Melawan Rindu

Ada Sebab ada akibat, ada pertemuan ada perpisahan. Mungkin itu kata yang mewakili apa yang aku rasakan sebab pertemuan ku berakhir dengan sebuah perpisahan.

Di saat diriku mulai bergelora terhadap rasa, bahagia pun luntur seketika. Mungkin kata luntur kurang tepat atau mungkin lebih tepatnya adalah sebuah rindu.

Rindu kepada seseorang yang telah mempropagandakan hati, mengacaukan pikiran yang berpengaruh pada aktivitas ku saat ini, aku hanya berusaha bekerja keras. Iya!

Bekerja keras untuk melawan. Melawan Sikap, melawan rasa, melawan pikiran yang telah melonjak atas diriku. Tetapi aku tak salahkan pertemuan itu. Pertemuan yang telah menggoreskan sebuah rindu. Karena ku percaya rindu akan membuat pelakunya beranjak pulang.

Logikanya sederhana, ketika seseorang rindu terhadap keluarga tercinta, rindu selalu berhasil membuat pelakunya untuk pulang atau lebih tepatnya adalah kembali, entah!  Saya juga bingung dengan rindu sebab entah pikiran yang ingin disibukkan dengan suatu hal atau raga yang ingin bertemu. Maju satu langkah sebagai bentuk perjuangan atau mundur satu langkah sebagai bentuk pengkhianatan. Mungkin itu kata-kata yang selalu kudengar dalam sebuah demonstrasi terhadap ketidakadilan yang selalu diterima oleh rakyat atau kata itu mewakili perasaan ku terhadap rindu. Rindu yang harus dilawan.