Tentang Dia, Allah

Di antara orang-orang yang lantang menyampaikan kebenaran. Maka akan selalu ada orang-orang yang hadir menyampaikan pembenaran-pembenaran. Kita tidak sedang diperangi agar pindah dari Islam. Kita sedang diperangi agar kulitnya saja yang Islami, tetapi pemikirannya menolak Islam” (@Benefiko)

Allah atau Tuhan? Kadang kerap kali aku menggunakan sebutan Tuhan bagi Allah. Kebanyakan dari mereka, mengeluh atas sebutan itu. Mereka bilang Islam menggunakan kata Allah bukan Tuhan. Namun, aku masih berfikir mengenai itu semua. Apa bedanya sebutan Tuhan dan Allah??? Toh itu kan hanya persoalan penyebutan saja. Bagiku Tuhan hanya satu, dia tidak diciptakan tetapi mampu menciptakan, Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tapi tak pilih kasih apalagi pilih sayang. Dialah Allah yang selalu disebut oleh para kaum Islam. Pencipta langit dan bumi (kosmos) dengan susunan tata surya dan segala sesuatu yang ada di dalamnya berada dalam genggamannya dan berjalan dengan begitu apiknya. Lalu untuk apa memperselisihkan hanya dalam rana sebutan??? Bukankah semuanya ada pada hatimu??? Bagaimana jika aku menyebut Allah dari mulutku namun hatiku menyebut Tuhan yang lain??? Hehehe. Tapi demi meminimalisir segala keluhan dan kritikan itu aku mengganti sebutan Tuhan menjadi Allah swt.

Kesempatan hidup yang Allah berikan telah mengajariku banyak hal. Pahit, manis, asam, getir hingga hambar sekalipun telah aku rasakan hingga detik ini. Teriakan tangis, keluhan, galau, kecewa, terharu, gundah gulana dan rasa apapun itu telah melebur menjadi satu hingga berganti menjadi gembira, suka cita, riang tawa hingga menangis bahagia. Kok bisa yah saya sampai di titik sejauh ini??? Bagaimana bisa yah aku melewatinya??? Apa yah yang akan terjadi nanti ke depannya??? hehehe pertanyaan yang menghampiri silih berganti dan rasanya tidak butuh untuk kujawab dengan teoriku yang kadang hanya sebatas mengharapkan prestise ataupun nanti hanya dianggap berapologi semata, tapi semua itu hanya perlu butuh pembuktian.

Segalanya silih berganti, layaknya dedaunan yang gugur diiringi dengan tumbuhnya daun-daun kecil penerus/pengganti ras tumbuhan. Kematian berganti dengan kelahiran yang baru, begitu juga kepergian seseorang akan tergantikan posisinya dengan seseorang yang baru…. Yahhhh itulah hukum alam. Lalu mengapa Allah menciptakan seluruhnya dengan penuh perencanaan??? Ya tentu saja agar tercipta suatu keseimbangan. Tak ada cacat sedikitpun atas apa yang telah dan akan diciptakanNya. Pernahkah engkau melihat lubang pada langit? Atau pernahkah kamu melihat matahari terbit dari barat? Semuanya masih berjalan dengan begitu apiknya mengikuti kehendak Allah swt. Jadi bisa dikatakan apa yang selama ini kita takuti itu belum terjadi. Namun tentu saja itu akan terjadi, semakin dekat dan dekat, itulah hari akhir.

