Seks Halal di dalam Nikah

Oh dunia,
Awalnya kami merasa terlahir hanyalah kehendak dari buku-buku yang jenaka, ternyata tidak kami diwajibkan untuk merekam jejak awal semula siapakah orang tua biologis kita sebenarnya.

Oh dunia,
Tahukah kamu?
Setelah sekian lama kami mengetahui berasal darimana raga ini, akhirnya otak mengalir kesudut dimana “manusia hanya memerlukan birahi untuk mendeteksi keaslian manusianya”.

Oh dunia,
Sudah halalkah hidup kita? Kami rasa belum, karena halal hanya sebuah manifes yang manusianya sendiripun belum mengetahui mau kemana birahinya akan dibawa.

Oh dunia,
Tahukah kamu bapak yang berkaca mata dan berkumis tebal itu? Ya, itu bukan Dewa Budjana, Adolf Hitler, ataupun Mas Adam. Tetapi dialah Abdul sangsakala peretas “SEKS HALAL DILUAR NIKAH”. Oh Tuhan…

Oh dunia,
Apakah hidupmu sudah bahagia? Jawabannya ya, karena disertasi itu tidak masuk kedalam urat-urat sarafku melainkan anus yang berkehendak untuk memujanya.

Oh dunia,
Bibirku basah, telingaku bergetar, nadiku bergejolak bukan karena tidak menyetejui definisi “seks”, tetapi sulit memahami mengapa syariat prihal seperti ini masih saja diperdebatkan dan dijadikan dasar untuk meraup rupiah oleh sekaliber manusia yang bergelar “DOKTOR”.

Oh dunia,
Semiskin itukah jejak disertasimu?
Paket C adalah sebaik-baik solusi untukmu, ruang tunggu ATM adalah sebaik-baik tempat bersetubuhmu, trotoar hitam adalah sebaik-baik meja makanmu.

05.09.19