ada juga manusia yang kemudian terus menerus tersakiti tapi tidak pernah sama sekali menonjolkan wajah kejahatan dalam jiwanya. Nabi Muhammad SAW, dalam mendakwahkan Islam dengan penuh siksaan psikis, emosional, kondisi struktural sosial yang menyeramkan, hingga penganiayaan yang ekstrim. Namun semua siksaan itu tidak sama sekali mengubah jati diri Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah ketuhanan, menjadi jahat dan pendendam. Begitupun sejarah-sejarah revolusioner yang lainnya. Salah satunya tokoh Mahatma Ghandi sebagai seorang rohaniawan dan politikus India, yang kemudian bersama dengan rakyat tertindas akibat kolonialisme Inggris. Sekalipun ia merasa tersakiti dan terkungkung kebebasannya bersama rakyat lainnya. Ia tetap melakukan gerakan terorganisir tertib dan damai serta sama sekali tanpa kekerasan. Hikmah singkat yang telah saya refleksikan dari kedua tokoh manusia di atas yang sejatinya juga manusia biasa. Lagi-lagi saya ingin katakan bahwa mereka tidak sama sekali menjelma menjadi Joker yang brutal dan ganas bagai hewan buas dan tak berperi kemanusiaan setelah melalui berbagai penindasan. Dan kita ketahui bersama bahwa sudah barang tentu di kedua tokoh di atas mampu melalui seluruh tantangan visi kemanusiaan yang ada, karena di dalam jiwa dan pikirannya terdapat manajemen yang baik dalam mensugesti setiap tindakan agar bergerak dan berorientasi sesuai koridor keadaan dan zaman. Bahkan keduanya berhasil meninju congkaknya penindasan dengan meninggalkan kesan yang sangat monumental melalui karya-karya kemanusiaannya.

Tidak seperti Joker yang mencoba ingin menunjukkan eksistensi dirinya yang agak instan. meskipun kita ketahui yang membuat kakanda Joker ini sulit untuk menunjukkan eksistensi karena terhalang oleh penyakit psikologisnya yang cenderung mengusik. Yakni suka tertawa dengan tiba-tiba, bukan karena dorongan situasi yang mengharuskan ia tertawa. Bahkan terkadang di saat-saat mencekam ia pun tertawa. Fenomena psikis yang dialami inilah yang membuat dirinya sulit beradabtasi dengan orang-orang di sekelilingnya hingga berujung pada keterasingan bahkan diskriminasi, dan membuat Joker bersikap fatalistik. Ditambah dengan permasalahan yang membuat dirinya merasa benar-benar tidak mengetahui dirinya bahwa dia berasal dari keturunan siapa dan memutuskan menjadi sosok manusia teror agar mencapai reputasi meskipun negatif dan prosesnya cepat. Ia pun, menurut saya, mengambil jalan pintas yang gegabah dan ambisius lagi tak kreatif karena tidak menjadikan dirinya hadir kepermukaan sebagai orang yang membunuh keterasingannya dengan berbagai karya yang bisa ia buat dan tentu sesuai dengan kondisi mentalnya. Entahlah apakah ini salah sutradara dalam menceritakan ataukah memang sejatinya karakter Joker dalam setiap serial Batman dan Joker ini nyatanya memang terlahir sebagai orang jahat hingga akhir hayatnya. Sangat disayangkan dan saya terkadang membayangkan, berharap Joker harus banyak membaca referensi terkait menjalani kehidupan. Dan anggap saja si Joker ini tidak sama sekali mengenal agama atau keyakinan apapun dan dia tidak sengaja membaca terjemahan Al-Quran dan mengkontemplasikannya. Saya meyakini Joker akan langsung menemukan peta kehidupan yang pas buat dirinya di dalam Al-Quran itu. Sebab Al-Quran diturunkan pastinya bukan hanya untuk dibaca umat Islam saja. Si Joker pun berhak membacanya karena memang tak dapat dipungkiri isi Al-Quran memuat ayat-ayat yang universal dan sangat bersinggungan dengan kehidupan praksis manusia. Seperti adanya sugesti Allah SWT bahwa tidak berubah nasib suatu kaum kecuali sebelum mereka sendiri yang mengubahnya. Dan andai Joker tetap konsisten terhadap kebaikan tentunya kebaikan pula yang akan didapatkan. Bahkan besar peluang untuk terhindar dari bayang-bayang keterasingan.

Fenomena “Joker” ada di sekeliling kita

Joker, begitupun manusia lainnya. Meskipun Joker hanya terdapat pada cerita fiktif, tapi cukup memberikan gambaran kepada kita semua bahwa karakter dan takdir hidup seperti Joker itu nyata dalam kehidupan di sekeliling kita, hanya bedanya tidak berpenampilan seperti Joker yang memiliki hiasan wajah seperti badut dan mengenakan jas yang sangat mencolok. Bagi yang pernah menontonnya pasti tahu kehidupan Joker dipenuhi dengan keterhinaan oleh orang-orang sekitarnya, akibat kelemahan mentalnya. Diperparah dengan kondisi keluarganya yang hidup terluntah-luntah, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai badut penghibur karena kecerobohannya, hingga status keturunan yang tidak jelas. Saya membayangkan jika ini kita tarik dalam konteks kehidupan dan mental masyarakat Indonesia akan menjadi motif bunuh diri yang cukup beralasan mengapa hidup itu harus segera diakhiri. Dan bagi saya adalah hanya orang lemah yang ingin mengakhiri kehidupannya seperti itu. Dalam cerita, dari segi sosial sejatinya Joker telah membunuh lebih dalam eksistensi dirinya tanpa ia sadari, karena dengan kejahatan yang kemudian dia lakukan akibat kelelahannya menghadapi segala ketidaksempurnaan dalam hidupnya, menganggap jadi jahat adalah cara alternatif untuk “mempecundangi” segala masalah yang membersamainya selama ini

Agar kemudian kita terhindar dari rumus-rumus penyelesaian masalah kehidupan ala Joker, yang lebih memilih jahat agar memicu banyak perhatian dan simpati bagi orang, sekalipun kenyataan dalam ceritanya yang simpati hanyalah orang-orang yang berada pada strata sosial yang marjinal dan penuh kriminal. Kita harus mempunyai pondasi keyakinan yang kuat yakni agama (Islam) sebagai instrumen kita menjalani kehidupan. Islam memperkenalkan kepada kita melalui Al-Quran dan Hadits, agar senantiasa menjalani kehidupan secara inovatif dan tidak patah semangat. Semisal di antara manusia sekeliling kita, banyak kita jumpai manusia yang melakukan tindakan pencurian, pembunuhan atas dasar motif persaingan, dan segala ketimpangan yang terjadi di dunia ini. Salah satu variabelnya adalah faktor kelemahan jiwa seorang manusia yang tidak mampu menyugesti diri dan percaya diri bahwa di dalam dirinya terdapat kemampuan yang membuatnya mampu melawan kerasnya kehidupan dunia.