Narasi Menjelaskan Narasi

Menulis itu menyehatkan. Sebab kita butuh pikiran ekstra untuk merampungkannya. Menurut pakar, berpikir dapat membakar kalori. Bisa disarankan, bagi yang ingin diet cobalah menulis di kolong.

Sebagai wadah baru bagi penulis yang ingin berekspresi, kolong terbuka bagi semua kalangan. Genre tulisan pun beragam, serta masing-masing berimplikasi pada kesehatan anda. Bagi yang tekanan darah tinggi, hindari membaca tulisan yang pembahasan “tingkat dewa”, ditakutkan stroke kembali menjangkiti. Bagi yang sedang patah hati, hindari membaca penggalan sajak, ditakutkan kehilangan hati.

Sepanjang naskah-naskah yang lolos menjadi postingan oleh admin, ada dua narasi yang ditulis oleh penulis yang berbeda, mempunyai ciri khas masing-masing. Keduanya menukil adanya kelupaan dalam diri kita, yang ditandai dengan ketergantungan media sosial. Kita lupa menjadi manusia yang menghirup nafas, lantaran merasa separuh nafas telah hilang, jika batere handphone sisa separuh. Kita juga kadang lupa punya teman ngobrol, jika rekan chatingan lambat merespon pesan singkat. Parahnya, kita kerap lupa telah makan siang, setelah melihat promo pizza pada salahsatu platform aplikasi. Upss…. gagal diet lagi…

Narasi pertama, yang saya maksud, ditulis oleh Andi Fiqri dengan judul Life Without Social Media. Membacanya, saya teringat ulasan Keraf, bahwa narasi adalah bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu.

Si penulis bermain dengan diksi-diksi ringan yang kerap ditemukan dalam keseharian. Menggunakan bahasa tutur. Bagi saya, menulis sederhananya seperti itu. Seperti berbicara kepada orang tua, seperti curhat dengan pacar, seperti bersenda gurau dengan teman. Biarlah yang terpikirkan itu mengalir tanpa beban, agar pesan dan amanah yang ingin disampaikan tidak semakin ngaur lantaran kita terjebak pada pemilihan diksi yang yang dianggap keren.

“Maka jangan hanya terkenal di dunia maya, namun terkenal jugalah di dunia nyata. Tak ada salahnya kita memanfaatkan media sosial namun jangan sampai menghilangkan hakikat kita sebagai manusia yaitu makhluk sosial bukan makhluk media sosial.”

Pesan dalam narasi di atas setidaknya memberikan sugesti kepada pembaca untuk segera mengakhiri kelupaannya. Jika meminjam istilah Keraf, inilah narasi Sugestif.

Dengan membaca narasi yang dibangun si penulis, kita tidak perlu berlama-lama untuk mengucapkan kata “setuju” terhadap pesan dari narasi yang dibangunnya.

Narasi kedua datang dari Azka dengan karya Doaku Sebatas Kouta. Subtansi yang ingin disampaikan kurang lebih sama, mengingatkan kita semua akan ketergantungan terhadap media sosial dan perangkatnya.

Dengan mempermainkan diksi-diksi yang mempunyai kesamaan bunyi, perulangan kata yang sebenarnya memiliki kesamaan makna, kenginan sederhana si penulis yakni memberikan penegasan pesan dan amanah dari narasi yang dibangunnya.

Jika narasi harus dibangun dengan diksi yang harus sedemikian rupa, maka menulis bisa saja menjadi hal membosankan bagi yang tak menjiwainya. Beruntung, Azka menjiwai narasi yang dibangunnya. Pertaruhannya adalah, tak semua pembaca tetiba mengerti apa makna yang sedang dibacanya. Dibutuhkan penelaan agar subtansi utuh dari narasi yang dimaksud bisa tergambar di benak pembaca.

Yah, kata Keraf inilah narasi ekspositoris. Narasi yang bertujuan menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Memang, narasi ini untuk memperluas pengetahuan para pembaca dengan berusaha menyampaikan informasi suatu peristiwa yang berlangsung.

“Fenomena manusia di era kekinian tak bisa terlepas dari kuota paketan internet, hidup hambar terasa jika handphone tak punya paketan, dan gelisah tak karuan ketika masuk sms peringatan!”

Begitulah Azka menukil pengamatannya. Dan mencoba mengajak kita berpikir sejenak, lalu kemudian berkata “ya, aku setuju”.

Begitulah kira-kira menulis, membuat pembaca lebih dekat bersama kita atau berdiskusi dengannya. Kamu pilih yang mana? Terbitkan di kolong, ya…..