Tuhan Tak Perlu Disembah

Berangkat dari sebuah analitik keadaan umat beragama hari ini, di mana agama/ Alqur’an sebagai instrumen untuk mengenal Tuhan. Sejarah manusia dengan keyakinan yang dinamis akan suatu kepercayaan terdahulu atau yang biasa disebut animisme dan dinamisme/ tetonisme.

Manusia pada awalnya sangat gelisah dalam meyakini sesuatu yang kausaprima. Kebingungan yang dialami Abraham dalam mencari Tuhan adalah bukti sejarah bahwa manusia membutuhkan Tuhan.

Namun di tengah perjalanan kehidupan dengan hiruk-pikuk pengakuan akan keberadaan suatu yang kausaprima justru melahirkan keberagaman, khususnya di Indonesia dengan kondisi geografis dan keragaman suku, ras, dan budayanya bahkan agama. itu menunjukan banyaknya polemik pemahaman atas kehidupan.

Tata cara manusia dalam ritus ibadah telah terkonsepsikan dalam Alqur’an, tetapi kemudian yang menjadi problematika umat beragama hari ini adalah bukan lagi pada persoalan pencarian Tuhan, melainkan bagaimana bisa mengenal Tuhan dengan menginterpretasikan nilai ketuhanan dalam kehidupan sosial.

Keberadaan Tuhan hari ini bukan lagi untuk disembah, melainkan hanya sebatas pengakuan atas dirinya yang kausaprima. Nilai-nilai keislaman menjadi tendensi prioritas yang mesti di fahami umat beragama, karena output pengetahuan akan Tuhan dan agama adalah nilai atau aksiologinya dalam bahasa filsafatnya.

Lihatlah sebagian mereka bahkan hampir seluruhnya yang mengaku abid ( ahli ibadah), tetapi pada outputnya masih senang melihat ketidakadilan, kebodohan, kebohongan, korupsi, kolusi nepotisme, prostitusi dan kezaliman lainnya. Umat beragama hari ini masih terjebak pada simbolisme beragama, bukan pada nilai atas ajaran agama yang universal.

Lihatlah mereka yang masih beradu kebenaran dalam beragama. Tentunya agama akan terus menjadi pemicu perpecahan sepanjang masa jika para penganutnya masih saling todong kebenaran bukan kebaikan.

Ketika manusia sudah mengenal Tuhan. Maka agama tak menjadi begitu penting. Toh kehidupan manusia juga akan baik-baik saja tanpa agama. Agama lahir hanya sebagai unsur sejarah dalam perjalanan manusia.

Maka tak heran salah satu penganut agnotisme Betrand Russel yang bertuhan tanpa beragama, ia mengatakan bahwa salah satu kejahatan agama ialah menuntut lebih banyak percaya dari pada bukti.

Pergolakan akan hadirnya surga dan neraka menjadi sebuah ketaatan semu yang manusia asumsikan sampai hari ini. ritus ibadah yang mereka jalankan bukan sebagai kejujuran ilahi, melainkan sampai batas modal investasi ke akhirat.

Hamba yang masih beribadah dengan mengharapkan surga yah mereka bisa saja dinobatkan sebagai hamba yang primitif namun kapitalis. Sibuk dengan modal akhirat lupa dengan terwujudnya kemanusiaan dalam kehidupan.

Andai surga tak ada? Apakah kita masih sibuk dengan ritus formal dalam ibadah?

Maka tak heran juga bahwa sesekali Tuhan hanya sebagai selingkuhan belaka bagi mereka para penganut kapitalis akhirat. Bagi Karl max agama itu candu, ia hadir hanya sebagai opium atau sarana untuk menenangkan masyarakat.

Akhirnya dalam tulisan ini hanya memberikan gambaran bahwa kehadiran Tuhan hari ini bukan lagi untuk di sembah (formal). Pengakuan kita akan kekuasaanya (kausaprima) telah mewakili unsur ibadah di dalamnya, harapan akan kebaikan (nilai) dari mengenal Tuhan ialah preferensi dalam beragama sehingga terwujud keadilan, kejujuran, kepekaan dalam kehidupan manusia.

“Jangan berhenti baca tulisan, perlu didiskusikan tuk satukan kekacauan”