Pilihan Redaksi Edisi Pertama Oktober

Ets, jangan anarkis!!! Bacanya pelan-pelan saja. Rupanya, beberapa naskah yang masuk pada penghujung September dan Awal Oktober ini, sebagiannya masih mengangkat nuansa demonstrasi. Namun, yang menarik dari naskah-naskah yang masuk, lebih pada ulasan yang lebih mendalam dan detail atas insiden tersebut.  

Hal tersebut sangat lugas ketika kita membaca naskah Sisi Lain Anarkisme karya M. Ahsan Agussalim. Penulis mengajak kita meluruskan makna anarkisme dalam memandang gerakan mahasiswa yang diusung dalam sebuah demonstrasi. Anarkisme pada hakikatnya adalah sebuah sikap penolakan terhadap kekuatan negara, tidak ada hubungannya dengan perusakan fasilitas sebab perusakan tersebut merupakan sebuah tindakan vandalisme.

Menilik makna sebenarnya dari sebuah kata anarkisme yang menitikberatkan pada sikap penolakan terhadap kekuatan negara, maka negara kita yang menjalankan sistem demokrasi dengan kekuatan terbesar ada di tangan rakyat pada dasarnya pemerintahlah yang melakukan tindakan anarkisme. Sejumlah sikap yang menunjukkan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat disampaikan oleh Dwi Rezki Hardianto dalam Obituary September Berdarah menjadi bukti anarkisme pemerintah terhadap rakyatnya. Terutama pada akhir September 2019 lalu pada sebuah kasus tewasnya seorang demonstran dalam aksi demonstrasi.

Suandi memandang demonstrasi adalah sebuah proses dialektika dalam negara demokrasi menuju kedamaian bermasyarakat. Adanya gelagat ketimpangan dalam kebijakan dari pemerintah memicu gelombang aksi demonstrasi, semakin timpang sebuah kebijakan semakin besar pula massa dan intensitas aksi tersebut. Proses dialektika ini disebut harga oleh Suandi.

Di sisi lain ada Suhaiba Bahri dengan naskah Pada Satu Halaman Harap yang bermain diksi dalam derita yang mengalir pada darah berlinang. Suhaiba seolah menunjukkan titik terbawah kaum marjinal yang sekarat di antara kaum penjarah yang tamak. Sementara itu, Arham Kadir menyinggung isu rasialisme pada tatanan negara yang direduksi dalam egoisme heroik tiap-tiap etnis yang angkuh memandang sejarah masing-masing sehingga cita-cita kedamaian merah putih hanya terlihat seperti fatamorgana.

Demikian lima tulisan favorit readaksi edisi kali ini. Nantikan 15 karya yang terpilih bersama edisi yang lain di bulan Oktober ini dalam bentuk ebook di koleksi.kolong.team. Dan untuk naskah favorit pilihan redaksi yang akan mendapatkan honor kepenulisan jatuh pada naskah Sisi Lain Anarkisme karya M. Ahsan Agussalim. Kepada penulis diharapkan segera mengirim nomor rekening tujuan melalui nomor 085231268898.

Demikian untuk minggu ini. Selamat bermitra bersama kolong.team. Jangan lupa upload naskah buku dan nikmati koleksi karya di koleksi.kolong.team.

Tim Redaksi