Entah Apa Yang Merasukimu

Hidup Mahasiswa! Hidup Siswa! Hidup Rakyat Indonesia! Itulah kira-kira teriakan yang sedang massif terdengar di ruas-ruas jalan hampir seluruh penjuru negeri Indonesia.

Bangkit melawan atau diam tertindas adalah sebuah slogan yang tidak asing lagi di tengah mahasiswa, dengan idealisme yang membara dalam jiwa, namun hanya setengah dari sekian mereka yang mengaku mahasiswa.

Mahasiswa hari ini mendapat tugas mulia, sebagai perukyah birokrat negara yang sedang kerasukan. Banyak-nya jenis jin yang merasuki mereka membuat mahasiswa harus extra dalam mencari mantra buat menyadarkan para serdadu pribumi.

Polemik tentang RUU KPK, RKUHP yang sangat ngawur dan menggelitik telah mampu memberikan dampak yang baik pada ekstalasi pergerakan mahasiswa.

Seluruh mahasiswa kembali menduduki ruas jalan dengan menuntut agar RKUHP, BPJS, pelemahan KPK dengan adanya RUU KPK yang mengindikasikan pelemahan bahkan kerugian bagi masyarakat Indonesia, ini merupakan salah satu “jin” yang paling kontroversi.

Yah, wajar saja seorang mahasiswa sebagai agent of change dan sebagai mitra kritis kebijakan pemerintah tentu akan menolak hal yang kontroversial terlebih merugikan rakyat Indonesia sendiri. Alih-alih dewan perwakilan rakyat yang katanya sebagai penyambung lidah masyarakat, namun pada realitasnya hanya sebagai penindas batas bagi masyarakat.

Mereka membuat Undang-Undang atas ego dan hegemoni jabatan yang ia emban. Bukan hasil kesepakatan rakyat. Kenapa? Karena kalau dari hasil pergolakan pemikiran rakyat maka tak akan ada sebuah aksi reaksi yang bertebaran di ruas jalan.

Prinsip teguh lahir dari suara hati mahasiswa yang masih sadar akan fungsinya, karena bersua dengan kepedihan bercampur baur dengan peluh buruh, kaum miskin, pelajar tertindas, terciptalah sebuah risalah yang bergores maklumat.

Tirani sudah ada sejak dahulu kala, dan sejarah mengajarkan kita untuk tidak berdiam diri. Seluruh bentuk tirani harus dihancurkan dengan satu-satunya cara, yaitu perlawanan. Maka, keberanian mahasiswa hari ini, tentu saja bukan sekadar mempertaruhkan sebuah resiko melainkan penegasan posisi. Tak berlebihan jika semangat gerakan diluapkan di jalanan, menduduki ruas jalan, bahkan bentrok yang terbilang anarkis menurut beberapa sudut pandang juga termasuk sebuah pilihan — walaupun sulit — dalam proses meruntuhkan tirani.

So Hok Gie, anak muda yang dengan idealismenya yang membara, memilih menolak bersekutu dengan serdadu negeri ini, memilih untuk terus melawan hingga beliau meninggal saat usia muda dengan idealisme yang mengakar dalam nadinya, setelahnya banyak mengukir kisah kematian para pejuang ruas jalan, hingga Wijhi Tukul Salah seorang aktivis yang hilang mengabadikan dalam secarik kertas:

“aku diburu pemerintahku sendiri, layaknya aku ini penderita penyakit berbahaya, aku sekarang buron pemerintah yang zhalim, bukanlah cacat seandainya aku dijebloskan ke dalam penjaranya. Aku sekarang telentang di belakang bak truck yang melaju kencang, berbantal tas dan punggung tangan, kuhisap dalam segarnya udara malam, langit amat jernih, oleh jutaan bintang, sungguh baru malam ini, begitu merdeka paru-paruku, malam ini sangat jernih, sejernih pikiranku, walau penguasa hendak mengeruhkan, tapi siapa mampu mengusik ketenangan bintang – bintang”
Begitulah sebuah keyakinan yang teguh dari mereka para pendahulu kita, pejuang ruas jalan atas kepedihan yang dilakukan para serdadu pribumi.

Tapi ingatlah..perbuatan kalian takkan memadamkan api dalam ruh dan jazad pemuda yang bergelar mahasiswa hari ini, teringat sosok bapak republik negeri ini Tan Malaka yang terbunuh oleh serdadu pribumi. Keyakinannya mirip dengan apa yang selalu dikatakannya, senjata seorang pejuang adalah keyakinan dan konsekuensi.

Tentunya dengan melihat kondisi seperti ini telah menyalakan kembali alarm demokrasi, mahasiswa dengan sumpahnya tak sekadar narasi fiksi, yah mereka hari ini dengan teriakannya mampu merukyah para serdadu pribumi seperti ini :

“Aku demo, karena telingamu dua tapi tuli. Tidak pernah mendengar aspirasi, kau baru dengar suara kami ketika jalan tol kami kuasai.
Kau punya dua mata, tapi dua-duanya buta. Kau melihat ketika aku bakar ban-ban dan pos polisi.
Aku bakar semua keangkuhan rezimmu.
Kau punya kekuasaan, aku punya kemauan, kau punya aparat, aku punya rakyat
Kau punya keputusan, aku punya jalanan
Kau punya regulasi, aku punya demontrasi
Kau punya penjara, aku punya jiwa.
Jangan lari ke luar negeri, ku tunggu disini kalau berani.”

Tak akan mundur selangkah, karena mundur dalam perjuangan adalah penghianatan.
Harus ada perlawanan dengan cara apapun, jangan sampai kita tunduk olehnya, begitulah kata Albert Camus sebagai penutup tulisan singkat yang memaksa penulis untuk berkomentar atas dirasukinya para DEWAN PENINDAS RAKYAT DAN KEPARAT, Eh APARAT.

#SAVEENDONESA

#NOJUSTICE #NOPEACE