Juppati

Setelah pernikahan ibunya yang kedua, sentak membuat perilakunya berubah drastis. Juppati pemuda agresif itu berubah menjadi pendiam dan lebih banyak melamun. Semua orang terheran-heran dibuatnya. Mengapa tidak, Juppati selama ini dikenal sebagai anak yang humoris, ramah, agresif dan sedikit narsis karena peruntungannya memiliki wajah tampan.

Banyak orang yang mengira-ngira, mungkinkah penyebabnya adalah karena ia tidak nyaman hidup bersama ayah tirinya. Meskipun hidup mereka lebih mapan dari sebelumnya. Tapi ayah tirinya  lebih baik daripada ayah kandungnya. Ayahnya yang pemabuk dan penjudi kerap kali menyiksanya, ibu dan adik-adiknya. Selama hidupnya ia hanya kenyang oleh pukulan-pukulan yang diterimanya tanpa sebab.

Itulah yang membuatnya menjadi anak yang nakal seiring pertumbuhannya menjadi dewasa. Karena tidak tahan atas penderitaan yang dialami, akhirnya ibunya memutuskan untuk bercerai.

Umara, laki-laki yang akhirnya menghilangkan rasa trauma ibunya untuk berumahtangga lagi. Ia seorang duda yang mapan. Satu-satunya laki-laki yang membuat ibunya nyaman, begitupun adik-adiknya. Tetapi tidak dengan Juppati. Pemandangan ini tentu membuat  seisi rumah itu heran karena perilaku Juppati yang mendadak aneh.

Apalagi ketika ia melihat ayah tirinya, ia hanya melongo memandangi ayah tirinya itu. Ketika ditanya ia hanya diam dan melongo lagi. Ibunya sempat menduga-duga apakah anaknya berperilaku aneh akibat rasa trauma atas masa lalu mereka, atau karena ia kagum pada pengganti ayahnya itu, ataukah ia takut ayah tirinya akan menyiksa mereka lagi. Semua itu hanya Juppati yang tahu.

Umara akhirnya angkat bicara, memaksa Juppati mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin dekat suami dari ibunya itu padanya, semakin nampak pula ada sesuatu yang ia sembunyikan dibalik ekspresinya, tidak bisa dibohongi bahwa ia mempunyai satu beban dalam pikirannya. Usaha Umara mendekati Juppati tidak berhasil. Juppati meninggalkan ruangan itu masih dengan kebisuannya. Sambil mengamati wajah ayah tirinya sesekali. 

Kali ini ibunya  berusaha mencari tahu sebab dari perubahan Juppati.

“Kalau memang ibumu ini punya salah, sudilah kiranya engkau memaafkan ibu, ataukah kau tidak menginginkan pernikahan ibu ini nak?”

Juppati hanya geleng-geleng kepala.

“Lantas apa yang membuatmu menjadi pendiam dan pelamun seperti sekarang, karena ibu tahu persis, perubahannmu ini setelah pernikahan ibu. Apa selama ini ayah tirimu juga berlaku sama, ataukah kamu tidak nyaman dengan hidup kita sekarang, ayo katakan nak, jangan menyiksa ibu seperti ini.”

Kembali ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa kecil sambil beringsut kekamarnya. Tentu sikapnya itu makin membuat ibunya tambah bingung. Lain halnya dengan Umara yang sudah mulai tersinggung atas kelakuan Juppati. Ia merasa kehadirannya tidak berarti lagi pada keluarga itu, Umara juga tidak ingin dikatakan sebagia perusak kejiwaan anak tirinya.

“Kalau memang kehadiranku yang membuat Juppati seperti ini, maka saya siap kehilangan kalian, lebih baik kita bercerai saja. Saya tidak ingin kehadiranku menjadi perebut keceriaan yang dimiliki anakmu. Buat apa harus bahagia tapi nyatanya ada yang tersakiti.” Ungkap Umara pada Juheriah istrinya.

Daeng, jangan berkata seperti itu, saya akan paksa Juppati untuk mengatakan yang sebenarnya.” Tiba-tiba Juppati muncul dari dalam kamarnya, menghampiri ibu dan ayah tirinya. Rupanya Ia merasa serba salah, Ia tidak ingin berdiam lama-lama dan membiarkan kesalahpahaman itu terus terjadi.

Mereka duduk di ruang tamu, duduk saling berhadapan. Sesekali Juppati melirik Umara, dan ketika tertangkap mata ia menunduk lagi. Pasangan suami istri itu akhirnya dengan penuh kelembutan membujuk Juppati untuk bicara terhadap yang ia alami.

Selama Umara mengenal Juppati dan masuk pada kehidupannya, ini adalah kali pertamanya mendengar suara Juppati. begitupula dengan tatapannya yang tidak menatap ayah tirinya sebagai orang aneh atau seperti tontonan yang aneh dimatanya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu perihal perubahan yang selama ini kalian bicarakan dan pertanyakan. Tapi kalian janji tidak akan marah kepadaku, dan setelah itu tidak akan ada lagi pertanyaan dari kalian. Tapi….” Katanya dengan sedikit gugup.

“Tapi apalagi nak?” Umara dan istrinya serentak merespon, seakan tak sabar menanti jawaban Juppati.

“Sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini semua, daripada apa yang aku lakukan membuat seisi rumah menjadi bingung. Aku akan berterus terang saat ini juga. Saya….saya….”  tampak juppati ragu untuk melanjutkan bicara. Tapi karena desakan ibu dan ayah tirinya ia akhirnya angkat bicara.

“Sebenarnya saya sangat terganggu dengan tahi lalat yang ada di hidung bapak, selama ini saya memikirkan kenapa tahi lalat yang sebesar biji jagung hibrida itu harus ada di ujung hidung bapak, kenapa tidak di bahu, di punggung, atau di pantat saja. Jadi hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.”