Pintu Langit

Aku tidak bisa meninggalkan Imran begitu saja. Ayah tiga anak itu, bisa saja meninggal di tempat kejadian saat puluhan pasang tangan dan kaki mendarat di sekujur tubuhnya. Segera kuterobos massa yang sementara mengamuk, menggapai tubuh yang terkulai berlumur darah. “Bunuh dia, orang sepertinya tidak pantas dikasihani,” seorang berteriak nyaring memekakkan telingaku.

 Aku berusaha keluar dari kerumunan, membopong Imran yang tidak berdaya. Lelaki yang telah menjambret perempuan paruh baya dan berteriak meminta tolong. Lelaki yang hidup miskin dan dimiskinkan oleh keadaan. Lelaki yang berjuang melawan takdirnya dengan caranya sendiri. Naas.

Aku paham betul, keterdesakan dan kemiskinanlah yang membuatnya melakukan hal demikian. Itulah sebabnya Ali Bin Abi Thalib semasa hidupnya pernah bersitegas dalam kalimat, jikalau kemiskinan adalah manusia, maka ia akan membunuhnya terlebih dahulu sebelum memakan korban lebih banyak lagi.

***

Saat kemiskinan hadir, seseorang akan kehilangan harga diri, terbentur pada ketergantungan, terpaksa menerima perlakuan kasar dan hinaan, serta tak dipedulikan ketika sedang mencari pertolongan. Kemiskinan adalah ketidakadilan. Kemiskinan adalah ketidakberdayaan. Kemiskinan adalah kehidupan Imran.

Imran, lelaki yang selalu menganggap bahwa hidupnya adalah takdir. Dalam benaknya, kemiskinan adalah sebuah garis tangan yang telah ditentukan oleh Tuhannya. Sempat baginya berpendapat bahwa kesabaran merupakan jalan mulus atas segala pilihan takdirnya. Namun, kesabaran itu menjelma murka saat hidupnya meminta lebih dari berat badannya.

Apa dayanya, ia yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Memikul berat melebihi tenaga, mendambakan impian melebihi tinggi badan. Tak kuasa baginya melewati kehidupan hanya dengan doa-doa, yang katanya tanpa ijabah. Akhirnya ia berpaling dan berpasrah, namun bukan lagi kepada keadaan, takdir dan Tuhannya, tetapi kepada sesuatu hal yang menjadi titik balik dari segalanya. 

Saat itu, seorang membawa kabar, jikalau anaknya masuk rumah sakit lantaran terjatuh dari motor. Awalnya ia tidak percaya, sebab dirinya maupun anaknya tidak memiliki motor. Namun, setelah istrinya datang membawa kabar dengan kebenaran mutlak, barulah ia menatap langit dengan geram. Dicarinya pintu-pintu langit tempat doanya melarung jauh. Awan-awan berarak pelan, tetapi darahnya mengalir deras. “Belum luluskah aku dalam segala cobaan-Mu?” katanya pelan sesaat setelah menarik pandangannya dari langit. Ia meninggalkan lokasi kerjanya, mengikuti istrinya ke rumah sakit. 

“Anak Bapak mengalami pendarahan. Saat ini sementara kekurangan darah. Kami membutuhkan beberapa kantong darah. Sayangnya, darah yang dibutuhkan lagi kosong di rumah sakit ini. Mungkin Bapak bisa mencarinya di tempat lain,” seorang petugas rumah sakit memberikan rincian keadaan yang mesti dipikulnya.

“Dok, kami tidak punya uang, bagaimana cara membelinya? Lagi pula, kami ini keluarga miskin. Belum pernah berurusan dengan darah. Kami tidak tahu tempat yang menjual darah,” Imran mengeluh pelan, istrinya mengangguk pasrah.

“Begini, Pak. Kalau persoalan keselamatan anak Bapak, kami akan berusaha membantu. Tetapi jika persoalan biaya, kami tidak bisa membantu, Pak! Bapak usahakan uangnya lebih dahulu, entah pinjam di keluarga Bapak, ataukah menjual barang-barang yang layak. Biar kami yang membantu Bapak mencari darahnya,” terang petugas itu.

“Dok, beli beras saja, kami sudah meminjam sana sini. Kami tidak bisa meminjam lagi,” kata Imran saat matanya mulai membentuk kaca.

“Sungguh, Pak! Kami memang harus membantu. Seandainya anak Bapak tidak memerlukan darah dan sekadar luka biasa, Bapak tidak perlu membayarnya. Aku yang akan membantu Bapak soal itu. Aku mengerti keadaan Bapak, Bapak pun harus mengerti pula,” penjelasan petugas membuat kaca di mata Imran pecah, pelipisnya basah. “Atau begini, cari keluarga bapak yang mempunyai golongan darah yang sama dengan anak Bapak, lalu meminta mereka untuk mendonorkan darahnya,” sambung petugas itu.

