Bertuhan atau Beragama?

Agama dalam beberapa literatur memiliki banyak variasi makna, namun yang paling familiar adalah agama berasal dari bahasa sansakerta yang berarti A=tidak dan gama=kacau, secara sederhana agama artinya tidak kacau.

Jika berpatokan pada definisi di atas maka idealnya kehadiran agama mesti menetralisir berbagai macam kekacauan yang sangat berpotensi senantiasa mewarnai panggung kehidupan umat manusia. Dalam logika Aristoteles yang terkenal dengan prinsip niscaya lagi rasional terdapat satu hukum yang disebut hukum nonkontradiksi. Hukum ini simpelnya menjelaskan bahwa kebenaran itu pasti menafikan sebuah kontradiksi, contoh sederhana, dapatkah dibenarkan jika seseorang dikatakan duduk sambil berdiri? Jawabannya pasti tidak, karena berdiri dan duduk adalah dua kegiatan yang saling kontradiksi, mustahil dikerjakan dalam satu waktu bersamaan, itulah disebut hukum nonkontradiksi.

Jika kita tarik analisis tersebut ihwal agama, maka agama yang berarti tidak kacau mestinya melahirkan penganut-penganut yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan cinta kasih demi sebuah ketertiban hidup. Jika hal tersebut tidak berjalan maka bisa dipastikan itu bertentangan dengan hukum nonkontradiksi di atas.

Pertanyaannya, sejalankah makna agama dengan kehidupan realitas? Berhasilkah penganut agama menjalankan nilai-nilai ketertiban dan kedamaian dari agama?

Jika melihat fakta yang terjadi dalam kehidupan kita, berapa banyak kekacauan dan pertumpahan darah terjadi atas nama agama? Seberapa sering nilai-nilai kemanusiaan mesti terasingkan karena persoalan agama? Jangankan mereka yang berbeda payung agama, mereka yang nyatanya bernaung dalam satu payung agama pun masih senang saling mencaci, saling menghina, hingga jatuh pada fenomena takfiri dan tadhlili (mengkafirkan dan menyesatkan).

Lantas jika kenyataannya seperti itu masih layakkah agama dikatakan bersumber dari Tuhan? Bukankah Tuhan adalah sumber dari segala cinta dan kasih, bukankah Tuhan adalah samudera kedamaian yang sangat dalam? Lalu di mana keterkaitan antara Tuhan dan agama kalau begitu?

Adakah dalam kitab suci yang menegaskan secara spesifik bahwa perintah beragama (berdasarkan fenomena keagamaan) adalah perintah langsung dari Tuhan? Adakah yang lebih substansial dari perintah kemanusiaan?

Sekiranya agama hanya melahirkan kekacauan dan pertumpahan darah yang bermuara pada dehumanisasi, maka keliru jika dikatakan agama bersumber dari Tuhan, maka tidak salah juga jika Bertrand Russell mengatakan “bertuhan tanpa beragama”.

Banyak para cendekiawan muslim baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia seperti Nurcholish Madjid (Indonesia) maupun Hasan Hanafi (Mesir) yang berpendapat bahwa validitas akidah bertuhannya seseorang bukan lagi dilihat sejauh mana ia membenarkan agamanya, tapi sejauh mana ia memperjuangkan sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Agama bukanlah satu-satunya sumur kebenaran, maka jangan jadikan agama sebagai tolak ukur untuk menghakimi kebenaran seseorang, seorang penulis Djoko Pinurbo ditanya apa agamamu? Ia menjawab, agamaku adalah air yang akan menghapus pertanyaanmu. Jangan jadikan perbedaan agama sebagai penjara dari sebuah kebenaran, karena hal demikian dapat jatuh pada fanatisme agama.

Salah satu ungkapan indah dari seorang sufi ternama dari persia, Jalaluddin Rumi kurang lebih mengatakan agamaku bukanlah Nasrani, bukan Yahudi, bukan Majusi, bukan pula Islam, tapi agamaku adalah agama cinta, keluarlah dari segala bentuk penjara prasangka.

Imam besar mazhab syi’ah imam Ja’far ash Shiddiq mengatakan, agama itu cinta dan cinta itu agama, adakah agama selain cinta?

Nilai substansi dari bertuhan adalah menebar cinta dalam paras kemanusiaan, jika itu bisa diakomodir oleh agama, maka agama adalah jembatan yang paling ideal untuk mengantarkan kita pada Tuhan, namun jika agama tidak mampu mengakomodir itu, maka benar kata Bertrand Russell “bertuhan tanpa beragama”.