Hijrah Kontenis

Sepertinya cinta adalah dogma paling akut. Ia menyerang relung hati, menepikan segala dogma-dogma kepentingan yang hanya bisa singgah dan juga lalu pergi dari dalam pikiran.

“Sial betul hidupku ini. Sial. Hanya sial”, Sambil mengembik Ali menghela panjang napas sesaknya. Tujuh setengah tahun Ali merintis kesia-siaannya sendiri. Dia terpaksa drop out dari kampusnya sebab kelalaiannya sendiri. Awalnya lancar-lancar saja, hingga datang seorang dara cantik di pertengahan semester ganjilnya yang keempat yang selanjutnya hanya menjadi tambahan bagi alur cerita tragis yang ia ciptakan sendiri. Ali putus dari dara itu, anak gadis dosennya seminggu setelah drop out.

Ali bermurung-ria, berputus-cita, lalu mendekatkan diri pada Tuhan. Diajaknya ia oleh Ilo ke tempat pengajian. Sama seperti kuliahnya, awalnya pengajian langgeng-langgeng saja. Pengajian minggu ketujuh Ali datang dengan sorban dan kopiah. Tuan guru memulai khotbahnya. Nampaknya, ajaran hari ini pun mengikuti perkembangan zaman. Materi ceramah tuan guru tiba-tiba membawa semangat nikah muda dan berjihad demi pilihan politik. Ali adalah drop out-an Ilmu Politik, dan ia baru saja putus cinta. Ia merenung, Ilo terkejut kecewa.Sejak saat itu, tidak lagi terasa hangat bokongnya di tepi tiang rumah ibadah. Tuan guru kehilangan murid. Untuk mengisi waktu kosongnya, Ia lalu mencalonkan diri menjadi wakil rakyat dan memutuskan untuk menikah lagi. Ali gagal berhijrah. Sorban dan kopiah miliknya tinggal merenungi kemurungan.