Orang Ketiga

Orang ketiga memang selalu diidentikkan dengan perusak relationship. Stigma yang lahir bahwa orang ketiga sangat berbahaya jika hadir di tengah kehidupan terlebih hadir di tengah mereka yang sedang kasmaran.

Sebut saja iblis yang sedang menyelinap di kedua anak muda yang sedang pacaran di sudut tembok yang gelap itu. Kehadirannya tak terasa, tak di-indrai, namun mampu mempengaruhi gerak gerik dengan kicauan simponi merdu akan bisikannya.

Seiring dengan dunia yang semakin tua, begitupun negeriku Indonesia, 74 tahun lamanya merdeka namun masih seperti terjajah, era digitalisasi dipaksa moderen oleh arus kapitalisasi kata Kuntowijoyo. Perkembangan zaman telah mengeksploitasi dan mengikis proses komunikasi verbal yang selama ini masih kental dalam kehidupan sosial, banyaknya hand made yang hadir merasuki kehidupan manusia, merusak pori-pori emosional interaksi yang dahulu ditemukan oleh Antonio graham Bell.

Orang ketiga dengan berbagai rayuan dan tipu dayanya telah mampu menepis hubungan harmonis makhluk sosial, dahulu ketika manusia belum mengenalnya (orang ketiga) fokus pada komunikasi sangat terbangun, masih nampak para tetangga asyik menggibah yang dipelopori ibu-ibu rumah tangga, anak kecil bermain kelereng, layangan di pinggir sawah, mengaji di surau dan petak umpet nampak nihil di era digitalisasi hari ini.

Tak bisa dipungkiri, bagi mereka umat beragamapun merasakan hal demikian. Dahulu manusia melakukan ritus ibadah di masjid, vihara, gereja , namun semenjak era digitalisasi semua itu didiseminasi keruang virtual. Seolah ritus-ritus ibadah pun terkikiskan tipu daya orang ketiga, begitulah kata Yasraf Amir Pilliang.

Orang ketiga ini menepis semula keharmonisan yang ada, bahkan di sudut-sudut warkop kita sangat minim mendapati cantik (cangkir intelektual) yang berbisik. Lebih hening, dan orang ketiga itu senang di jamahi walau dengan jemari. Teriakan ayok tembak, sial , bodoh , Noob , bahkan sampai senyam senyum sendiri terekspresikan dari raut wajah mereka yang terjamah oleh orang ketiga.

Hadirnya telah merusak hubungan emosional, ruang-ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat pergolakan pemikiran serta adu ide dan gagasan nampak hening bagai bioskop yang sedang ditonton oleh manusia bisu. Rumah orang ketiga nampaknya lebih nyaman nan ramai tak terhingga.. Ribuan coretan nampak dari ketikan tangan mahluk yang asyik bergumul dengan orang ketiga, kadang-kadang ia juga punya selingkuhan lain kalau bukan WA, Instagram, Facebook, Twitter, Telegram, Messanger bahkan Mobile Legend dan sejenisnya.

Begitulah hubungan yang telah dirusak oleh orang ketiga, arus digitalisasi telah menepis pola komunikasi manusia, bahkan sering kita jumpai ketika kita mengobrol dengan orang lain, malah mereka asyik bersenggama dengan orang ketiga itu, dan dampak dari semua itu yah kecemburuan yang berlebih, bahkan kerancuan mengolah informasi.

Era digitalisasi 4.0 hari ini harus mampu dikendalikan dengan bijak bagi mereka yang selalu meliterasikan hubungan emosional dalam kehidupan. Hadirnya orang ketiga dalam kehidupan bukan karena ia mampu mempengaruhi kita untuk berselingkuh denganya, tetapi ruang bebas yang kita beri begitu luas sehingga kesempatan untuk merusak dan merasuk dalam hidup begitu lapang.

Tentunya taken of granted informasi dari orang ketiga perlu dipilah, iblis dengan segala tipu dayanya telah menjelma nama menjadi hoax sehingga hari ini umat manusia mudah terkecoh dan di rusak olehnya.

Waspadalah