Kebenaran Harus Disuarakan!

Kebenaran itu tak selamanya baik untuk diri sendiri. Makanya butuh kebesaran hati untuk memperjuangkannya. Walaupun kadang kita merasa dirugikan, tapi pikiran jernih akan membuatnya jadi positif. Setidaknya kebenaran itu selalu bersama suara hati.

Kebenaran tentu bukan hal baru yang diperbincangkan, tapi tema yang tak pernah berkesudahan. Bahkan perbincangan yang selalu tak klimaks dan kadang berujung debat kusir. Tapi itu bagi kalangan intelektual. Kalangan menengah ke bawah tentu memiliki kadar kebenarannya sendiri.

Orang yang untuk makan sehari – harinya saja tidak cukup tentu tak tertarik pada perdebatan soal kebenaran. Mereka masih lebih fokus pada bagaimana memenuhi kebutuhan sehari – harinya, memikirkan apa yang harus dilakukan dan menjadi apa ke depannya.

Dalam kehidupan berbangsa, perbincangan kebenaran lebih identik dengan istilah Vox Populi, Vox Die. Bahwa kebenaran itu,ada pada rakyat. Itu sejalan dengan paradigma good govermance, di mana pemerintah sebagai pelayan rakyat. Jika ini terealisasi, tentu negara kita akan baik – baik saja. Tak sekadar baik, tapi tentunya juga akan maju.

Akhir – akhir ini, kita tentu bersedih. Setidaknya berbagai ujian menimpa bangsa ini. Ketegangan di pemilihan legislatif dan presiden, kebakaran hutan, kerusuhan papua sampai pada perdebatan soal pemberantasan korupsi. Berbagai respon masyarakat pun menanggapi ini, ada yang tetap memuja penguasa, ada yang mengkritik bahkan sampai ribuan mahasiswa lintas kampus turun ke jalan memprotesnya. Tak sedikit korban yang berjatuhan, tapi sepertinya banyak tuntutan tak kunjung ditunaikan.

Namun gelombang protes ini tak kunjung membuahkan hasil. Semua tak ada yang berubah. Justru ketidakadilan yang semakin hari dipertontonkan. Bukan hanya soal kondisi internal kebangsaan, tapi juga soal perlakuan istimewa terhadap orang asing khususnya di sektor ekonomi. Padahal putra – putri bangsa ini masih banyak yang menganggur.

Realitas ini adalah potret bahwa kondisi sekarang sedang tidak baik – baik saja. Sehingga kita tak boleh berdiam diri. Anak – anak muda harus tampil menyuarakan kebenaran. Walaupun perubahan kebijakan sulit diubah, yang jelas kita sudah memulai perubahan itu sendiri.

Banyak cara menyuarakan kebenaran. Salah satunya dengan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Dengan tulisan, gagasan dapat dikonstruksi dan dikemas dalam uraian kata. Sebuah pekerjaan yang terlihat mudah, tapi tak banyak yang mampu melakukannya. Manusia Indonesia yang masih mencintai bangsanya, dapat menguraikan kegelisahannya dan menuangkan buah – buah pikirannya.

Semoga dengan tulisan tersebut, menjadi percikan api perlawanan. Setidaknya melawan kebodohan di tengah rendahnya literasi masyarakat Indonesia. Walau tak mampu dilihat secara kasat mata seperti jalan tol, tapi literasilah yang menjadi fondasi kemajuan sebuah bangsa.

Terakhir, kebenaran tentu harus disuarakan. Walaupun berisiko terjerat pasal “pencemaran nama baik”. Tapi begitulah risikonya untuk setiap tindakan. Biarlah kita bersuara, jangan sampai menjadi jeritan yang tak pernah terdengar.

Maros, 26 September 2019