Kegelapan Jiwa dalam Balutan Kemaksiatan

Tangisan si mungil tanpa dosa.
Memecah heningnya malam penuh kegelapan.
Air mata haru terkuras dengan wajah berseri.
Jauh di lubuk hati bertanya, apakah kelak si mungil menggenggam syari’atnya?

Bertahun menanti tanpa lelah.
Elok rupa si mungil tumbuh kekar bak seorang kesatria.
Naas menikmati kehidupan, si mungil terbalut bersama gelapnya jiwa yang kotor.
Terbuai lah dia berdendang dengan kemaksiatan diri.

Mungkinkah dia lupa akan syahadatnya?
Ah… Si mungil yang tumbuh tua renta tak mungkin lupa diri.
Tak mungkin pula khilaf menutupi akal sehatnya yang cerdik.
Tapi… Tapi si mungil nampak masih asik bersama gelapnya jiwa itu.

Ataukah dia sedang ber-teman-kan kemaksiatan?
Ohh… Allah
Dia menentangmu ternyata!
Dia lupa kodratnya!
Dia lupa akan fitrahnya!

Ohh… Allah
Rupanya kesatria itu tak terlahir sebagai seorang Anshor.
Si mungil itu lebih menjadi musuh si Abdullah.
Akankah engkau menjadikannya selayak Kemal Attartuk?

Di ujung pilu penderitaan jiwa-jiwa yang meronta.
Si mungil tak bergeming, tak empati tak pula bersedih hati.
Dia masih berbagga dengan balutan kemaksiatan diri.
Ohh.. Allah
Segelap itukah jiwa para pendosa tak bertobat?

Di sini masih ada kesatria sejati.
Yang kokoh kakinya berbalut keimanan.
Yang tak takut diterjang gelapnya amarah jiwa pendosa.
Yang kapan saja menusuk jantung keimanan.
Kesatria-kesatria itu akan tetap menggaungkan syari’atnya.

Kendari, 14 September 2019

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]