Tragedi Oktramuliana (1)

Menuju Kebebasan

2015, Kondisi ekonomi bangsa dari waktu ke waktu tidak terasa membaik. Harga kebutuhan pokok perlahan naik dan mencekik. Tiba-tiba saja tanpa terasa, harga-harga telah berada pada puncak tertinggi. Di simpang jalan kota, pengemis tiba-tiba bertambah menyentuh puncak nurani. Meski, ada larangan untuk memberinya uang, ada juga dermawan yang tersentuh tanpa takut melanggar aturan. Di kampus, harga nasi kuning untuk sarapan pagi, telah naik dua kali lipat. Di kampung tidak kalah parah. Nelayan tidak menangkap ikan lantaran bahan bakar semakin langka. Petani mengalami gagal panen lantaran ketersedian pupuk yang semakin berkurang. Akhirnya, kiriman bulanan mahasiswa pun tidak stabil.

Lagu-lagu, syair-syair, tulisan-tulisan, lukisan-lukisan, terseret untuk menggambar keadaan yang sedemikian susah. Di beberapa kota-kota besar lainnya, orang-orang yang tidak mampu mendendang lagu, melantunkan syair, menggoreskan pena, dan menggambarkan keadaan di kanvas maupun di dinding, turun ke jalan.

Mereka tumpah ruah dalam jumlah banyak, berteriak, berharap pemimpin negeri segera mundur dengan tuduhan tidak berpihak terhadap rakyatnya. Mereka mengutuk ideologi tertentu, mengepal tangan kiri kepada matahari, sementara tangan kanannya memegang minuman berkarbonasi produk luar negeri, pelepas dahaga. Aku di antaranya.

Aku diantara ribuan massa yang percaya bahwa turun ke jalan merupakan langkah yang bijak untuk membuka mata, hati dan telinga para penguasa. Sayangnya, aku dan sekian banyak lainnya, terpecah beberapa bagian. Masing-masing berteriak, menggema, menuntut, dengan caranya sendiri. Utara, timur, selatan, barat, mereka menuntut normalisasi harga, pembatalan rencana kenaikan bahan bakar minyak, serta hukum mati para koruptor negeri. Tuntutan yang diteriakkannya dibawa angin, terbang mengangkasa setinggi-tingginya, mengikuti arak-arakan awan. Bercampur. Hilang menjelma hujan, tanpa sampai di telinga penguasa.

Seminggu perjuangan, hasilnya nihil. Harga tetap melambung tinggi, bahan bakar minyak tetap dinaikkan, dan para koruptor masih bisa berkata, “semua ini untuk menyelamatkan nilai mata uang negara,”. Ya… harus diselamatkan memang. Namun, untuk siapa? Entahlah…

Aku dan lainnya, kembali ke kampus. Membentuk forum untuk mengevaluasi gerakan-gerakan yang telah kami lakukan. Membicarakan kebijakan selanjutnya, sekaligus merayakan kekalahan.

Saat itu, Imnyung sempat menawarkan gagasan untuk menyatukan massa dari berbagai elemen yang terpecah belah untuk bergerak bersama dan kembali turun ke jalan meneriakkan pembatalan kenaikan harga bahan bakar minyak.

Aku selalu yakin, bahwa aku telah tahu betul jalan pikiran anak berkepala besar dan rambut geribol, anak yang sering mengatakan, “setiap kita, pasti berbeda-beda. Tetapi bukan untuk mencari cela masing-masing, di antara  perbedaan itu. Kita berbeda, sebab kita mesti saling melengkapi. Kau anak petani, aku anak nelayan. Kau hasilkan padi, aku tangkap ikannya. Kurangnya, biarkanlah pacar kita yang menanam sayur.”

Aku terkesan atas pendapatnya, tetapi semua hal itu mustahil. Sepanjang semua elemen masih menganggap bahwa aliansinya, sekutunya, perkumpulannya, dan konco-konconyalah yang paling benar. Gagasan Imnyung hanyalah pemanis mulut. Meski aku sadar, memang kita perlu bersatu, mengorganisir diri dan tetap menyalakan semangat kebaharuan.

Tiba-tiba dari belakang, seorang perempuan mengangkat tangan menawarkan diri untuk memberikan gagasan. Aku kenal, dia perempuan yang sering disebut Imnyung di depanku, Ana. Moderator mempersilahkannya. 

“Tahukah kalian mengapa ikan teri sangat ingin menembus wilayah lautan?” hadirin hanya menggelengkan kepala. lalu Ana menjawab sendiri pertanyaannya, ”sebab di sana ada kebebasan. Ikan teri, yakin harga kebebasan itu sangat mahal, bahkan dengan nyawa sekalipun. Sayangnya, ikan-ikan itu belum pernah sampai. Hidupnya hanya di perairan dekat pantai, dekat muara sungai. Di sana mereka hidup bergerombol. Tiap gerombolannya pun berpisah-pisah, berkelompok-kelompok. Ada di utara, timur, selatan, barat, mereka tidak menyatu. Masing-masing ikan dalam tiap gerombolan menyembunyikan ketakutannya. Ketakutannyalah yang membuat warna tubuhnya selalu pucat, persis seperti kami, tepatnya kalian. Bergerombol dengan kelompok-kelompoknya sendiri.”

“Maaf, Langsung pada intinya,” Moderator menyela.

“Intinya, Ikan teri tidak pernah bermimpi untuk menghimpun kekuatan besar. Menyatukan gerombolan-gerombolan mereka yang terpisah-pisah menjadi satu. Tetapi, tiap-tiap gerombolan memikirkan cara untuk menuju lautan. Menuju kebebasan. Mengapa kita terlalu memaksakan diri untuk bersatu, padahal itu sulit? Mengapa tidak fokus memelihara gerombolan ini dan berjalan menuju titik perubahan? Mengapa forum ini hanya berlangsung saat hendak dan usai turun ke jalan? Mengapa hanya berpikir untuk bersatu, bila telah terlanjur merasakan kekalahan? Mengapa tidak dari awal, kalian meneriakkan persatuan itu?  Marilah kita fokus membahas perubahan secara berkelanjutan, bukan secara temporal! Terima kasih,” jelasnya.

Selanjutnya