KEPEMIMPINAN PEREMPUAN BERBASIS MULTI AGAMA

Perempuan dan laki-laki terdapat perbedaan, hal ini adalah fitrah yang dirancang Allah agar terjadi hubungan yang harmonis, bahkan cinta kasih di antara keduanya. Lelaki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban seimbang namun tidak sama. Perempuan diciptakan Allah berpasangan dengan lelaki untuk mendampinginya, demikian pula sebaliknya.

Jangan pernah berkata bahwa asal kejadian lelaki lebih unggul ketimbang perempuan, sekali lagi jangan, karena kedua jenis itu diciptakan min nafsin wâhidah/ dari jenis yang sama (QS. an-Nisâ’ [4]: 1) dan min dzakarin wa untsâ (QS. al-Hujurât [49]: 13), yakni lahir melalui seorang lelaki bersama seorang perempuan, yaitu hasil pertemuan sperma dan ovum.

Perempuan memunyai hak dan wewenang atas hasil usahanya sebagaimana lelaki pun demikian (QS. an-Nisâ’ [4]: 32). Islam tidak melarangnya bekerja, selama dia membutuhkan pekerjaan itu atau pekerjaan itu membutuhkannya, dan selama terpelihara dirinya dan lingkungannya dari segala yang  mengundang hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama. (Muhammad Quraish Shihab.com, Perempuan)

Kepemimpinan (leadership) adalah tentang bagaimana memengaruhi orang lain, bawahan atau pengikut agar mau mencapai tujuan yang diinginkan pemimpin. Beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain: 
1.   Getting things done yaitu mencapai hasil melalui orang lain
2.   Menggerakkan orang lain untuk mencapai hasil kerja yang diinginkan
3.   Kepemimpinan itu adalah pengaruh (influence) atau memotivasi

Kepemimpinan adalah suatu sikap memengaruhi orang lain untuk mencapai suatu tujuan dengan visi dan misi yang kuat. Jika berbicara tentang kepemimpinan, umumnya masyarakat mengidentikkan dengan kaum adam atau pria padahal perempuan juga mempunyai jiwa kepemimpinan, yang tidak jauh berbeda keahliannya dalam memberi arahan, dalam berorasi maupun beretorika atau bahkan memberi gagasan.

Sedangkan multi agama dapat diartikan terdapatnya berbagai keyakinan atau keimanan dalam suatu komunitas sehingga hal ini seyogyanya tidak menimbulkan perbedaan atau perpecahan tetapi harus diharmonisasikan.

Perempuan dalam Budaya Patriarki

Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda. Beberapa masyarakat patriarkal juga patrilineal, yang berarti bahwa properti dan gelar diwariskan kepada keturunan laki-laki. Secara tersirat sistem ini melembagakan pemerintahan dan hak istimewa laki-laki serta menempatkan posisi perempuan di bawah laki-laki.

Sistem sosial patriarki menjadikan laki-laki memiliki hak istimewa terhadap perempuan. Dominasi mereka tidak hanya mencakup ranah personal saja, melainkan juga dalam ranah yang lebih luas seperti partisipasi politik, pendidikan, ekonomi, sosial, hukum dan lain-lain. Dalam ranah personal, budaya patriarki adalah akar munculnya berbagai kekerasan yang dialamatkan oleh laki-laki kepada perempuan. Atas dasar & quot;hak istimewa & quot; yang dimiliki laki-laki.

Hal-hal di atas menjadikan perempuan sulit berkembang, diiringi pula dengan keterbatasan dan kendala dalam diri sendiri, antara lain: kurangnya kepercayaan diri, kesadaran bias maupun pendidikan yang kurang memadai. (Wikipedia. org, Perempuan).

Pemimpin dan Pengaruhnya

Siapakah pemimpin itu? Dia adalah orang yang memiliki pengaruh untuk menggerakkan seluruh pengikutnya untuk mau bekerja sama secara ikhlas mencapai tujuan bersama. Demikian pendapat John C. Maxwell. Ketika tujuan tercapai, maka pujian bukan diberikan kepada sang pemimpin melainkan kepada pengikutnya yang telah bekerja keras mencapai sukses tersebut.

Di dalam kepemimpinan bijaksana, terkandung nilai kerendahan hati, tidak arogan, dan menganggap diri paling bisa. Dia akan terus berpikir bagaimana melakukan multiplikasi pemimpin selanjutnya sehingga jika pemimpin lengser, kepemimpinan terus berjalan dengan sistem yang efektif.

Pengaruh tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan, seberapa banyak gelar dan seberapa banyak uang. Pengaruh dimulai dari sikap pemimpin dalam mengambil tanggung jawab tanpa menghilangkan belas kasihan. Untuk meningkatkan pengaruh seorang pemimpin harus mampu menegakkan 3K (kebenaran, keadilan dan kasih). Menegakkan keadilan adalah proses yang panjang yang dibalut dengan pengalaman hidup sehari-hari pemimpin. (Parlindungan Marpaung: Revolusi Pengaruh, dalam Revolusi Mental (dalam Institusi, Birokrasi dan Korporasi), hal. 184).

Kemajemukan sudah menjadi sahabat dalam kehidupan bangsa Indonesia dengan beragamnya etnis, golongan dan budaya. Persahabatan dan keramahtamahan telah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia lintas golongan dan agama. Semua ini berawal dari sikap terbuka menerima orang lain, ibaratnya menerima orang asing sama dengan menjamu malaikat.

Masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman agama. Hidup tidak akan bermakna tanpa iman yang membuka hati banyak orang untuk saling berbagi dan menghormati. Seorang pemimpin (baik laki-laki maupun perempuan) seyogyanya memiliki kemampuan bersikap toleran dengan semangat menerima kemajemukan, kebebasan dan sikap bersahabat. Seorang pemimpin perempuan dengan karunia yang melekat pada dirinya (kelemahlembutan, aura keibuan, rasa kasih sayang yang disertai ketegasan) akan mampu mewujudkan kepemimpinan yang bijaksana dalam keberagaman lingkungan organisasinya.

Oleh: Aulia Rifai
Penulis adalah seorang dosen di Fakultas Hukum UNHAS