Pilihan Redaksi Edisi Keempat September

Diam dan tidak melakukan apa-apa adalah dua hal yang berbeda. Di penghujung September ini ada sebuah momentum bersejarah dalam konstelasi berdemokrasi di Indonesia yang membuat pemuda-pemuda MENOLAK DIAM. Tak terkecuali mereka yang berkontribusi dalam naskah-naskah yang dimuat dalam kolongkata.com. Ekspresi masyarakat yang mayoritas mahasiswa tumpah ruah di jalanan menuju gedung perwakilan rakyat untuk mengisi kursi-kursi kritis yang ditinggal oleh mereka yang tak sanggup mengemban amanah rakyat. Di tengah-tengah kesibukan para penulis muda dengan berbagai latar belakang juga tak ketinggalan MENOLAK DIAM dan menuangkan ekspresi dan aspirasinya melalui naskah-naskah yang menjadi favorit redaksi minggu ini.

Di antara naskah-naskah tersebut, redaksi memilih naskah #Mositidakpercaya: Rezim Anti Rakyat sebagai naskah terfavorit minggu ini. Dwi Rezki Hardianto dalam naskahnya mengulas bukti-bukti yang menunjukkan tergerusnya kepercayaan masyarakat ditandai dengan maraknya hastag #mositidakpercaya di media sosial. Rezim anti rakyat ini seolah dipertegas oleh mereka yang berkuasa dengan adanya revisi aturan perundang-undangan yang timpang dan cenderung mendzolimi rakyat.

Selanjutnya redaksi memilih naskah Nur Mustaina yang berjudul Air Mata; Telanjang. Naskah berbentuk puisi ini menggunakan metafora jamu dan tamu untuk melukiskan konspirasi pemerintahan yang berujung pada nestapa. Satire air mata yang telanjang menjadi satu-satunya kejujuran dari segelintir harapan yang bisa mereka tukar dengan rupiah. Air mata tersebut kemudian menjadi manifestasi dari beragam peristiwa, termasuk jatuhnya korban jiwa dalam sebuah insiden demonstrasi September berdarah (sedarah) pada tanggal 26 September 2019 lalu. Arham Kadir berhasil mereduksi beragam metafora air mata menjadi sebuah empati kesedihan yang tulus kepada korban bernama Randi dalam naskahnya Kepada Randi Kawanku, dan naskah ini menjadi naskah favorit redaksi selanjutnya.

Kemudian ada naskah Suhaiba Bahri berjudul 74 Tahun. Polemik bangsa yang terjadi selama 74 tahun membuat ia ragu dan mempertanyakan makna kata merdeka. Perumpamaan topan dan bendera seolah ia gambarkan adanya sebuah penindasan secara diam-diam dari tiap problematika bangsa. Sementara itu, ada Azka dengan naskah Menalar Tuhan yang menjadi naskah favorit terakhir di minggu ini. Naskah ini mengajak pembaca membebaskan Tuhan dari tiap definisi yang membatasi kebesaran-Nya. Azka mengulas tawaran bahwa berpikir bebas adalah salah satu cara yang layak dipilih untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru tentang Tuhan.
Demikian lima tulisan favorit readaksi edisi kali ini. Nantikan 15 karya yang terpilih bersama edisi yang lain di bulan September ini dalam bentuk ebook di koleksi.kolong.team. Dan untuk naskah favorit pilihan redaksi yang akan mendapatkan honor kepenulisan jatuh pada naskah #MosiTidakPercaya: Rezim Anti Rakyat karya Dwi Rezki Hardianto. Kepada penulis diharapkan segera mengirim nomor rekening tujuan melalui nomor 085231268898.
Demikian untuk minggu ini. Selamat bermitra bersama kolong.team. Jangan lupa upload naskah buku dan nikmati koleksi karya di koleksi.kolong.team.

Tim Redaksi