Mengoyak Mimpi

Hujan lebat turun di waktu subuh 
menepis hingga ke ubun-ubun,
mengoyak mimpi di hulu subuh,
menarik kain tak berbulu.

Sungguh, berani kau menarik! 
menarik apa yang tak berujung?
lari-lari kecilmu membekaskan noda membuatnya girang tak bernada.

Kupandang satu duri yang mampu melukai seribu binatang alam,
Tapi, kau diam bak singa yang menikmati sepotong daging,
diammu sangatlah manis, 
tapi aksimu sangatlah anarkis
O, ternyata semak belukar juga mampu berbunga.

Wajar jika kami curiga,
wajar jika kami datang,
wajar jika kami marah,
wajar jika kami berkata,
kami punya mulut yang tidak mampu tunduk pada pembodohan,
cukup jahiliyah yang memperbudak jasad dan rohani,
tidak karena dirimu!

Gowa, 28 September 2019