Jemari Menyapa Waktu

Matahari tidak pernah kehilangan cahayanya meski tertutupi oleh awan
Mata tidak pernah buta dalam memandang pesona wujud yang masih menjadi bayang
Tangan tak mungkin ragu menggenggam jemari menyapa waktu

Jarak bukanlah pemisah dalam menyapa meski awal yang berlawanan
Meski hanya bermodalkan media namun kuyakin ia mampu menyatukan pesan menyusun kata, rasa, lewat hati ke hati
Iya…mungkin awalnya kita saling canggung… tanpa sadar kini ia telah pandai dalam berbagi rasa.
Hal biasa ketika perkenalan berawal dari media sosial, yang membuatnya istimewa ketika ia mampu menjamu rasa hingga berani menikmati secangkir jamuan kedekatan.
Berkenalan denganmu ada rasa yang tidak dapat kutolak dalam sanubariku.
Iya, dia adalah rasa nyaman yang kutemukan lewat pesan singkatmu.
Seolah pesan itu mewakili ketulusan kasih dari relung hatimu.
Tak ada yang bisa mengelak bahwa sejak berkenalan denganmu ada rasa yang seolah memberontak ingin segera dipertemukan denganmu

Wahai adindaku…

Jangan takut jangan kaku dengan kami
Ingat! senior dan junior hanyalah sebatas identitas kampus saja.
Kita adalah saudari seiman yang berjuang dalam naungan kampus demi cita-cita mulia…
Saling menghargai adalah citra diri seorang mahasiswa bukan saling menjatuhkan satu sama lain…

Kami tidak meminta lebih dari perkenalan ini kami hanya berharap dapat membersamaimu dalam segala problematika dunia, izinkan kami menjadi seorang figur kakak, sahabat bahkan ibu.
Berharap kaki ini bukan hanya mampu melangkah di dunia tapi berharap bisa melangkah bersamamu hingga jannahnya Allah.

Wahai Adindaku…
Jagalah dirimu di negeri seberang (Dunia kampus) jangan lupa amanah orang tuamu di kampung.
Jangan mudah tertipu oleh persembahan dan permainan dunia kampus…

Wahai Adindaku…
Tetaplah nikmati, syukuri, dan jelajahi dunia kampus lewat identitas kita sendiri!

25/07/19