SK DO Nalar

Kampus peradaban. Itu julukan kampus yang berada di daerah Samata, di dalamnya pernah terekam jejak banyak kaki anak muda yang menyimpan amarah dan protes. Terutama pada kekuasaan para jahannam yang mengabaikan bahkan menghianati keadilan itu sendiri. Regulasi yang termaktub dalam kitab hijaunya yang selalu di puja bagai dewa itu tak berlaku untuk semua.

Suara yang selalu dilantangkan segelintir mahasiswa yang sadar akan adanya ketimpangan dan konspirasi mahadewa di bilik-bilik penjara mewahnya sungguh sangat dipenuhi wajah tak berdosa nan bersalah. Teruntuk para dewa-dewa peradaban yang selalu melantangkan diksi kedamaian, maka jangan pernah berharap kedamaian itu lahir jika mulanya tak pernah ada pergolakan mahasiswa terhadap regulasi yang semena-mena.

Wahai mahasiswa. Dengar dan baca sejarahmu, apakah kau ini mahasiswa? Ataukah sekadar budak dewa? Tipis saja rasanya, tolong kasih tau perlakuan kampus peradaban macam apa yang membuatmu punya keinginan yang sederhana dan apa adanya? Lulus? Kerja? Lalu menikah? Like that?

Perlakuan macam apa dalam kampusmu yang dijuluki peradaban itu sehingga kamu ingin mencapai nilai tinggi dan lulus secepatnya? Coba jelaskan pada diriku atau ke dirimu sendiri wahai budak dewa!! Tuliskan apa yang kamu sebut sikap berani dalam dirimu!! Sebutkan perilaku berani apa yang pernah kau lakukan menjadi seorang mahasiswa, ketakutan apa yang kau alami selama kuliah? Jawablah, ayok jawab! Kemudian bandingkan mana yang tendensi lebih kepada dirimu? Apakah rasa takutmu ataukah keberanianmu?

Mengapa kau begitu takut dengan demonstrasi dan aksi? Mengapa kau membenci dan mengatakan lebih baik di bilik-bilik ruangan belajar ditemani ac pajangan. Yang katanya demonstrasi hanya sebuah hal yang sia-sia tanpa memiliki tujuan pasti!

Oy mahasiswa… Bangun dan baca! Cobalah lihat dirimu ketika berada di ruang perkuliahan, adakah kegaduhan diskusi antara dosen dan mahasiswa? Apakah ada suatu perdebatan sengit antara dosen denganmu? Haha, aku yakin ruangan itu hanya pameran bisu bahkan layaknya bioskop dengan berbagai macam film yang kalian tonton dan dengarkan secara seksama selama beberapa jam lamanya, bukan begitu? Yah setelah filmnya habis berbegaslah kalian pulang dengan tugas-tugas dewa bukan?

Keduanya tak lebih seperti bioskop masa kini, apa yang dikatakan dosen, itupula yang kalian kultuskan. Nyatanya keadaan itu membentuk ketaatan semu di mana mahasiswa hanya sebagai penikmat status quo.

Terlalu banyak keresahan yang semestinya termanifestasi di dalam tulisan ini, ingat kawan, ingat kawan, dan ingat kawan!!!

Sesungguhnya apa yang kita lakukan adalah atas dasar kemanusiaan, menolong sesama merupakan perbuatan mulia, lantas kalian masih acuh dan menikmati ruang-ruang hampa seperti itu? Sejatinya kegiatan yang kalian lakukan selama bermahasiswa adalah cara dewa untuk memanipulasi kesadaran dengan mencetak kebiasaan-kebiasaaan yang semu, maka kuliah bukan untuk menanam kesadaran atas fakta, tapi cara untuk menutup tabir bagi realitas. Jangan pernah berfikir bahwa bukan kalian yang mengalaminya, bukan kalian yang melakukannya, tapi gerakan seperti ini adalah bentuk solidaritas dan kesadaran kritis seorang mahasiswa melihat kejanggalan yang ada dalam kampus nya.

Mata Amritanandamayi pernah mengatakan, “Dapat menempatkan diri di posisi orang lain, dapat melihat dan merasakan sebagaimana orang lain lihat serta rasakan, inilah karunia yang langka”. Maka hebat dan banggalah untuk kalian yang masih sadar dalam garis kebenaran dan perjuangan, karena perjuangan merupakan wasiat para pendahulu kita. Jika kuliah kau pandang hanya barisan absensi dan ceramah basa basi, maka kau harus siap menjadi seorang pemuda yang tak mempunyai bakti, maka kuliah hanya menjadi upaya untuk menanam benih masa bodoh dan sikap tak peduli.

Mau dibilang seperti apa lagi jika ada ketidakadilan di kampus lantas kau hanya berdiam diri, acuh, apatis lalu mati! Mau disebut apalagi jika ada penindasan kepada sesamamu dan kamu hanya menikmati ribut kuliahmu? Lebih tepatnya kini kalian hanya dibutakan oleh kenyataan dan tipu daya oleh penjelasan.

Kini kawan, kini kawan, saatnya kita keluar dan sentuh derita itu dengan emosi serta nyali, jangan terhipnotis terhadap teori perkuliahan dan janji manis akan masa depan. Nyata sudah kampus peradaban layaknya kuburan China yang di macanda bagi kebenaran dan keberanian.

Innalillahi wainna Ilaihi Rojiun.

Salam revolusi, salam nalar yang mati