Adios

Pada suatu waktu

Tepat saat Lonceng Angelus di-kumandangkan.

Hujan begitu perkasa hingga mampu menyamarkan celotehanmu padaku.

Tak ada air mata tak ada duka dan tak ada apa-apa yang ku lihat dari raut wajahmu. Matamu seperti bintang membara, dan bibirmu bagaikan ombak lembut yang menjilat pasir. Barangkali Tuhan menciptakan hujan agar kita tetap tabah dalam kemurungan. Tak ada seorangpun di-bumi ini yang ingin menjemput kesedihan “gumamku”.

Tetapi, mengapa kita selalu menemukan tempat untuk berpisah. Sambil berucap

Adios, adios, adios kekasih.

Sembari kalimat itu mengalun di-udara.

Tepat saat Lonceng Angelus berhenti di-kumandangkan.

 

*Adios : Selamat tinggal

Makassar, Agustus 2019