Cinta dan Tafsir Terhadapnya

Mungkin ini pertama kalinya saya membuat essai spesifik soal “cinta”. Tapi itu tidak berarti saya tak pernah berefleksi tentang cinta, karena pada dasarnya mungkin tak satu pun orang yang pernah memijakkan telapak kakinya di dunia, yang tidak pernah dibuat sibuk oleh “cinta”. Bagi saya dan mungkin bagi semua orang perkara “cinta” adalah perkara yang sangat penting, bahkan menurut Erich Fromm “mereka (orang-orang) lapar akan hal itu (cinta), mereka menonton film yang tidak terhitung jumlahnya tentang kisah cinta yang berakhir bahagia dan tidak bahagia, mereka mendengarkan ratusan lagu ‘murahan’ tentang cinta – namun nyaris tidak ada orang yang berpikir ada sesuatu yang perlu dipelajari tentang cinta”.

Bagi saya, yang menarik dari pernyataan Erich Fromm di atas adalah “ada sesuatu yang perlu dipelajari tentang cinta”. Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan dalam benak saya “apa yang perlu dipelajari dari cinta?”, “apakah cinta adalah sesuatu yang kurang lebih naluriah, sehingga kita pada dasarnya tak perlu belajar ataupun mempelajari apapun perihal cinta?”, “bukankah cinta adalah pegalaman pra-reflektif eksistensial, sehingga mempelajari cinta berarti berjarak darinya, sehingga membuat cinta yang kita pelajari semakin tidak otentik?”, dan masih banyak tanya soal cinta lainnya.

Dalam buku The Art of Loving (1956), bagi Erich Fromm cinta adalah seni. Jika cinta adalah seni maka cinta mempersyaratkan pengetahuan dan usaha. Sebagaimana kebijaksanaan (wisdom), yang terpenting darinya adalah ikhtiar tanpa pamrih dan tiada henti dalam merengkuhnya, bukan klaim atas apakah kita telah menjadi bijaksana atau tidak? Maka begitu pula dengan cinta, yang terpenting darinya adalah usaha (yang diperlengkapi pengetahuan) dalam “memeluknya”. Cinta sebagaimana kebijaksanaan, bukanlah barang jadi sekali pakai, bukanlah produk sekali jadi.

Namun zaman kita, tidak memandang cinta sebagai usaha dan pengetahuan. Dan Erich Fromm menyebut ada beberapa premis-premis (soal cinta) kebudayaan kontemporer yang menguatkan dugaan tersebut. Pertama, kebanyakan orang, soal utama dan pertama dari cinta, adalah soal “dicintai” daripada “mencintai”. Jika kita mencoba melakukan investigasi sederhana terhadap orang-orang di sekeliling kita (bahkan mungkin terhadap diri kita), maka untuk menjadi yang “dicintai” ada beberapa jalan yang sering ditempuh. Ada yang berusaha untuk “memulung” semua predikat yang berkaitan dengan terma “sukses”, berusaha untuk menjadi kaya dan berkuasa sedemikian rupa. Sehingga kerja bukanlah lagi soal “memberi manfaat” tetapi sekadar soal “melahap manfaat”, kerja bukanlah lagi soal “realisasi keberadaan” sebagaimana kata Marx tetapi kerja telah menjadi “eksploitasi keberadaan”.

Untuk menjadi yang “dicintai”, ada yang berusaha membuat dirinya agar memiliki segala hal yang bisa meningkatkan daya tarik seksual (sex appeal). Sebisa mungkin (walaupun dengan penghasilan seadanya) merawat tubuh, mengupdate pakaian dan berusahan mengikuti perkembangan fashion yang terbaru. Adapula yang berusaha agar memiliki tata krama bicara, bersikap dan bergaul yang menyenangkan, sopan, tidak mengganggu serta suka melakukan aktivitas karitatif. Dengan kata lain agar menjadi diri yang “dicintai”, kita seringkali menggabungkan dua hal dalam keseharian kita, yaitu “menjadi populer” dan “mempunyai daya tarik seksual”.

Premis Kedua, adalah, kita seringkali mengandaikan cinta sekedar sebagai objek, Erich Fromm menyebutnya dengan prinsip “mencintai adalah mudah, namun menemukan objek yang tepat untuk dicintai itu sulit”. Hal ini sangat terkait dengan “budaya etalase” (baik etalase dalam dunia nyata maupun dunia maya) yang merengsek masuk dalam segala lini kehidupan kita. Kebahagiaan kita seringkali peroleh dari sensasi melihat-lihat “etalase”, dan berusaha sebisa mungkin untuk membeli barang-barang yang dipajang. Nah begitu pula pandangan kita saat ini soal cinta, kita sering beranggapan bahwa mencintai adalah perihal mudah, semudah kita membeli (angsuran ataupun tunai) barang-barang, dan kesulitan yang muncul dari cinta adalah kesulitan yang kurang lebih sama saat kita berusaha menentukan barang mana yang akan kita pilih lalu beli dari sekian banyak deretan etalase. Mungkin bagi seorang laki-laki (ataupun perempuan), “wanita yang menarik” (ataupun “laki-laki yang menarik”) adalah hadiah ataupun produk yang mereka damba-dambakan, di tengah etalase kebudayaan yang memajang sekian banyak wanita (laki-laki), apakah etalase itu berupa ruang-ruang publik ataupun di beranda-beranda media sosial. “…menarik biasanya paket menyenangkan yang berisi sifat-sifat populer dan laku di pasaran kepribadian. Yang membuat seseorang menarik terutama bergantung pada mode terkini, baik secara fisik maupun mental”, kata Erich Fromm.

