Menalar Tuhan

Orang-orang terdahulu telah memberikan banyak definisi tentang nalar. Di mana nalar merupakan pikiran yang dengannya bisa dicapai suatu ilmu yang di atasnya sangkaan. Nalar adalah alat, sedangkan ilmu adalah hasil, tentunya cacat pada alat tidak akan mendatangkan hasil yang efektif.

Penggambaran bahwa Tuhan itu merupakan wujud yang sempurna pada hakikatnya merupakan ungkapan kecintaan, pengejewantahan sesuatu yang dicari, mengharapkan apa yang didambakan, dan perjalanan seorang pencari menuju tujuan, bukan suatu ketentuan tentang wujud transenden.

Tuhan bukanlah sebuah kajian rasional, yang mungkin wujud atau tidak wujud, yang mungkin diterima keberadaaNya atau dinafikan, akan tetapi sebuah aktivitas kemanusiaan yang eksistensinya harus senantiasa diperjuangkan sejak keberadaanya hingga sekarang. Tuhan merupakan pemula gerak sejarah, yang manusia sendiri memiliki saham yang besar dalam penciptaan gerak sejarah itu.

Tuhan adalah subtitusi gerak sejarah, sedangkan sejarah itu sendiri warisan Tuhan. Pembicaraan tentang Tuhan pada masyarakat yang sedang berkembang jika dilakukan oleh rakyat biasa, pada umumnya mengakibatkan kurangnya kesadaran tentang dunia realitas, sedangkan jika dilakukan oleh para pemegang otoritas politik cenderung mengalami distorsi dari keadaan yang sebenarnya .

Tuhan memiliki kebebasan dan kehendak mutlak. Dalam gambaran orang terdahulu bahwa kebebasan itu satu sisi yang berlawanan dengan kehendak Tuhan, sedangkan yang terbatas adalah alam, bukan kehendak Tuhan.

Tuhan mengambil jarak tentang persoalan nasib dan masa depan umat manusia. Dalam penjelasan para teolog muslim klasik, Tuhan mencampuri dan menentukan masa depan umat manusia dan perjalanan hidupnya. Padahal sebenarnya manusialah yang menentukan dan mengejewantahkan misi kemanusiaanya dalam kehidupan.

Tuhan tidak mencampuri persoalan politik, dalam bentuk pemilihan pemimpin, sedangkan dalam penjelasan mutakallimin klasik (ahli ilmu kalam), Tuhanlah yang menentukan seorang pemimpin. Seorang imam mempunyai hubungan determinan dengan pemimpin yang lebih tinggi yaitu Allah. Bukankah rakyat yang mengangkat dan mengabsahkan seorang pemimpin tersebut? Padahal kedaulatan pemimpin berasal dari rakyat?

Demikianlah Tuhan dan keterlibatan-Nya dalam berbagai persoalan kemanusiaan dan semua fenomena alam. Seluruh persoalan diletakkan di dalam perspektif ketuhanan.

Descartes menyatakan bahwa cita atau idea di dalam sukma kita tentang Tuhan digambarkan sebagai zat yang sempurna, yang tidak kurang nyatanya dari pada kenyataan dari isi gambaran. Idea ini tidak di bentuk oleh kita sendiri, akan tetapi kekuasaan menggambarkan sesuatu zat yang lebih sempurna daripada kita, harus datang dari sesuatu yang lebih sempurna dari pada kita. Sukma kita tidak meningkat dari dunia yang terbatas menuju ke zat yang tak terbatas.

Teringat dengan pemimpin misi apollo Neil Amstrong yang menjawab pertanyaan wartawan ketika diwawancarai. Beliau mengatakan “Di atas sana saya melihat alam yang begitu luas dan menakjubkan,  semua berjalan dengan teratur dan rapi. Tiap benda bergerak pada garisnya, pemandangan tersebut bukanlah suatu kebetulan dan tidak mungkin diatur oleh alam (nature) yang mati yang tak bernyawa dan berotak. Di sini harus ada Dzat yang mampu mengatur segala-galanya dan dzat itu adalah Tuhan.”

Menalar Tuhan adalah hal yang asyik bagi penulis, bahkan mendiskusikannya lebih menarik dari “menyembahNya”. Narasi tentang keterbatasan akal tentang Tuhan adalah suatu paradoks, karena ketidaktahuan tentang sesuatu bukan batasan dalam berpikir.

“Bila Engkau Menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskanNya , hakikatnya engkau sudah kafir. Allah tidak perlu disesali kalau dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikatnya.”, (Al Hujwiri).

Sebagian orang meminta saya agar berpikir terbatas, atau dalam lingkup tauhid, sebagai konklusi global atas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi? Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk dipikirkan adanya, Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik.

Mereka yang mengaku bertuhan tetapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepura-puraannya yang tersembunyi. Juga orang yang takut berpikir bebas itu berpotensi bahkan memang ditimpa ketakutan dan keraguan akan kepura-puraannya yang sudah tak terlihat. Dia ragu untuk berkata bahwa ada suatu pikiran yang dia benamkan di bawah sadarnya. Pikiran yang dibenamkan ini dia larang untuk muncul dalam kesadarannya. Padahal dengan berpikir bebas, manusia akan lebih banyak tahu tentang dirinya sendiri, manusia akan lebih banyak tahu tentang eksistensinya sebagai seorang manusia, mungkin juga mayoritas sebahagian orang akan berpendapat bahwa bahaya berpikir secara bebas dapat membuat kita ateis! Jika benar demikian, saya memilih lebih baik ateis karena berpikir, daripada ateis karena tidak berpikir sama sekali apa lagi membatasi diri dari belenggu dogma yang terkultuskan.

Berpikir boleh jadi salah hasilnya, begitupun sebaliknya. Proses yang lebih potensial untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru tentu saja melalui proses berpikir. Secara sederhana orang yang tidak mau berpikir freedom itu telah menyia-nyiakan hadiah Allah yang begitu berharga yaitu otak.

“Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya, Janganlah tergesa membaca Al-Qur’an sebelum sempurna di wahyukan kepadamu, dan katakanlah: Tuhanku! Berikan aku kemajuan dalam ilmu pengetahuan”, (Q.S At-Taha 114).

Jangan berhenti baca tulisan, sesekali adu lisan dan gagasan.
Karena kegelisahan adalah awal keyakinan.