Dentum

Meski menimang perih,

luka tetaplah luka.

Perjuangan tak pernah usai, sebab soal tak pernah tuntas.

Ia tak akan sudah

jika ego meroceti iba.

Bangkitlah para luhur,

serulah damai dalam negerimu.

Tumpaslah mereka yang berani mendistorsi jejakmu.

Hunuskan bambu untuk perut

para lata yang tak tahu berterima kasih.

Ratakan mereka yang berani khianat

demi nafsu dan keserakahan.

Tampar putra-puterimu yang membusung sebab hidupnya sekadar makan dan tidur.

Ludahi wajah mereka yang mengolok barisan pengais merdeka.

Dentum…

begitu pedih terdengar,

sebab hadir sebagai tameng tiran.

Melawan suara Tuhan dengan ironi patriotik.

Sesak dalam gulita, sebab bualan tiran tetiba menjelma kepulan hitam.

Sakit, sebab nyata nyawa melayang namun tiran tetap menghitam.

Kami rindu

Negeri damai

surga dan rahmat sekalian alam.

Makassar, 1 Oktober 2019