Menyembah Cinta

Cinta adalah satu kata beribu makna.
Cinta adalah kata yang mewakili sebuah rasa.
Rasa yang memiliki jutaan rupa lalu dikristalkan dalam satu kata, itulah cinta.

Sudah ribuan bahkan jutaan manusia dalam bentangan sejarah telah mencoba menyingkap tabir dari cinta.
Mulai dari pujangga, filsuf, sufi, bahkan pengamen jalanan pun mampu merumuskan cinta versi masing-masing.

Cinta selalu dekat dengan kata bahagia.
Namun berapa banyak manusia dicerca penderitaan atas nama cinta?
Cinta juga akrab dengan predikat kesucian.
Lantas berapa banyak manusa dihinakan atas nama cinta?

Banyak para ahli ibadah mengatasnamakan ibadah mereka karena cinta
Tidak sedikit pula wanita sundal mempersembahkan gua garba atas nama cinta

Kahlil Gibran berfatwa bahwa cinta itu penuh dengan serangkaian paradoks.
Ia lebih rumit dari deretan rumus pada pelajaran matematika.
Lebih sulit ditanjaki melebihi gunung tertinggi yang pernah ada.

Semisterius itukah cinta?
Lantas maha misterius itu kepunyaan siapa?
Tuhan ataukah cinta?

Jika Tuhan layak disembah karena kemisteriusannya,
Lantas bagaimana perlakuan kita terhadap cinta?
Mestikah cinta juga disembah dengan kemisteriusannya?
Musyrikkah kita menjadikan cinta sebagai sesembahan?

Siapakah yang melabeli sesembahan itu dengan kata “Tuhan”?
Manusiakah atau sesembahan itu sendiri?

Jika sesembahan itu sendiri, bagaimana manusia kiranya mampu menangkap keotentikan bahasa dari sesembahan yang maha kuat itu dengan maha kelemahan manusia?
Ataukah “Tuhan” hanyalah idiom manusia untuk mewakilkan sesembahannya?

Jika seperti itu, kelirukah jika idiom itu direvisi menjadi “cinta”?
Melemahkah sesembahan itu jika idiom “Tuhan” itu diganti menjadi “cinta”?

Jika memang benar maha kuasa,
Sekiranya idiom apapun yang digunakan manusia untuk dilekatkan tidak akan berdampak kepadanya.
Maka sesembahan itu kini kusebut “cinta”.