Kepada Randi Kawanku!!!

Di penghujung September, kabar itu adalah duka
Randi kawanku, selonsong telah menutup nafasnya
Dadanya koyak di antara suara letusan keangkuhan
Tangis pecah dari seluruh mata yang mendengar kabarnya
Pejuang muda gugur di moncong senjata
Tanah Sulawesi dan pertiwi akan mengenang duka tak berujung, duka dengan darah dan air mata

Randi kawanku, tenanglah di tidur panjangmu
Ribuan do’a telah mengetuk tujuh lapis langit
Untuk menjadi istana abadimu di sana
Bagi kami bunga bangsa adalah namamu, terukir pada nisan yang semerbak

Randi kawanku, darahmu boleh habis tetumpah
Tapi amarah itu akan berlipat dan menjalar ke setiap sudut
Menjadi pemantik tidur panjang suara asap tebal
Warna akan menyatu menjadi payung membara
Menyumpal mulut lebar tirani, membakar tiap kecongkakan tangan-tangan besi

Randi kawanku, tidurlah dengan bahagia
Akan lahir kembali Randi di bangsa yang sakit ini
Randi yang dirindukan dengan suaranya yang tak bisa dibeli

Jakarta, 26 September 2019