“Aku tidak punya keluarga di sini, kecuali anak dan istriku saat ini,” suara Imran bergetar. ***

“Mengapa kau melakukan hal ini?” tanyaku kepada Imran, saat keadaannya mulai membaik. Ia hanya menatapku sekilas, beranjak ke jendela, menatap langit, dicarinya pintu darurat, tempat doanya senantiasa masuk saat terdesak. “Ceritakanlah kawan, mungkin aku bisa membantu sekadarnya,” kataku yang berada tepat di belakangnya, lalu mengikuti jejak pandangannya.

“Seharusnya aku mati saat itu,” katanya lirih, matanya masih tetap mencari pintu langit.

“Mati itu urusan Tuhan, Ran. Sekuat apapun keinginan kita untuk mati, jika Tuhan belum berkehendak, tidak mungkin kita mencapai tingkatan akhir kehidupan itu,” kataku sembari mengambil posisi di sampingnya lalu menatapnya dengan senyum. “Banyak orang yang ditikam saat berkelahi, Tuhan masih memberinya kehidupan, akhirnya ia masih hidup sampai sekarang. Seperti si Jambrong. Ada orang yang minum racun hendak bunuh diri, toh… jika Tuhan belum berkehendak, mereka akan tetap hidup. Tetapi ada orang yang hendak menjenguk keluarganya, di jalanan ia kecelakaan lalu meninggal, Tuhan telah berkehendak atasnya,” aku melanjutkan sambil memegang pundaknya. 

Ia menepis tanganku dengan cepat. Tatapannya ia alihkan kepadaku, tajam dan geram. “Tuhan!” ketusnya. 

“Ya… Dialah yang berkehendak atas semua ini. Termasuk persoalan mati,” aku tersenyum menatap raut mukanya yang geram.

“Jadi Dialah yang membuat anakku terjatuh dari motor, mengalami pendarahan dan meminta lebih dari segala yang kumiliki. Jadi Dialah yang membuatku menjadi manusia semiskin ini dan dihina di manapun. Jadi dialah yang membuatku…”

“Dialah yang menciptakan kita dengan akal, hati dan nurani,” kataku menyela saat kalimatnya meluncur begitu saja, membentur tembok-tembok rumah, keluar melalui jendela, lalu kemudian melarung jauh ke awan. “Jadi itu yang membuatmu harus mencuri?” tanyaku selanjutnya.

“Anak saya meninggal saat butuh darah, aku sangat menyesal waktu itu. Sekarang, istriku yang sakit parah, karena terlampau memikirkan anak kesayanganya yang pergi tanpa pamit. Aku telah mencari pinjaman di mana-mana, tiada yang peduli,” katanya dengan tatapan tajam. “Manusia itu, Min. Manusia. Manusia yang nyata! Mereka tidak mampu membantu, bagaimana Tuhan?!” intonasi suaranya meninggi. “Salahkah jika diriku menyelamatkan keluargaku, menyelamatkan istriku, apapun caranya! Saat anakku meninggal, aku masih berpasrah pada-Nya. Aku masih menganggap ini adalah jawaban atas doaku, atas permintaanku agar Dia mengurangi beban hidupku. Mungkin kematiannya adalah bentuk dari ijabah doaku saat itu,” bentakan dan emosinya meluap, membuatku semakin paham ketertekanan hidup yang dialaminya.

“Tetapi jika istriku, Min. istriku! Tempatku berbagi beban! Jika Dia harus mengambilnya pula, bebanku akan semakin berat! Kepada siapa lagi aku harus berbagi beban, menghidupi dua orang anak yang masih kecil? Mereka, Min. Dua anakku itu,” katanya sambil menujuk ke utara, ke arah rumahnya. “Mengangkat sendok pun belum mampu, apalagi mengisi piringnya dengan makanan?”

“Jika sandaran kita adalah manusia, maka kita akan terjatuh sebab sandarannya rapuh, Ran. Jika sandaran kita kepada-Nya, apa yang membuat kita terjatuh?” aku duduk di kursi dan memandangnya. “Aku kenal kau dari dulu, Ran. Tapi saat ini, aku hampir sama sekali tidak bisa menebakmu. Menebak jalan pikiranmu,” kataku lalu menarik nafas panjang.

“Ini karena Tuhan,” katanya ketus.

Harus aku akui, Imran adalah salah satu di antara miliaran lelaki yang terbentuk dari sistem sosial yang memang miskin. Lelaki yang bekerja keras, membangun usaha dengan tekad tanpa modal, lalu menuai bangkrut berulang kali. Lelaki yang menghabiskan kesabarannya karena impian besar. Lelaki yang menutup doanya karena menganggapnya sebagai harapan semu. Lelaki yang hak-hak dasarnya sebagai warga negara tidak terjamin. Akhirnya, memilih jalan yang tidak sesuai dengan akal, hati dan nuraninya.

