‘Memeluk Oktober’

Hari-hari menatap diriku di pangkal Oktober yang beku. Sudah berbulan-bulan lamanya aku berhenti menulis tapi aku tidak berhenti menangis. Aku kira, semua kata-kata telah habis ditulis dan puisi tinggal luka tangis yang mengikis. 

Di hadapan Oktober, aku melihat orang-orang bertukar sapa tapi tidak menegur siapa-siapa. Semua kata-kata tinggal bunyi semata dan kumpulan cerita sementara. Telah banyak kata sifat yang dicuri lalu dilekatkan di dinding maya. Sudahkah kau menyukai statusku? Aku baru saja bercerita tentangmu di sana, tentang kematianmu tepatnya. 

Aku sedang menerka-nerka apa yang terjadi di Oktober sejak cuaca tidak terbaca lagi oleh petuah. Di saat hujan tiba, orang-orang berteduh di tempat yang jauh, yang sangat dekat justru ingatannya yang bocor dan membiarkan tubuhnya dibasahi kenangan. Perihal lain tentang kemarau panjang akan memicu kekeringan tetapi petani mengais makan dengan menjual ladang- padangnya. Terkadang alat tukar yang terbaik adalah kepasrahan. 

Oktober bulan yang asing dalam kelaziman. Orang-orang begitu giat bekerja dan sibuk mencari jeda. Libur menjadi barang mewah namun sangat sulit diciptakan. Lelah adalah kata yang rebah di pembaringan dengan kemeja dan dasi masih di badan. Negara ikut tidur dan tiba-tiba hilang fungsi. Dongeng tidak ada dalam kurikulum yang diraba-raba. Aku ingin lelap dari semua yang kusebutkan. Sebab, dunia kerap kali memuakkan juga memabukkan. 

Aku menyukai Oktober setelah mencintai dirimu rupanya. Aku tidak sedang menduakanmu sayang. Sungguh! Oktober memeluk kita 

sekarang. Walau waktu suka berbunyi berupa peringatan-peringatan. Aku menemukan waktu begitu bising di saat bangun pagi, istirahat, makan siang, pulang kerja atau menjadi jam tidur kita yang terpisah ranjang, tetapi aku lebih senang mendengar bisikanmu di akhir malam. Selamat tidur katamu. Kau tahu, aku tidak sedang tidur. Bagiku, pantang tidur mendahului kekasih. Jika tidur adalah perkara mudah, mengapa kau tidak menidurkanku di sisimu. 

Sesungguhnya aku ingin mencintai semua bulan dan seluruh akibat di dalamnya tetapi Oktober lebih menyentuh tulisanku, akan aku bacakan di malam gulita dengan sedikit metafora. Aku akan kalah lantang oleh semua deru kecemasan. Apa peduliku, masih ada sisa air mataku untuk menangis walau semua kata telah habis ditulis. 

Makassar, 7 Oktober 2016