Menuju Jurang Kehancuran

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, saat itu pula banyak manusia secara tidak sadar bahwa dirinya sedang menuju pada jurang kehancuran. Satu kata sangat dibanggakan oleh pemiliknya ketika mereka disebut dengan kaum “intelek”, padahal kata ini sangat berbahaya ketika pemiliknya keluar dari jalur/ ruang lingkup dari makna intektual itu sendiri. Begitu banyak kalimat-kalimat indah yang tercipta dari pemikira orang-orang yang merasa dirinya berada dalam tingkatan intelektual lebih tinggi dibanding yang lain. Bahasa dan kalimat-kalimat yang mereka ciptakan dikemas secara retorik dan puitis sehingga tampak begitu indah, namun satu hal yang harus kita tahu bahwa terkadang keindahan itu tidak menjamin kualitas dan kebenaran.

Terkadang karena keangkuhan berpikir membuat diri kita merasa terhormat di mata makhluk atau pada sisi manusia, namun bisa menimbulkan murka di sisi Allah dikarenakan pemikiran yang melampaui batas. Adakalanya suatu hal yang tak mampu dijangkau logika manusia, namun karena sifat keangkuhan membuat manusia itu menerobos batas/ sekat yang diletakkan oleh-Nya.

Misalnya hal-hal gaib yang seharusnya diimani, namun banyak manusia yang terlalu sibuk mamaksakan hal tersebut terwujud atau membuatnya seakan-akan menjadi realitas di mata dan di pikiran mereka. Banyak manusia yang tidak puas dengan batas-batas yang sudah diberikan oleh Tuhan yang mana harus diimani dan yang mana dapat dilogikakan. Tak heran jika banyak manusia yang gila dikarenakan mereka sendiri yang mengundang penyakit itu.

Bukankah Allah sendiri menyampaikan petunjuk kepada seluruh manusia dalam kitab-Nya bahwa ada kalanya manusia tidak diberikan wewenang untuk mengetahui hal-hal tertentu. Sebagaimana firman-Nya : “Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci yang gaib, tidak ada mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai pun daun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah dan yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz) (QS.Al-An’am: 59)

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh, Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan hanya sedikit sekali’ (QS. AL-Isra: 85)

Jadi ayat ini mengumumkan kepada seluruh makhluk khususnya manusia bahwa ada hal-hal tertentu yang bagaimanapun manusia tak mampu untuk mengetahuinya, walaupun seluruh potensi kecerdasan berpikir manusia dikumpulkan, maka ia pun tak mampu. Nah, hal demikian seharusnya diimani saja. Tidak jarang kita mendapatkan pertanyaan tentang hal-hal gaib/ Roh, baik dalam dunia pendidikan maupun dalam masyarakat luas, ketika dijawab bahwa itu urusan Tuhan malah si penanya mengundang perdebatan karena keangkuhan dalam berpikir. Mungkin saja kita bisa mengukur tingkat kecerdasan manusia namun jarang orang-orang mengetahui sampai dimana batas-batas berpikir itu sehingga tidak keluar dari jalur kecerdasan itu sendiri.

Apakah mereka tidak menyadari bahwa dirinya sedang menuju pada jurang kehancuran???
Sungguh akal manusia itu terbatas, maka posisikanlah akal pikiran sesuai porsinya!!!
Jangan biarkan akal pikiran merampas porsi hati yaitu memaksakan sesuatu yang harus diimani masuk dalam ruang logika!!!
Sesungguhnya hati meliputi akal pikiran…
Sesungguhnya keimanan meliputi logika…
Wallahu wa’lam. Hakikat kebenaran hanya ada di sisi-Nya.