Tangis Sulawesi

Suara itu berkata
Tetes darah leluhur
Masih meracik semangat tak mati
Saat semua mati suri
Tapi tak ada lagi kebanggaan pada merah dan putih
Yang mereka ikrarkan di bawah surya
Sejarah ternyata jauh lebih indah dari cita-cita
Teriakan dan angan perdamaian
Ternyata padam di balik ketiak keangkuhan

Sipakatau…sipakainge’…sipakalebbi’…
Tinggal semboyan
Siri’ na pacce jadi arena sabung manusia
Tampat badik terhunus dengan congkak
Berteriak dengan angkuh di luar sarungnya
Tabe’ meleleh dimakan usia dan amarah yang berdarah
IYAU TO MANDAR!!!!
INAKKE BATTU RI MANGKASARA!!!!
IYA TAU HUGI!!!!
AKU TAU DOMAI TORAYYA!!!!
Satu-satu angkat bendera
Akulah yang terkuat
Akulah sang pemenang
Akulah sang raja
Kedamaian hanya fatamorgana di ujung aspal
Ujung aspal yang basah oleh darah pemuda yang tercecer
Oleh napas terakhir yang melayang
Dijambak dan dicabik kemusnahan

Coba dengar rintihan zaman
Ayo dengarkan zaman yang meringis
Menangis… terluka terbakar malu
Zaman yang hanyut meleleh
Terendam air mata Tuhan.

Bantaeng 04-08-2010