Buta Aksara-Moral dan Kejumudan Peradaban

Literasi sebagai kunci dalam memasuki pintu gerbang samudera ilmu pengetahuan yang maha luas. Literasi berasal dari bahasa latin, Literatus, yang berarti “orang yang belajar”. Kemampuan literasi atau kemelekan aksara bagi manusia adalah ihwal dalam memahami diri sekaligus jalan menuju pemanusiaan manusia.

Di Makassar, semarak kecintaan dalam berliterasi meningkat pesat beberapa tahun terakhir. Mulai dari lahirnya beberapa komunitas literasi sampai pada kegiatan-kegiatan literasi yang melibatkan masyarakat. Beberapa pelopor komunitas literasi berasal dari kalangan mahasiswa. Tentunya, ini merupakan magnet positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di kota Makassar yang semakin sesak dengan gagasan developmentalisme dalam kehidupan modern.

Dalam perayaan Hari Aksara Internasional tahun ini, Sulawesi Selatan tepatnya Makassar mendapat kesempatan menjadi tuan rumah Festival Literasi Indonesia 2019 yang setiap tahunnya digelar, diinisiasi oleh UNESCO, Kemendikbud RI dan beberapa lembaga lainnya.

Makassar terpilih sebagai tuan rumah FLI tahun ini bukan karena tanpa alasan. Salah satu dari sekian banyak item kegiatan yakni FLI Goes to Campus. Terdapat tiga kampus negeri yang dikunjungi di Makassar, UNM, Unhas dan UIN Alauddin Makassar. Saat kunjungan di UIN Alauddin Makassar dengan model Bincang Literasi bertajuk “Peran Mahasiswa dalam Gerakan Literasi”, Kamis 5 September 2019 di Lecture Theater (LT) Fakultas Adab & Humaniora, Firman Venayaksa selaku ketua TBM RI sekaligus salah satu narasumber menyebutkan bahwa angka buta huruf di Sulawesi Selatan mencapai 39% sesuai riset yang diadakan oleh pihak kementerian. Hal demikianlah menjadi salah satu alasan diselenggarakannya FLI 2019 di Sul-sel dengan harapan mampu mengurangi angka buta huruf.

Mahasiswa dan Literasi

Antara mahasiswa dan gerakan literasi, dua variabel yang tidak dapat dipisahkan. Kemampuan literasi adalah keharusan bagi mahasiswa. Pasalnya, selain sebagai tuntutan perannya sebagai pengontrol kehidupan sosial, kecakapan berliterasi juga dibutuhkan mahasiswa dalam berproses di bangku pendidikan sementara proses transformasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat meniscayakan pendidikan. Mahasiswa menjalani proses dalam dunia pendidikan yang memiliki muara atau orientasi untuk kepentingan hajat hidup orang banyak.

Seorang sosiolog ternama asal Prancis, Pierre-Felix Bourdieu, mengutarakan teori sosiologi budayanya yang melacak asal usul masyarakat melalui analisa (Habitus X Modal) + Arena = Praktik. Dalam menganalisa keterkaitan mahasiswa dan masyarakat, kita bisa menggunakan pendekatan sosiologi budaya Bourdieu di mana mahasiswa sebagai agen, arena adalah pendidikan dan praktik adalah masyarakat. Sementara modal (simbolik, budaya dan sosial) adalah seperangkat kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa misalnya kemelekan aksara tergolong sebagai modal budaya dan habitus tercipta dari modal yang dimiliki.

Buta Aksara

Dalam menghasilkan sebuah praktik yang dimaknai sebagai kepentingan masyarakat seperti memberantas buta huruf maka mahasiswa, literasi dan pendidikan harus berjalan beriringan. Mahasiswa sebagai agen tentu harus memiliki kecakapan literasi sebagai modal budaya untuk menciptakan habitus, begitupula pendidikan sebagai arena harus memiliki paradigma kritis dan tidak berjarak dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan politik yang terjadi di dalam masyarakat sehingga mahasiswa dan gerakan literasi mampu menjawab polemik yang dihadapi masyarakat.

Fenomena buta huruf atau aksara yang terjadi dalam kehidupan masyarakat khususnya di Sulawesi Selatan adalah masalah urgent yang harus segera ditindaklanjuti baik oleh pemerintah setempat maupun mahasiswa. Di kalangan mahasiswa, beberapa kegiatan bisa dilakukan untuk menindaklanjuti angka buta aksara masyarakat, misalnya Kampung Literasi, Pendidikan Politik untuk Rakyat, Desa Binaan, Taman Baca Masyarakat dan kegiatan lainnya.

Hal tersebut dapat terlaksana jika arena belajar mahasiswa menjadi supporting system yakni kampus, walaupun kegiatan tersebut dapat dilaksanakan berdasarkan kesadaran mahasiswa akan tanggungjawabnya dalam kehidupan masyarakat, tapi alangkah menariknya jika kampus sebagai ruang pendidikan melegitimasi kegiatan tersebut melalui orientasi pendidikan sesuai konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun Tri Darma Perguruan Tinggi yang melingkupi pengabdian masyarakat melalui program studi lapangan dan KKN, akan tetapi program tersebut dinilai masih kurang efektif dikarenakan range waktu yang mengikat.

Begitupula yang harus dilakukan oleh pemerintah setempat, memassifkan kegiatan-kegiatan produktif untuk penguatan sumber daya manusia sebagai pola antisipasi wabah kebodohan di kalangan masyarakat. Buta huruf merupakan salah satu penyebab langgengnya tingkat kemiskinan. Setidaknya, pendidikan non formal yang berbentuk kegiatan berkelanjutan mampu menjadi alternatif dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Buta Aksara-Moral

Selain persoalan buta aksara yang dialami oleh beberapa masyarakat karena keterbelakangan pendidikan, terdapat pula buta aksara versi lain yang kian mewabahi negeri ini yakni buta aksara-moral atau tuna aksara moral (dalam Agroliterasi) seperti praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang kian menjalar di tubuh pemerintahan. Buta aksara adalah ketidakmampuan masyarakat untuk membaca dan menulis sedangkan buta aksara-moral adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis namun acapkali lalai dalam menjalankan amanahnya utamanya dalam tatanan pemerintahan.

Keduanya adalah sesuatu yang harus ditindaklanjuti dengan serius dan tegas demi terwujudnya peradaban yang dicita-citakan bersama. Konsep peradaban yang ideal adalah tidak terjadinya kejumudan berpikir oleh manusia di dalamnya dan hadirnya ekosistem literasi sebagai obat penyembuh kerusakan moral pada tubuh bangsa dan negara.