Riana

Siang itu, matahari masih redup bersembunyi di balik awan gelap, segera akan turun hujan sepertinya. Sejam, dua jam tapi tak kunjung turun hujan. Riana mengambil sweeternya bergegas mengunjungi matahari yang segera beristirahat di peraduan senja.
Aku tidak begitu yakin dan membenci perasaan seperti ini…
Hujan pun turun memenuhi panggilan jiwa kekesalan remaja delapan belas tahun yang akhir-akhir ini terlena oleh fatamorgana, apalagi kalau bukan senja dan dia? Fotographer handal dan hanya tinggal beberapa lagi akan meninggalkan jejak dan aroma kerinduan di Pulau kediaman Riana.
Hujan, aku sudah menunggumu berjam-jam di rumah, kenapa baru sekarang turunnya?
Riana bergegas mencari tempat berteduh sembari menahan hati sedih mengingat percakapan-percakapan orang kota itu “Spotnya emang keren, tapi kalau hujan terus sama aja bohong, besok balik aja kalau masih hujan” Kata salah satu dari mereka.
Karisma lelaki yang memotretnya diam-diam membuat racun di seisi ruang kepala Riana. Matanya, tutur katanya dan kesempatan yang tidak ia berikan kini menjebak ia sendiri dalam rasa penasaran, entah cinta.
Riana menyudahi celoteh batin kekesalan ketika pandangannya menemui sekumpulan anak-anak muda dari Kota turut singgah di sampingnya. Ia tak berkutik, seolah sejengkal tanahpun di kakinya mengusir ia pergi menjauh. Tak sedetikpun ia membiarkan rasa penasaran itu menguasai dirinya untuk berbalik memenuhi hasrat.
“Riana, namamu kan?”
Mata jernih itu terkesiap, meraba-raba suara yang menyebut namanya barusan, ingin meyakinkan itu juga celotehan batinnya.
“Kau suka hujan bulan juni? Lalu ketika dia datang kau berteduh.”
Kini yakin ia, lelaki itu sedang berusaha membuka percakapan, harus apa aku? Menimbukinya lagi dengan buku atau meresponnya dengan baik? Aku tetap diam dengan kendali diri yang tersistematis, yah cukup sepeti ini, jauh lebih baik!
Tanpa ku jawab, tanpa meminta izin, lelaki tampan bermata cokelat dengan senyum yang terukir indah di wajahnya menculikku ke tengah guyunan hujan lebat, aku memaksa untuk diturunkan dan kembali berteduh. Alhasil sia-sia, tetap saja ia membawaku menari dalam rimbunan hujan, menikmati hal yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan. Warna kulitku coklat, rambutku keriting kusam dan intinya aku jelek!
“Aku bukan perempuan murahan.” Cetusnya setelah berhasil melepas tangannya yang melilit di pinggangnya. Perasaan jadi campur aduk, apakah remaja-remaja lainnya merasakan hal yang sama ketika melakukan ini dengan kekasihnya? Bahagia! Yah sejenak ia merasakan bahagia sebelum tersadari dirinya jelek dan tidak pantas.
“Nanti aku kesini lagi” Katanya terdengar samar-samar sebelum Riana benar-benar hilang dari hujan dan wajahnya.


Aku benci maksud hati yang tak mampu ku kendali, aku benci wajah dan senyum yang mengintip di balik keset, di pantulan teh hangatku dan di sela remang cahaya lampu kamar.