Berbicara tentang hari akhir, percayalah kita semua akan kedatangan hari itu!!! Siap tidak siap, mau tidak mau kita semua akan mendapatinya dan akan kembali ke tempat sebaik-baiknya untuk kembali yaitu bertemu dengan Tuhan kita semua. Hari itu di mana langit runtuh, bumi terbelah, gunung-gunung berjalan hingga matahari hanya sejengkal dari kepala kita. Lalu bekal apa yang akan kita bawa dari perantauan ini untuk kembali ke kampung halaman akhirat kelak??? Hanya dua hal, dosa atau pahala. Ibarat berdagang untung atau rugi??? Kita percaya ada hari pembalasan, hari di mana semuanya akan dipertanggungjawabkan. Tak ada yang benar-benar siap menerima azab dari Allah swt. Ya tak ada satu pun, namun mengapa kita masih terlalu sulit untuk benar-benar mengabdi kepadaNya??? Apakah ini bawaan sejak lahir, kutukan atau penyakit kronis yang sejatinya sudah mendarah daging??? Aku tertunduk mengingat semua apa yang telah terjadi di masa lalu, sekalipun air mataku habis tertumpah tak akan cukup menghapus seluruh dosa-dosaku. Lalu apakah yang bisa kulakukan untuk kujadikan sebagai penebus atas segala dosa-dosaku??? Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam hanyalah penyampai wahyu, bukan sebagai makhluk yang akan mempertanggungjawabkan perbuatanku di hadapan Allah. Lalu bagaimana??? Apa cukup hanya dengan meratapi dosa??? ataukah cukup dengan bertaubat lalu melakukannya lagi dan bertaubat lagi??? Tentu saja tidak.

Aku teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu saat seseorang berkata kepadaku “Andaikan kamu merasa hidayah telah sampai pada benakmu maka ambillah ia karena tak pernah ada yang tahu sampai di mana batas umurmu”. Bukan hanya kalimat itu tetapi juga sebuah kejadikan dalam mimpi yang terkesan begitu nyata yang memperlihatkan bahwa saya meninggal dunia seakan memutar segala kejadian di masa kecilku hingga hari itu waktu aku masih berusia belasan tahun, sungguh mimpi yang berhasil membuatku sadar tetapi sayangnya hanya beberapa hari setelah itu dasar karena budak zaman hingga membuatku tak sanggup istiqamah. Hingga tepat kurang lebih 2 tahun lalu aku kembali disadarkan melalui jalan sebuah organisasi dakwah Islam yang kusebut “Merah Maron” yang mengantarkan perjalananku banyak berubah hingga hari ini terutama dari segi spiritual. Sebuah pernyataan yang mengatakan “Beraninya kalian berjalan diatas muka bumi sambil melakukan pembangkangan terhadap Allah”. Bukankah dia yang menghidupkanmu, padahal sebelumnya engkau mati? Dan Dia jugalah yang mematikanmu setelah hidup dan akan membangkitkanmu lagi. Hal itu sangatlah mudah bagi-Nya. Bahkan Dia menciptakanmu hanya dari setetes air yang hina. Bahkan Dia jugalah yang menjaga ruhmu ketika kamu tertidur lelap dan Dia yang menyediakan asupan oksigen agar kamu tetap hidup dan berkehidupan. Benar-benar tak akan pernah cukup air di samudera jika dijadikan tinta untuk menulis segala kemurahan Allah. Lalu mengapa kita menjadi penantang yang nyata???

Hingga akhirnya keputusan untuk memulai langkah baru tiba, tapi mengapa hanya segelintir orang yang mendukungku??? Saat aku berusaha melakukan hal yang benar mengapa masih ada orang yang seolah menghalangiku??? Lalu andai aku ceritakan segala hal buruk yang pernah aku alami, kira-kira apakah mereka masih akan tetap berada di sampingku??? Berlari meninggalkanku sambil menganggap rendah??? Hahaha, benar-benar buah simalakama.

Yah sudahlah semuanya tergantung pada individu yang menjalaninya, toh yang mempertanggungjawabkan semua di hadapanNya adalah diri kita masing-masing. Semoga Allah memberiku dan memberimu rasa puas atas apa yang terjadi padaku dan padamu, puas untuk bersyukur dan tetap taat berada dijalanNya. Semoga Allah menghimpun segala kekuatan agar kita dapat menjalani segala ketetapanNya sehingga kita tak menyukai kesegeraan atas apa yang Dia tangguhkan. Dan tak pula menyukai penangguhan atas apa yang Dia segerakan. Sungguh, Dia yang paling mengetahui apa yang kita butuhkan dan segala yang terbaik untuk kita. Karena sejatinya baik di mata makhluk belum tentu baik di mata Allah swt tetapi baik di hadapan Allah sudah pasti yang terbaik untuk makhluk. Cintai apa yang ada di langit maka yang di bumi akan mencintaimu…