Puncak Ikhtiar

Seperti kisah pewayangan Rama dan Sinta

Atau sejauh kegilaan Qais kepada Laila;

Mereka punya cerita yang ditulis sendiri

Namun tak pernah mampu menjadi “halal”

Ada ruang-ruang yang membatasi hawa nafsu

Ada jeda ketika indera merekam kejadian itu;

Pengembara yang memetik mahkota mawar merah

Pada sudut taman kerinduan-kerinduan surgawi

Jemari menjentik kala teringat situasinya

Sejumput kata yang kau ucapkan senja itu

Kau rapalkan begitu jelas tanpa keraguan;

Ditandai bias cahaya yang menyentuh kerudungmu

Seketika aku terdiam berusaha menelaah ucapanmu

Dari setiap kata yang keluar dari bibir mungilmu

Raut wajah yang kau tampakkan memberi keyakinan;

Layaknya penguatan langit atas kehadiran senja sore ini

bagaimana perasaanmu terhadapku?

apakah kita mampu mengakhiri yang tak sempat Qais dan laila selesaikan?

Rasa-rasanya waktu terhenti seketika

Sembari memberi ruang dalam perenungan

Menguliti setiap aksara menentukan makna

Lamat-lamat terdengar bisikan dari hati kecil

Mencari pembenaran atas jawaban apa yang aku berikan

Alam yang tetiba memberi kekuatan memetik mahkota

-tunggulah aku di rumahmu, sesungguhnya aku ingin hubungan ini “halal”

-seperti kisah sayyidina Ali dan Fatimah Az-zahra