Mereka lalu memilih jalan untuk keluar dari jati dirinya sendiri, membiarkan keadaan menuntunnya menjadi manusia sekeras baja. Memilih hidup dengan jalan yang diciptakan akalnya, bergerak meski tidak sesuai niat tulus hatinya, lalu merampas hak orang lain tanpa nurani. Mereka menganggap kehidupan dan kematian hanyalah pilihan dunia yang direbut dari pertarungan yang juga mengisyaratkan hidup dan mati.

Mereka membuat aturan yang hanya menjadi jalan sunyi. Jalan sunyi tetapi selalu saja memiliki ruas membingungkan dengan pilihan; hidup-mati, kalah-menang, ditindas-menindas. Sementara aturan mutlak dari langit mereka tinggalkan, dan menganggapnya kedaluwarsa serta krisis pilihan; surga-neraka. 

“Jadi kau menganggap aku miskin karena aku tidak memaksimalkan potensi-potensiku. Kau menganggap aku miskin karena aku malas, tidak mau berusaha atau tidak kreatif,” Imran menatapku tajam.

“Kau salah, Imran,” kataku singkat.

“Aku salah dan kau benar! Apa kebenaranmu saat ini?” telunjuknya mengarah ke wajahku. “Anakku terkulai, butuh darah!. Apakah harus terus mengirimkan doa, meminta beberapa kantung darah dari langit?” telunjuknya menuding ke atas sana. “Aku berdoa agar bebanku berkurang, Dia mengambil nyawanya. Sekarang istriku. Apakah aku harus berdoa hal serupa, lalu kejadian akan datang serupa? Ataukah aku harus pasrah karena aku manusia miskin. Menerima takdir sebagaimana yang seharusnya, karena telah diatur oleh-Nya, meski berdoa beribu kali? Ataukah, aku telah salah karena telah berani melawan kehendakNya?” tangisnya tumpah sesaat setelah ia kembali menyalahkan dirinya.   

“Imran, ingat kata kiai kita kala itu? Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak ada kata terlambat untukNya,” kataku sembari memeluknya. “Kau selalu menganggap dirimu tidak punya keluarga, padahal semasa pondok dulu kita telah menyatu dalam keluarga kecil, buatan kita. Kau selalu menganggap kehidupan adalah apa yang kita ciptakan, sementara kau lupa kawan, siapa pemilik tanah yang kita pijak?”

“Lalu, istriku bagaimana?” apa yang harus aku lakukan? Melihat kematian untuk kedua kalinya tanpa bisa berbuat apa-apa?” katanya meringis dan melepaskan pelukan, kembali ke jendela menatap langit. Kembali mencari pintu langit, tempat segala doa menuju.

“Imran, memintalah pada-Nya,”

“Dalam setiap sesakku, permintaanku selalu mengalir tanpa ucap. Hatiku, Min. hatiku yang berucap dalam sepi. Dan, semuanya tanpa ijabah, Min! Tanpa ijabah! Bahkan sebelum kejadian ini, segala rintihanku dibarengi permakluman atas-Nya. Semua, Min. Semua relung hidupku. Lagi-lagi tanpa ijabah! Seringkali aku mencari pintu langit di atas sana, tak kutemui. Mungkin doaku seperti diriku. Tidak menemukan pintu langit itu, lalu tersesat,” matanya masih terus menatap langit.

“Imran, doamu tidak pernah tersesat,” aku mengikuti tatapannya, memberinya pemahaman yang lebih dari keyakinannya saat itu. “Yakinlah, Dia tidak pernah terlambat dalam berbagai hal,” kupandangi ia dalam tangis, ada anggukan pelan melintas dalam kesunyian benaknya.

“Anakku. Anakku, Min. Aku menyayanginya. Aku sangat menyesal menjadi miskin. Aku tidak mau kejadianya berulang kepada istriku,” lirihnya sembari berbalik ke arahku.

“Tetapi bukan dengan merampas hak orang, Ran. Bukan mencuri seperti itu, dipukuli berulang kali tanpa harga diri,”

“Aku memang tidak memiliki harga diri. Telah kugadai semuanya. Akan kutebus jika semuanya telah membaik,” katanya. “Bagiku, itulah jalan satu-satunya saat semuanya pupus.”

 “Berapa yang kau butuhkan, pakailah kas masjid untuk biaya kesembuhan istrimu. Uang itu milik-Nya.” Kalimatku membuat air matanya semakin deras. Bendungannya telah pecah. “Tuhan tidak pernah terlambat, kawan. Masih ingat kalimat itu?” sambungku dengan tanya.

Ia berjalan menghampiri lalu kemudian memelukku dengan erat. “Ran, pelukan Tuhan melibihi eratnya pelukanmu, jika kau bisa merasakannya,” bisikku pelan di telinganya. Dengan pelan ia pun menggangguk. Tiba-tiba dua orang berpakaian seragam datang mengetuk pintu. “Maaf, Pak. Kami mendapat laporan dari warga, seorang penjambret telah berada di rumah Bapak. Kami harus membawanya ke kantor,” katanya.

Pernah diterbitkan zukzez_ekspress tahun 2015

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]