Uang Panai’: antara Budaya dan Syariat

Berawal dari suatu kegiatan KKN yang mempertemukanku dengan 574 mahasiswa se-Indonesia yang datang dengan niat mengabdi untuk negeri di tanah kelahiran Ibu Presiden pertama yaitu “Bumi Rafflesia”. Sebuah pengabdian sekaligus ajang memperkenalkan dan bertukar budaya, bahasa, kuliner, adat istiadat dan kebiasaan lainnya yang menjadi ciri khas daerah masing-masing. Dari kegiatan inilah saya baru sadar betapa uang panai dikenal bukan hanya di daerah Sulawesi Selatan saja melainkan juga di daerah Jakarta, Bengkulu, Malang, Yogyakarta dan juga kota-kota besar lainnya.

Budaya merupakan suatu pola hidup yang dimiliki oleh masyarakat. Pada hakikatnya budaya memiliki nilai-nilai yang senantiasa diwariskan secara turun temurun seiring dengan proses perkembangan zaman. Pelaksanaan nilai-nilai budaya adalah bukti bahwa ia memiliki eksistensi dalam kehidupan bermasyarakat, juga merupakan identitas dan harga diri yang dimiliki oleh sebuah daerah. Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis-Makassar merupakan salah satu daerah yang masih kental akan budaya yang diwariskan oleh leluhurnya.

Dalam kompleksitas budaya pernikahan pada masyarakat Bugis-Makassar merupakan nilai-nilai yang tidak bisa lepas untuk dipertimbangkan dalam pernikahan, seperti status sosial, ekonomi, dan nilai-nilai budaya dari masing-masing. Suatu hal yang menjadi ciri khas dalam pernikahan masyarakat setempat adalah Uang Pannai atau Dui Pappenre. Adapun beberapa rangkaian adat bugis yaitu mammanu-manu, madduta, mappetuada, mappasili, mappanre temme, mappaci, akad nikah, mappasikarawa, mapparola.

Sebelum melangkah ke pembahasan uang panai’ ada sebuah tradisi dulu yang dilewati yaitu mammanu’-manu’. Mammanu’-manu’ merupakan tahap awal dalam persiapan pernikahan adat Bugis-Makassar. Zaman dahulu, mammanu’-manu’ merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki untuk menyelidiki status dari gadis yang hendak dipinang. Kegiatan tersebut dilakukan dengan maksud untuk memastikan apakah gadis tersebut sudah terikat atau belum. Selain itu juga mempertimbangkan sang gadis yang hendak dipinangnya dari segi bibit, bebet, dan bobotnya. Biasanya mammanu’-manu’ diwakili oleh perempuan dari keluarga laki-laki yang dianggap mampu untuk melakukan hal tersebut. Jika belum terikat dan sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh mempelai laki-laki, maka dilanjutkan oleh madduta untuk menyampaikan lamarannya. Setelah lamaran diterima oleh pihak keluarga yang membicarakan mengenai tanggal pernikahan, mahar dan lain-lain. Orang yang ditunjuk harus orang yang mampu berbicara dan bernegosiasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kesepakatan bisa tercapai dengan baik. Di zaman modern sekaligus milenial ini, tradisi mammanu’-manu’, madduta’ dan pembicaraan lanjutan masih dilakukan oleh segelintir masyarakat tetapi dengan lebih ringkas tentunya dengan pertimbangan menghemat waktu, biaya dan tenaga.

Uang Panai’ adalah sebuah budaya yang ketika mereka melihat di sosial media dan mendengar ceritanya dari mulut ke mulut membuatnya sedikit menyerah dan angkat tangan untuk mendekati atau mempersunting “anadara ogi” (gadis bugis) dikarenakan persoalan materi/uang yang begitu tinggi yang sangat berbeda dari daerah lain. Dari sebuah referensi yang saya baca mengapa uang panai’ sangat tinggi itu berawal dari zaman penjajahan. Di mana orang Belanda menikahi seorang perempuan Bugis-Makassar yang berasal dari keturunan bangsawan, kemudian setelah itu ia meninggalkan istrinya dan menikah dengan perempuan lain. Atas dasar itulah para bangsawan geram dengan perilaku orang Belanda tersebut, mereka menganggap bahwa anak perempuan mereka tidak dihargai sama sekali karena begitu mudahnya dinikahi lalu ditinggalkan begitu saja seakan-akan tidak meninggalkan beban tersendiri baik itu beban moral maupun beban materil. Kejadian inipun terus saja melekat di benak para orang tua yang memiliki anak gadis dan hendak dinikahkannya bahkan sudah berpindah fungsi menjadi ajang gengsi.

Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa Uang Panai’ sangatlah memberatkan terutama mereka yang berasal bukan dari suku Bugis itu sendiri, mengingat besarnya nilai yang harus dibayarkan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita sebagai sebuah penghargaan dan bentuk penghormatan terhadap norma dan strata sosial. Namun bagi pria dari suku Bugis-Makassar yang hendak memenuhi jumlah uang panai’ dipandang sebagai budaya siri’. Bagi wanita, seorang pria yang benar-benar mencintainya tidak cukup dengan hanya ucapan saja tetapi harus berjuang untuk memenuhi besaran jumlah uang panai’ sebagai simbol ketulusan dan kesungguhan untuk meminangnya.

Dari budaya mahalnya uang panai’ muncul sebuah fenomena yang sering terjadi ketika seorang calon mempelai pria tidak sanggup memenuhi besaran uang panai’ atau salah satu di antara keluarga tidak menyetujui hubungan keduanya atau tidak mendapatkan restu entah itu ditinjau dari pertimbangan agama, strata sosial, ras ataupun alasan lainnya lantas mereka akan memutuskan untuk Silariang (Kawin Lari)

Pengambilan keputusan uang panai’ sangat dipengaruhi oleh keluarga mempelai wanita ketika sang mempelai pria hendak melamar. Saat itulah tawar menawar/negosiasi terjadi antara kedua keluarga calon mempelai. Uang puluhan juta bahkan ratusan dan ada pula hingga miliaran juta sudah menjadi angka nominal yang sifatnya lumrah/wajar, apalagi ketika calon mempelai wanita yang akan dipinangnya berasal dari keturunan darah biru (karaeng, puang, opu, dll), memiliki riwayat keluarga baik-baik, memiliki tingkat pendidikan yang bisa dibanggakan dan ditunjang dengan masa depan yang cukup cerah karena si gadis memiliki beberapa skill, maka semakin tinggi pula citra diri keluarga mempelai di mata masyarakat.

Itulah realitas yang terjadi saat ini. Jika jumlah uang panai’ yang diminta mampu dipenuhi oleh calon mempelai pria itu dianggap sebagai bentuk prestise (penghargaan) bagi sang pihak perempuan. Penghargaan disini yang dimaksudkan berupa pemberian pesta yang megah melalui uang panai’ tersebut. Karena nantinya sebagaian besar uang panai’ tersebut akan digunakan untuk membiayai pesta pernikahan mulai dari sebulan sebelum pernikahan sampai di H+1 pernikahan, dari biaya prawedding, sewa gedung/terowongan, sewa jasa make-up terbaik, gaun pengantin, sewa photografer, pembuatan undangan, baju seragam, musik iringan, hingga jamuan makanan untuk para tamu undangan yang tidak boleh luput dari perhatian.

Budaya Bugis-Makassar sepenuhnya tidak memberikan dampak negatif seperti yang sedang ramai dibicarakan di daerah luar. Jika kita mencoba melihat dari sisi positifnya maka bisa kita simpulkan bahwa besaran nilai uang panai’ yang dibebankan kepada calon mempelai pria, secara tidak langsung akan menjadi sebuah motivasi untuk terus berjuang mendapatkan sang pujaan hatinya tempat di mana dirinya telah melabuhkan cintanya dan sebagai bentuk ujian baginya agar tetap menjunjung tinggi budaya siri’ dalam keluarga.

Akan tetapi uang panai’ yang dikenal sekarang yang dulunya hanya sebatas untuk prestise sekarang justru dijadikan sebagai ajang gengsi untuk menentukan siapa yang paling di atas, paling megah pernikahannya dan terkesan ria. Tak jarang muncul pernikahan yang viral hanya karena persoalan “uang panai” yang dianggap di atas rata-rata misalnya hingga menghabiskan biaya miliyaran rupiah, mengundang bintang tamu artis-artis ternama dan berbagai sensasi yang lainnya. Bukan cuma diproses pernikahannya yang menyedot perhatian tetapi juga pernikahan yang baru “seumur jagung” harus diakhiri entah karena alasan apa.

Kita memang umat berbudaya tetapi tidak boleh mengenyampingkan pandangan dari sudut agama kita sendiri. Mahar dalam Islam sudah diatur dengan sangat baik, bahkan pernikahan yang baik adalah pernikahan yang mudah maharnya. Keberkahan ada pada kemudahan dan kelapangan dada, Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda berkah perempuan adalah mudah dilamar, murah maharnya, dan murah rahimnya.” (HR.Ahmad)

Dari budaya uang panai’ lah salah satu cara Sulawesi pada umumnya dan Sulawesi Selatan pada khususnya dapat dengan mudah dikenal dan diangkat menjadi sebuah topik pembahasan bagi mereka yang ingin memulai perbincangan dengan anadara ogi (gadis bugis) dan kallolo ogi (laki-laki bugis). Sebagai seorang generasi muda yang tidak seharusnya mengikuti apa yang tidak diketahui sebab akibatnya, asal muasalnya dan mempunyai rasionalisasi akan segala gerak langkahnya maka sudah seharusnya mampu menetralisir segala budaya apa yang ada yang tidak sesuai dengan syariat.