Agama Seks

Mungkin sudah menjadi rencana Tuhan bahwa seksualitas manusia yang menggebu-gebu harus di kendalikan oleh tatanan normatif berupa etika dalam beragama. Sebagai moralitas, agama semacam pengendali bagi tindakan seksualitas yang tanpa batas. Sementara di sisi lain manusia dengan fitrahnya sebagai pelintas batas termasuk dalam urusan seksualitas. Namun kenyataannya, agama harus tertatih-tatih dalam menghadapi gelegak seksualitas yang semakin menemukan wilayah otonomnya.

Beberapa hari ini muncul sebuah disertasi seorang doktor yang mengangkat tentang “Seks Halal Luar Nikah”. Heboh media massa dengan banyak menghujat seorang mahasiswa doktoral ini, pasalnya dia memakai literatur pemikiran Syahrur yang orientasi berpikirnya dalam melakukan hubungan seksual adalah hal yang bisa dilakukan dengan jaminan adanya perlindungan dari pemerintah, polemik tentang hal ini sangat masif akhir-akhir ini.

Di era globalisasi sekarang ini, salah satu kata digdaya adalah seksualitas, buktinya di negara-negara barat yang memiliki kebebasan seksualitas yang tinggi, berbagai bentuk relasi kuasa seksualitas tampak mengedepan. Di beberapa negara bagian Amerika , perkawinan sejenis sudah diperbolehkan berdasar undang-undang. Demikian pula Inggris, Prancis dan juga Jerman. Agama hadir hampir tak berkutik menghadapi derasnya perubahan perilaku seksualitas. Jika pada masa lalu agama begitu digdaya dalam berhadapan dengan institusi seksualitas melalui perkawinan maka hal itu sudah tak berlaku lagi di masa kekinian ini. Bahkan, institusi perkawinan justru di anggap sebagai persundalan terstruktur atau persundalan hipokrit (Banyak Kepalsuan).

Setiap agama memiliki mitologinya masing-masing terkait seksualitas, Adam dan Hawa menyadari akan kesalahannya dan keduanya pun ketika itu diusir dari surga turun ke bumi. Butuh waktu ratusan tahun lamanya kemudian mereka bertemu dan melakukan hubungan seksual yang entah ini merupakan marital ataukah non marital. Menyebrang pada mitos India di mana banyak dikaitkan dengan dewi kesuburan di dalam tradisi Syiwa misalnya ada dewi yang sangat populer namanya dewi Parwati yang disebut juga dewi Durga. Dia digambarkan sebagai dewi yang bisa memberikan kekuatan (naluri) seksualitas kepada laki-laki. Yang menariknya lagi kisah percintaan Krishna dengan Radha. Sebuah kisah percintaan berbau skandal karena Radha meninggalkan suaminya demi bercinta dengan Krishna.

Begitupun dengan mitologi Jepang, ada pantangan bagi seorang perempuan menyatakan jatuh cinta kepada laki-laki. Oleh karena itu anak-anak yang dilahirkan oleh pasangan ini memiliki kekurangan dan akhirnya dibuang ke langit agar dipelihara oleh dewa langit. Agar memiliki anak-anak yang baik maka prosesi bercinta diulang dengan cara laki-laki yang terlebih dahulu menyatakan cinta.

Mitos China tentang seksualitas juga menarik untuk dicermati, mitos yang tersimbolisasi dalam konsep Yin dan Yang, artinya antara gelap dan terang melambangkan laki dan perempuan yang keduanya saling melengkapi. Di dalam teks-teks China juga terdapat 30 posisi hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan.

Tulisan di atas hanya sedikit dari banyaknya diksi yang seharusnya terjewantahkan dalam tulisan ini, sebagai gambaran bahwa sedari dulu dan sampai kapan pun seks akan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dilepaskan oleh manusia. “Seks adalah kekuasaan” begitulah yang di katakan Foucault. Bahwa di dalam seksualitas terdapat relasi kuasa, yakni relasi kekuatan, kepatuhan, ketundukan, hegemoni dan sub-ordinasi satu atas lainnya.

Mitologi tentang seks di atas menggambarkan bahwa sejarah seks memang sangat banyak tergambarkan dari beberapa agama, tak terlepas dari Islam itu sendiri. Untuk itu perlukah seks tanpa nikah? Atau bolehkah seks tanpa cinta? Keduanya jelas kalian sudah paham jawabannya dengan orientasi agama yang kalian kultuskan. Dalam moralitas Viktorian, seks adalah sesuatu yang sakral, harus dilampaui dengan tindakan perkawinan resmi yang diselenggarakan oleh negara atau masyarakat. Seksualitas bukanlah sekadar tindakan rekreatif, melainkan ia memiliki sakralitas dan nilai religius. Seks harus dilakukan atas nama agama. Bahkan, juga ada ritual khusus tentang seksualitas, ada doa, tata cara dan ada tahapan mistis yang harus dilakoni pelaku seksual.

Terkait kasus disertasi doktoral tadi sebenarnya hal yang biasa menurut saya dalam mengeluarkan pendapatnya, toh juga ini sudah dibabat habis dalam buku Murtadha Muthari Etika Seksual antara Islam dan Barat  yang membongkar paradigma pemikiran Islam dan barat terkait seksualitas itu sendiri. Anehnya kita di Indonesia ketika ada sesuatu hal yang kontroversial, kita hanya pandai menghujat tanpa adanya usaha untuk bertabayyun terlebih dulu sehingga pandai mencaci maki hasil olah pikir orang lain.

Yang perlu kalian perhatikan dan prihatin yakni mereka yang lantang meneriakkan seks haram tetapi pada bilik tabir hidupnya asyik berkelana dalam seks itu sendiri. Beberapa literatur bisa kalian saksikan di buku antimainstrem seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Perempuan dari Titik Nol, Second Sex.

Akhirnya saya dalam tulisan ini memohon maaf apabila ada salah kata dan pemilihan narasi yang kurang berkenan, jangan berhenti membaca tulisan, tapi perlu di diskusikan.

Salam literasi, salam regenerasi!