SIAPAKAH MUSUH NEGARA?

Mengintip fakta 24/09/2019 betapa antusiasnya mahasiswa dalam memperjuangkan kedamaian dan keadilan negara, namun dalam perjuangan itu mungkin banyak di antara aparat yang menganggap bahwa mahasiswa adalah musuh negara sehingga mereka bertidak yang tak beretika (kriminalisasi). Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya terkait penolakan RUU KPK, RKUHP, RUU pertanahan, kemasyarakatan dan lain-lain, diwarnai dengan kericuhan antara aparat kepolisian dengan pihak demonstran. Dalam hal ini ada beberapa demonstran yang mengalami luka berat, mereka dibacot, dipukul, diremuk bahkan ada yang mengalami operasi karena pendarahan otak dan patah tulang, tidak hanya sampai di situ, diberitakan pula bahwa ada yang meninggal dunia. Hal demikian tidak akan pernah terjadi jika aparat negara kembali kepada fitrahnya dan sadar bahwa hakikat mahasiswa adalah pembela bangsa dan negara, penegak keadilan dan perdamaian.

Merujuk pada kejadian kemarin seakan-akan aparatlah yang menjadi musuh dari negara itu sendiri, seharusnya merekalah sebagai sumber utama penegak keadilan dan kedamaian justru mereka sebagai pabrik kebijakan yang beberapa kebijakannya itu tak lain hanya menjadi pemicu pemberontakan, dikarenakan ada beberapa pihak birokrat yang tidak memberikan ruang kepada para demonstran untuk menyampaikan aspirasinya dengan baik dan damai. Seharusnya pihak birokrat membuka pintu lebar-lebar kepada mahasiswa untuk berdiskusi agar tidak terjadi tindakan brutal antara pihak kepolisian yang fungsi utamanya adalah menjaga keamanan dengan para demonstran.

Sebagaimana fakta di lapangan ada puluhan ribu bahkan jutaan mahasiswa yang turun aksi, itu artinya ada kebijakan pemerintah yang tidak disetujui. Ditambah lagi beberapa aparat kepolisian yang tak beretika dalam menghadapi mahasiswa, mereka memperlakukan mahasiswa layaknya binatang. Begitu pula beberapa aparat kepolisian yang menghantam mundur mahasiswa di dalam masjid dalam keadaan mengenakan sepatu, ini adalah tindakan yang tak bermoral. Masjid merupakan rumah Allah, tempat ibadah umat Islam yang dengan alasan apapun tak dibolehkan mengenakan sepatu di dalamnya sebagaimana yang dilakukan aparat bangsat itu.

Mungkin saja tidak sopan jika kita mengatakan bahwa masih ada beberapa aparat yang memiliki kebodohan yang luar biasa, misalnya beberapa aparat kepolisian yang bertindak kekerasan itu, apakah mereka tidak tahu bahwa fungsi utamanya adalah memelihara keamanan, sebagaimana yang tertera dalam TAP MPR NO.VI/2000, pasal 2 ayat 2, namun faktanya mereka bukan mengamankan justru memperlihatkan tindakan yang tak berperikemanusiaan itu. Padahal mereka harus tahu bahwa mahasiswa tak akan pernah berbuat anarkis jika bukan aparat sendiri yang memancing emosional mereka. Hal yang mustahil jika mahasiswa yang terdidik itu melakukan anarkis ketika mereka dibiarkan masuk ruangan untuk menyampaikan aspirasinya atau pihak birokrat yang dengan senang hati menemui mahasiswa untuk menerima aspirasinya.

Orang yang bodoh dikarenakan tidak pernah belajar itu wajar, namun apakah wajar jika orang yang pernah dididik lantas kebodohannya melebihi kebodohan orang yang tak pernah terdidik? Jawanbannya ada pada diri kita masing-masing. Apakah aparat kepolisian tak tahu tugas dan wewenangnya sebagai pihak keamanan? Sepertinya masih banyak aparat kepolisian yang perlu dibina dan diberikan pendidikan khusus mengenai etika/ attitude, behavior, karakter dan pemahaman tentang demokrasi. Bukan merendahkan namun boleh jadi masih banyak aparat kepolisian yang memang masih sangat minim pengetahuannya di bidang hukum, politik, berbangsa dan bernegara yang benar dikarenakan mereka yang hanya tamatan SMA berstatus paket C atau mereka yang jadi aparat karena kolusi, sehingga salah satu kebodohan mereka berefek pada para demonstran.

Sebagaimana fakta di lapangan, mungkin bukan hal yang salah jika banyak yang menganggap bahwa yang ada di otak sebagian aparat, mahasiswa tak lain hanya sebagai musuh negara. Seakan-akan mereka tak tahu makna demokrasi atau mereka hanya berpura-pura tak tahu dikarenakan ada kepentingan yang sangat berharga baginya yang mengharuskan masyarakat menderita?

Darah perjuangan mahasiswa 24/09/2019 tercatat dalam sejarah sekaligus sebagai saksi bisu atas kezaliman yang dilakukan oleh pihak birokrasi yang tak bertanggung jawab itu.

Salam perjuangan..