“Cinta etalase” pada dasarnya bukan hanya mengkomodifikasi cinta, tapi juga sekaligus mengkomodifikasi manusia itu sendiri. Cinta sekadar menjadi soal transaksi belaka (sebagaimana proses politik kita saat ini), cinta tereduksi menjadi ritual tawar menawar sahaja. Saya yang ingin “dicintaI” sebisa mungkin “se-menarik” mungkin, agar memiliki daya tawar di hadapan diri-diri “menarik” yang lain. Baik yang ingin “dicintai” ataupun objek yang kita harap “mencintai” kita, menjadi sekadar komoditas. Dan inilah yang selanjutnya menjadi dasar dari premis ketiga, bahwa kita seringkali kebingungan membedakan dan memprioritaskan antara pengalaman “jatuh cinta” (falling in love) dengan kondisi permanen “berada/bertahan dalam cinta” (standing in love).

Pengalaman jatuh cinta memang menabjukkan, tatkala dua orang yang awalnya asing satu sama lain, tiba-tiba meruntuhkan tembok di antara mereka, lalu merasa dekat dan satu. Momen kesatuan dari yang asing adalah salah satu momen hidup yang paling menggembirakan dan menggairahkan, apalagi jika momen sekejap tersebut dibumbui dengan ketertarikan serta hubungan seksual. Cinta yang menghidup-hidupi dirinya hanya dari ingatan akan momen singkat ini akan cepat menemui ajalnya, “keintiman mereka semakin kehilangan karakternya yang menakjubkan, sampai munculnya pertentangan, kekecewaan, dan kebosanan…yang mengakhiri segala yang tersisa dari kegairahan awal”. Hal ini sejalan dengan argumen Stephen Palmquist dalam buku Pohon Filsafat, yang dengan nada Kantiannya mengatakan bahwa cinta bukan hanya soal penyatuan (karena itu hanyalah awal), tapi yang terpenting adalah saling menyempurnakannya dari dua pihak yang saling mencinta. Dengan kata lain cinta sebagaimana sejarah adalah perihal yang dialektis, akan ada momen-momen affirmasi dan negasi yang bergelut, mengasosiasikan cinta sebagai peristiwa romantis belaka adalah hal yang menyesatkan.

Lalu apa selanjutnya? Bagi saya, agar cinta tak hanya menjadi momen kaku belaka, agar cinta tak hanya menjadi momen “orgasme sesaat” belaka, maka kita perlu menafsirnya. Kenapa kita perlu menafsir cinta? Karena cinta adalah peristiwa dan proses yang dialektis, dan hanya bisa bermakna bagi kita, jika kita berusaha menafsirnya. “Makna”, mungkin itulah yang hilang dari premis-premis cinta kita, karena kita terlanjur beranggapan bahwa cinta adalah sekadar tukar-menukar manfaat. Jika bagi Heidegger Dasein (manusia) adalah pendamba makna, maka saya beranggapan bahwa “manusia sebagai pendamba makna” paralel dengan “manusia sebagai pendamba cinta”.

“Cinta” bukanlah salah satu bagian dari hidup kita, tapi hidup itu sendiri (lalu bagaimana dengan iman, harapan dan momen-momen hidup lainnya? Ini hanya menjadi persoalan jika kita memandang hidup secara matematis). Maka menafsir cinta pada dasarnya adalah menafsir hidup itu sendiri. Bagi Heidegger manusia selalu terbenam dalam dunia makna, dan menjadi manusia dan menafsir adalah sama. Lalu bagaimana cara menafsir cinta? Sederhananya kita pada dasarnya, perlu untuk “duduk diam” sejenak, “mengambil jarak” sejenak dari pengalaman-pengalaman eksistensial seperti “cinta”, “kematian”, “rindu” dan semacamnya, lalu mempertanyakan, memberikan catatan-catatan kaki secara batin. Lalu soal makna, bukanlah soal hasil, tapi soal pergumulan dan pergulatan dengan “diri” dan “dunia”. Makna dan kebenaran hanya bisa kita undang untuk datang menghadiri jamuan makan malam dengan refleksi dan kontemplasi, dan semoga keduanya rela hati memenuhi undangan.