Lembah Hitam Demokrasi

Saat hiruk-pikuk mengguncang Ibu Pertiwi.
Terdengar riuhnya hingga ke pelosok nusantara.
Terbebas lepas dari tajamnya kematian.
Namun, selangkah dan perlahan menuju lembah penyiksaan.

Di sini dan di sana tak sama bahagia.
Ada air mata, ada penyiksaan, dan ada canda tawa.
Ohh… Ibu Pertiwi kenapa engkau terdiam membisu?
Setelah satu persatu hartamu tergerus tak tersisa.

Dan di ujung nusantara sana…
Sayupan api amarah tengah bergejolak.
Menuntut sebuah perpisahan.
Ohh… Ibu Pertiwi dirimu diombang-ambing lembah hitam demokrasi.

Tidakkah engkau ingin melepas diri?
Ada jiwa-jiwa kesatria yang siap menopang mu menuju syariat Allah.
Meskipun peluh lelah berdarah membanjiri raganya.
Jiwa-jiwa kesatria itu tetap sigap menjagamu.

Ohh… Ibu Pertiwi.
Bersabarlah akan janji Sang Ilahi.
Kita musnahkan lembah hitam yang mengotori tanahmu.
Agar kedamaian di ujung nusantara sana, hidup selayaknya 14 abad yang lalu.

Kendari, 13 September 2019