Sisi Lain Anarkisme

Anarkisme adalah sikap bukan vandalisme

Aksi demonstrasi merupakan salah satu aspek penyaluran aspirasi secara massif dari segi kuantitas (massa) yang didasari dengan suatu intensitas gerakan dan ditujukan langsung oleh pemerintah ataupun pihak terkait, berdasarkan tuntutan yang relevan. Aksi demonstrasi menjadi sebuah gambaran ekspresi individu dalam suatu kelompok, yang bertujuan memberikan penyadaran kepada khalayak umum. Bahwasanya ada sesuatu hal yang tidak beres dalam suatu mekanisme yang ada, khususnya dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Aksi demonstrasi terkadang tidak sesuai ekspektasi di lapangan. Semisal aksi yang bertujuan hanya sekedar aksi damai tak pelak berujung pada aksi yang anarkis. Bahkan ada suatu fenomena yang menarik yang pernah penulis dapatkan testimoninya dari salah seorang teman. Bahwasanya ada aksi yang kemudian telah disusun sedemikian rupa agar memicu sebuah konflik fisik, malah yang terjadi adalah sebuah aksi yang sangat tertib dan damai. Sebab tuntutan mereka betul-betul direspon dan hasilnya juga bisa segera direalisasikan sesuai ekspektasi para demonstran. Terlepas dari fenomena lapangan tersebut, easy or hard gelombang suatu aksi demonstrasi.bergantung kepada bagaimana pihak yang mempunyai kewenangan atas kepentingan dan kemaslahatan orang banyak mampu disikapi dengan bijak. Tidak hanya sekadar menjadi sebuah harapan semu.

Sisi lain Anarkisme

Adanya pola anarkis, sebagai bagian yang sulit terhindarkan dari sebuah aksi, karena dipengaruhi oleh beberapa variabel tertentu semisal provokasi, distorsi gerakan dan ketidakseragaman pemahaman antar sesama massa aksi, sehingga membuat suatu gerakan, menjadi gerakan liar yang tak terkendali. Berbuntut pada pengaburan makna asli dari anarkisme itu sendiri yang pada dasarnya ia (anarkis) tidak berujung pada sebuah pemaknaan yang bersifat vandalis.

Memaknai arti terhadap sebuah kata, tidak cukup, bahkan bisa jadi mengaburkan makna sesungguhnya, ketika kita hanya mengikuti arus pemaknaan berdasarkan asumsi seseorang yang bersifat justifikasi. Terlebih lagi hanya memandang dari sudut pandang lapangan saja tanpa diimbangi dengan literatur yang memadai dan tidak memakai sudut pandang yang mendalam. Kata anarkis berikut turunannya: anarkisme, anarkistik anarkis. Bukanlah sebuah kata yang identik dengan pengrusakan, penghancuran sebuah fasilitas dan segala tindakan yang merugikan secara material. Sebagaimana yang tercantum dalam literatur Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata anarkis berikut dengan bentuk kata lainnya, adalah sebuah indoktrinasi (paham) yang menentang setiap kekuatan negara dalam hal ini, penguasa atas kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat.

Dalam kasus historis, Mikhail Bakunin, seorang tokoh aliran anarkisme dalam mengawal konsep kenegaraan khas Bakunin. Sependek bacaan saya, sangat jarang terjadi tindakan represif yang dilakukan oleh massa aksinya yang pro terhadap Bakunin pada saat itu dan lebih banyak menggambarkan perjuangan Bakunin yang lebih berbentuk pada pola perjuangan yang sifatnya diskursus dan perdebatan yang argumentatif. Sedangkan dia jelas-jelas adalah penganut anarkisme keras yang jika kita konteks pada masa kini, mungkin kita sudah menilai bahwa ia bukan penganut anarkisme sejati karena jarang menciptakan pola represif.

Jika kita menarik kesimpulan, artinya anarkis tidak mengarah lagi kepada sebuah tindakan atau gerak dan aktivitas pengrusakan fasilitas, melainkan adalah suatu pernyataan sikap yang prinsipil dan mempunya daya presure di dalam jiwa individu terkait cara memandang gelagat suatu mekanisme. Jika suatu pemerintahan yang terletak pada daerah tertentu dan memiliki watak yang bijak dalam merespon aspirasi masyarakat, maka akan mempengaruhi massa tidak berbuat hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses penyampaian aspirasi. Bahkan tercipta suasana yang demokratis, saling memahami bahkan jauh dari kata huru hara. Begitupun sebaliknya, jika pemerintah di suatu daerah memiliki watak yang tidak kooperatif dalam merespon aspirasi masyarakat maka sikap anarkis tentu akan menjadi sebuah patron terbentuknya sebuah massa yang memicu polarisasi antara masyarakat dan pemerintah.

Anarkisme Massa VS Anarkisme Pemerintah

Kita terkadang memandang bahwa aksi anarkis hanya ada pada gerakan aksi massa, tanpa kita berpikir secara filosofis bahwa anarkis juga itu bisa timbul dari sikap pemerintah. Melalui kebijakan-kebijakan yang tidak mengandung prinsip kemanusiaan dan mereduksi hak-hak kemasyarakatan secara radikal. Hal tersebut yang dilakukan pemerintah adalah sikap anarkis yang sesungguhnya karena mereka mengingkari prinsip-prinsip demokratis dan menentang nilai-nilai kemanusiaan, yang harusnya melibatkan seluruh pandangan komprehensif dalam merumuskan suatu kebijakan yang tidak hanya melibatkan segelintir orang-orang tertentu. Pemerintah juga dianggap lebih anarkis ketika ia membuat siklus pemerintahan dengan pola oligarki yang tentu menjadi cikal bakal adanya konspirasi subjektif yang berorientasi kepada pemenuhan kepentingan elit dan mengabaikan kepentingan rakyat.

Seperti aksi-aksi yang marak dilakukan beberapa hari terakhir di bulan September 2019. Terkait aksi massa yang mengecam seluruh produk revisi UU yang dianggap tidak rasional dan mereduksi hak-hak kebebasan. Kalau kita melihat aksi-aksi tersebut dan mengaitkan dengan definisi anarkisme sebelumnya bahwa ia merupakan suatu paham yang menentang kekuatan negara (pemerintah), maka bisa kita maknai bahwa sejatinya yang lebih dulu menanam sikap anarkisme adalah pemerintah itu sendiri yang ditandai dengan sikapnya menentang nilai-nilai kebebasan sosial yang substantif.