Pilihan Redaksi Edisi Kedua September

Cinta merupakan topik yang selalu renyah diperbincangkan. Sejak awal manusia diciptakan, cinta telah ada membersamainya juga sejumlah konflik yang berada di baliknya. Termasuk di kolongkata.com., cinta menjadi topik yang banyak diulas dalam naskah-naskah yang hadir di minggu kedua September ini. Bahkan seolah ada kesepakatan imajiner antara penulis satu dengan lainnya yang mengungkapkan cinta melalui syair-syair yang menjadi media penyampai rasa di antara mereka, sehingga redaksi menamai edisi kedua ini sebagai edisi September bersyair.

Pada edisi kali ini, pilihan terfavorit versi redaksi jatuh pada naskah Pangngukrangi goresan Rialveca. Naskah ini berhasil menangkap rasa cinta orang tua pada anaknya yang telah pergi untuk selamanya. Perpisahan dan duka yang begitu dalam seyogyanya menggores luka hingga membuat penderitanya tak bisa berbuat apa-apa, namun Rialveca mampu memunculkan gagasan sebaliknya. Kehilangan yang ia gambarkan justru mengajarkan kita untuk mengubahnya menjadi rindu yang memberikan kekuatan tersendiri untuk tetap tegar menghadapi takdir Yang Kuasa. Hal menarik lainnya, Rialveca menuliskan syair cinta ini dalam bahasa daerah (Makassar), sehingga kolongkata.com memiliki khasanah baru dalam mengangkat literasi daerah.

Pilihan kedua, redaksi melirik naskah Saat Cinta datang belum pada waktunya karya Nurul Magfirah Ismi. Naskah ini menggambarkan kegelisahan cinta seorang manusia pada pencipta dan ciptaanNya. Gundah gulana yang dirasakannya saat kehilangan cinta pada ciptaanNya membuatnya melakukan refleksi yang begitu dalam hingga jatuh pada penyesalan dan pada akhirnya memutuskan untuk bersandar pada Pencipta. Nurul seolah mengingatkan kita bahwa sebaik-baik tempat berlabuhnya cinta adalah pencipta cinta itu sendiri.

Selanjutnya redaksi memilih Epilog Kehidupan I. Naskah yang ditulis Ayatullah Patullah ini seolah mengajarkan puncak dari rasa cinta yaitu ikhlas. Ayatullah berhasil mengungkap sebuah keikhlasan dalam diksi yang bukan apa-apa.

Kemudian ada Muhibuddin dengan naskah Mendung dan Muh. Muchtasim dengan naskah Kita di antara kotak dan pena yang bersyair cinta dengan simbol-simbol. Mendung menggambarkan interaksi alam dan manusia. Harmonisasi yang terjalin melahirkan rasa saling memahami antara mereka melalui petanda-petanda yang pada akhirnya mengisyaratkan mereka untuk berpisah. Sementara Muchtasim bersyair cinta melalui pena dan teka-teki silang. Satu dan lainnya saling melengkapi dalam mencari cinta dalam kehidupan melalui simbol-simbol kotak. Naskah terakhir ini seolah menjelaskan bahwa cinta itu rumit dan tak mudah ditemukan jawabannya.

Demikian lima tulisan favorit readaksi edisi kali ini. Nantikan 15 karya yang terpilih bersama edisi yang lain di bulan September ini dalam bentuk ebook di koleksi.kolong.team. Dan untuk naskah favorit pilihan redaksi yang akan mendapatkan honor kepenulisan jatuh pada naskah Pangngukrangi karya Rialveca. Kepada penulis diharapkan segera mengirim nomor rekening tujuan melalui nomor 085231268898.

Demikian untuk minggu ini. Selamat bermitra bersama kolong.team. Jangan lupa upload naskah buku dan nikmati koleksi karya di koleksi.kolong.team.Tim Redaksi