Bersahabat dengan Rasa Cinta

Cinta bukan sesuatu yang menakutkan. Hadirnya tidak selamanya mendatangkan kemudaratan, bergantung bagaimana menyikapinya. Karena itu, bukan langkah yang salah bila engkau bersahabat dengan cinta. Karena cinta, sisi-sisi hati merasakan ikatan yang demikian kuat, jika dirawat dan dipelihara dengan keimanan. Menjadikannya dirahmati dan merupakan sumber dalam mendapatkan kebahagiaan. Akan tetapi, tidaklah lagi dikatakan bersahabat dengan cinta manakala nafsu dominan daripada kesucian.

Menurut Dr. Majdi al-Hilali, nafsu menuntut bagian-bagiannya dan lari dari kewajiban-kewajibannya. Tidak heran, cinta yang sudah didominasi oleh nafsu akan melenakan pelakunya.

Begitu mulianya Islam menjaga fitrah cinta sampai-sampai menyatukan dua kerinduan pada ikatan yang menjadi penyempurna. Rumah tangga yang dihiasi rasa cinta menjadi salah satu sebab turunnya keberkahan. Cinta yang memelihara fitrahnya akan melahirkan keindahan seperti memupuk kebaikan, menambah syukur, menuju ‘kesempurnaan’ makhluk, mencerminkan kemuliaan dan cukupnya penilaian dari yang dicintai.

Kekuatan cinta akan mampu menggoreskan catatan terbaik karena ditempa dengan kerinduan untuk pertemuan. Sebuah rindu yang mendidik manusia untuk kuat dan tegar menjalani hidup. Memberikan tindakan yang terbaik sesuai dengan batas kemampuannya. Cinta dalam ketulusan, bersiap selalu dengan benturan hidup dan tidak sedikit pun menghalangi untuk berbuat yang terbaik.

Cinta yang benar tidak akan membuat orang mengalami kegelisahan yang panjang, tidak juga membuat hati merasa tercekam dengan berbagai pikiran yang ada di benaknya. Cinta tidak akan melahirkan stres yang melelahkan. Ia akan melahirkan ketenangan, kedamaian, dan mendorong untuk melakukan kebaikan. Lalu bagaimana dengan cinta yang engkau miliki saat ini?

Rasa cinta adalah karunia yang memberikan rasa ketenteraman bagi yang merasakannya. Berseminya menghiasi hari-hari menjadi lebih indah sehingga semakin besarlah rasa syukur. Sebuah keberuntungan yang menyebabkan berada dalam suasana yang dirindu hadirnya. Banyak kebahagiaan kadang tiba-tiba saja muncul sebagai kejutan, membuat bibir tersenyum dan wajah berbinar. Seperti saat memiliki pasangan sah yang romantis, penuh perhatian dan sering memberikan kejutan menyenangkan. Pasangan yang memahami kondisi pasangan dan siap mendampingi kala suka maupun duka. Seorang yang selalu diharapkan. Yahhh! Betapa beruntungnya, hanya syukur yang mampu mewakili kebahagiaan. Itulah cinta yang benar, menanamkan syukur atas anugerah-Nya. Orang yang jatuh cinta juga pernah mengalami kesedihan. Tetapi jika cinta itu benar, kesedihan yang muncul bukan kesedihan yang berlarut-larut.

Kesempurnaan adalah milik Allah semata. Manusia adalah bagian dari ciptaan Allah yang diliputi keterbatasan. Walau demikian, manusia dikaruniai kekuatan, kemampuan untuk menuju ke arah “kesempurnaan”. Kesempurnaan dalam setiap perbuatan adalah mustahil bagi manusia karena memang manusia diciptakan dengan keterbatasan. Di balik keterbatasannya manusia dapat berusaha memberikan yang terbaik dalam hal niat. Ketika niat telah benar-benar tertuju pada Allah semata dan tanpa dibarengi dengan niat-niat yang lain maka Insyaallah, akan menuju atau minimal mendekati kesempurnaan.

Cinta adalah memberi, tutur Ustadz Anis Matta. Orang yang sedang jatuh cinta berarti memberi. Berperilaku yang dapat memberikan kebahagiaan, kesenangan, kepercayaan pada yang dicintai. Menunjukkan perilaku yang tidak bertentangan dengan kemauan yang dicintainya, sehingga mendapat penilaian positif di hadapan yang dicintai. Bisa engkau bayangkan andai cinta yang dijiwainya adalah cinta pada kebaikan, tentu akan melahirkan kemuliaan.

Imam Abu Hamid al Ghazali menjelaskan bahwa manusia yang hancur adalah manusia yang takut dengan penilaian orang lain, sehingga perbuatannya selalu condong pada keridhaan orang. Kehidupan seperti inilah yang sering dijumpai di sekeliling kita.

Pernahkah engkau mendapat cacian atau sekedar penolakan dari orang lain terhadap sikap atau perilakumu? Tentu saja pernah, bukan? Penolakan semacam ini kadang dengan memberikan reaksi positif atau negatif. Orang yang mencintai sering kali tidak memedulikan apa kata orang lain terhadapnya, yang terpenting adalah penilaian orang yang mencintainya, meskipun banyak penolakan dari berbagai pihak.

Kiat menunggu jodoh dengan bahagia;

  1. Membaca buku tentang pernikahan lebih baik dilakukan sekadarnya saja bila memang belum siap untuk menikah
  2. Membuka diri dan bergaul dengan banyak orang
  3. Hindari menyemai cinta di luar pernikahan

Perihal jodoh bukan dia yang datang di waktu yang cepat tapi di waktu yang tepat, tak perlu terlalu risau dalam mengkhawatirkannya. Yang perlu kamu lakukan cukup memperbaiki dirimu maka Allah akan memperbaiki jodohmu. Jika kamu mencintainya maka jangan tanyakan kepadanya tapi beritahulah kepada sang pemilik hatinya yaitu Allah swt.

10 April 2019