Tragedi Oktramuliana (2)

Dangdut

Pagi ini membuatku terasa malas. Kepala terasa berat untuk diangkat oleh tubuh ini, meski hanya satu sentimeter saja. Mata pun enggan memandang lebih lama. Diluar kudengar teriakan penjual nasi kuning yang tiap pagi datang di depan kosku. Bunyi lonceng sepedanya membuat suasana pagi yang dikuasai kemalasanku direbut keberisikannya. Ingin rasanya kumarah lalu melemparkan semua nasi kuning jualannya.

“Kuning, kuning… Nasi kuning. Kuning, kuning… Nasi kuning. Nasi kuning, oeeee…” teriaknya berulang-ulang, padahal seisi rumah kos telah mendengarnya.

Kuberdiri hendak mengusirnya. Kaki kuayunkan secepat mungkin menuruni tempat tidur. Tiba-tiba novel Paolo Coelho, “Sang Alkemis” yang telah mengantar tidurku semalam terjatuh ke lantai. Beberapa lembar foto yang terselip pada lembarannya, ikut berserakan di lantai. Langkahku terhenti dan memungutnya kembali.

Cuma foto perempuan. Perempuan yang kerap melafalkan kalimat, “tidak ada yang merindukan kita selain kematian,” ke telingaku. Bagiku, dia telah salah. Sebab, Aku merindukannya.

Aku selalu yakin dia perempuan hebat. Mampu mengisi hidupku dengan irisan-irisan rasa sayang. Merasakan surga lebih dekat saat senyumnya menyungging di lintasan khayalku. Pandangannya mampu menyalakan tungku dalam hati yang apinya merah kekuning-kuningan. Panasnya, cukup untuk menghanguskan hasrat. Karenanya, terkadang aku tertawa cekikitan seorang diri. Setelah itu, meyumpahi kebodohan sendiri, karena tidak mampu jujur mengutarakan rasa ini, padanya.

Seorang mengetuk pintu kamarku, segera kubuka rupanya Imnyung. “Hey, kenapa tidak ke kampus?” tanyanya saat mulai melihat batang hidungku. Aku hanya berjalan menuju posisi semula, lalu berkata, “pertama, malas. kedua, aku tidak tahu. ketiga …..” belum selesai dia langsung memotong.

“Belum dapat kiriman” Imnyung berusaha menebak. Aku mengiyakan segera, meski tebakannya salah. Aku tidak mau, Imnyung tahu semua kelemasan pagi ini, hanya karena perempuan. Wibawaku sebagai aktivitas, akan rontok di matanya. Pertama, aku sama sekali tak ingin disebut sebagai aktivis mati kiri. Kedua, soal perempuan itu, kini telah menjadi pacarnya, ibarat bidak catur dia maju selangkah sementara aku hanya kuda yang salah langkah.

“Kenapa mukamu kusut? Mana lagunya, biasanya dangdutan?” Imnyung kembali berkomentar.

“Ada, tetapi aku malas dengar lagu dangdut hari ini,” kataku. Galau begini, mana mungkin dengar lagu dangdut.

“Loh… Biasanya tidak berkata seperti itu?”

“Terus apa?”

“Dangdut itu kedalaman bung, bukan musiknya yang penting, tapi kedalamannya. Dengan kedalaman maknanya yang menyentuh rasa, dengan kedalaman maknanya yang menggerakkan jiwa bukan sekadar fisik, bung!” katanya sambil menirukan gayaku. Kampret betul ini anak.

Aku merasa diledek. Tapi betul juga, apa yang dikatakannya adalah apa yang telah aku katakan padanya. Kini kalimat-kalimat itu telah menjadi bomerang buat diriku.

Bagiku, lagu dangdut bukan hanya soal kekayaan musik bangsa. Tapi juga menawarkan musik yang syahdu tetapi menghadirkan makna yang begitu dalam. Maka tak heran ketika mendengar lagu dangdut kita bisa terdiam, lalu termenung, mengeluarkan cairan pada bagian mata, lalu berbaring dan merasakan demam selama berhari-hari. Kata orang itu penyakit malarindu. Perpaduan antara demam malaria dan rindu. Jika demikian, tentu tidak cocok untuk aku saat ini. Sangat tidak cocok.

Lagu dangdut juga terkadang membuat kita bergoyang-goyang dengan sendirinya, mulanya diawali dengan ibu jari, lalu tangan memukul-mukul meja, tak lama kaki pun mulai bergoyang diikuti kepala, tanpa terasa badan pun berdiri dan mengikuti irama sampai lupa apa yang ada disekelilingnya.

Jika demikian, lagu dangdut cocok untuk melupakan Ana! Tetapi, mana mungkin aku melupakannya, bila Imnyung dihadapanku?

Ah, perempuan ikan teri itu memang selalu memunculkan polemik.

“Oh iya, apa agenda hari?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Mendampingi pendatang yang akan menyusuri lorong dan relung kota Makassar. Menemukan dan memilah persoalan-persoalan mendasar rakyat miskin kota, yang kemudian bisa diangkat dalam diskusi apik di warung kopi,” jelasnya.

“Pendatang dari mana, nyung” tanyaku heran sekaligus penasaran.

“Perempuan desa istimewa yang menimba ilmu di kota,” katanya sambil tertawa.

“Anjritt… kalau agenda pacaran, tak perlu bertele-tele seperti itu.”

Sebelumnya I Selanjutnya