PENGHAMBAAN DIRI KEPADA TUHAN

Tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari manusia memiliki perbedaan penafsiran dalam beragama, itu hal yang wajar. Makna dasar dari beragama itu sendiri merujuk pada penataan kerohanian manusia yang terkadang hakikatnya tidak dapat dilogikakan, ketika suatu agama dikaitkan dengan penyembahan/ penghambaan manusia kepada Tuhannya maka hal tersebut memiliki aturan mutlak yang manusia sendiri tidak diperbolehkan menghakimi sesamanya karena itu urusan Tuhan (individu dengan Tuhan), Nabi sendiri hanya diperkenangkan untuk memberikan peringatan bukan menghakimi.

Namun, jika suatu agama dikaitkan dengan tingkah laku/ sikap sehari-hari manusia maka hal tersebut dapat dilogikakan dan wajar saja jika terjadi perdebatan dan saling menghkimi kerena itu merupakan perspektif manusia dan berlaku hukum dialektika di dalamnya. Mungkin hal yang sangat keliru jika kita mengatakan agama tidak begitu penting hari ini, pernyataan bahwa pengakuan terhadap diri yang kausaprima sudah cukup karena sudah mencakup ibadah di dalamnya, mungkin pernyataan ini harus dikoreksi kembali karena beragama tidak hanya sekadar pengakuan tetapi penghambaan diri di dalamnya (tauhid) yang memiliki tiga unsur yakni: Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ wa Shifat. Rububiyah adalah mengesakan Allah dengan kebesaran dan penciptaan-Nya (Pengakuan), Uluhiyah yakni mengesakan Allah dengan beribadah kepada-Nya, (QS. Adz- Dzariat : 56) dan Asma wa’ shifat adalah mengesakan Allah dengan nama dan sifat-Nya, jadi beragama tidak cukup hanya sekadar pengakuan saja.

Beragama juga bukan berarti lepasnya kesalahan dan kekhilafan para penganutnya. Misalnya korupsi, tindakan asusila, kezaliman, kebohongan dan lain-lain itu bukan suatu hal yang menggugurkan nilai agama dalam diri manusia. Itu hal yang wajar dalam beragama karena fitrah penganut agama dibekali dengan nafsu, maka dari itu agama mengajarkan penganutnya agar bertaubat dari kesalahan dan Tuhan sendiri memberikan pintu taubat selebar-lebarnya kepada para pendosa.

Beradu kebenaran dalam beragama sampai terjadinya perpecahan ummat itu merupakan kesalahan individu bukan agamanya, maka dari itu Hadis melarang terjadinya perdebatan dalam Agama “Sesungguhnya orang-orang yang paling dimurkai oleh Allah ialah orang-orang yang selalu berdebat” (HR, Bukhari & Muslim). Berdebat yang dimaksud ialah berdebat tanpa didasari dengan ilmu yang mengakibatkan perpecahan ummat. Bukanlah agama yang menjadi pemicu perpecahan tetapi egoisme. Mari kita simak pernyataan seorang Astrofisika pemenang hadiah Nobel, Albert Einstein bahwa ”Agama tanpa ilmu itu buta dan ilmu tanpa agama itu lumpuh”. Sekali lagi perbadaan itu wajar dalam perspektif manusia karena kebenaran mutlak hanya kebenara Tuhan.

Salah satu tuntutan agama paling mendasar adalah mengenal hakikat diri manusia. Apabila manusia sudah mengenal siapa hakikat dirinya, maka mereka pasti mengenal Tuhannya dan rahasiaNya.

Dalam hadis kudsi “man arafa nafsahu fakad’ arafa Rabbahu wa man arafa Rabbahu fakad’ Arafa Sirrahu”, Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya dan barang siapa mengenal Tuhannya maka ia mengenal rahasia-Nya. Jadi beragama tidak cukup hanya di lisan dan berbuat baik kepada sesama (Ghair mahdah), tetapi yang paling penting adalah ibadah mahdah. Dalam beragama kita dituntut memenuhi 4 dimensi: Syariah, thorikah, hakikat dan ma’rifah.

Jadi, jika hamba beragama/ beribadah dengan benar sesuai syariah maka Tuhan menjanjikan hamba-Nya dengan kesenangan pada fase akhir kehidupan yakni surga. Jika hamba beribadah dan mengharapkan surga itu bukanlah hal yang salah dan bukan berarti hamba bersifat kapitalis karena Tuhan sendiri mempublikasikan dalam Al-Kitab-Nya bahwa Dia akan menberikan surga kepada hamba-Nya yang beriman. Itu artinya Tuhan sendiri membukakan pintu harapan kepada hamba-Nya. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dan memberikan surga untuk mereka (At-Taubah: 111).

Pertanyaan yang selalu muncul dalam masyarakat adalah andaikan surga tidak ada maka apakah manusia masih sibuk beribadah? Sebenarnya pertanyaan ini konyol dan yang memperdebatkan juga ikut konyol, karena salah satu pelanggaran dalam hal ibadah jika mengandaikan qadhar Tuhan.

Maaf fokus beragama Islam.