Masjid dalam Mall

Hiasan lampu, kedipan bintang, sinar rembulan terpantul dari kejauhan, dinding kokoh, megah nan teratur. layaknya sebuah istana raja di dalamnya, dengan jutaan pengunjung dalam setiap detiknya. Lantang suara entah memanggil atau hanya sekadar kode akan keberadaannya. Entahlah, sedikit menengok nampaknya kurang sedap di mata, karena tidak banyak yang terpanggil ke sana melainkan hanya lewat dengan rapinya.

Masjid dalam mall di manapun itu dibangun dengan desain serba luar biasa, dengan tulisan kaligrafi yang sedap dipandang mata, namun rupanya hanya hiasan semata. Tak bisa menjadi perangsang jiwa untuk menghadap pada-Nya, ditambah dengan muazin yang saling harap untuk melantunkan suara panggilan ilahi. Para pengunjung tak juga segera bergegas mengambil air wudhu seraya menghentikan kegiatannya. Padahal kegiatan di mall juga tak ada aturan mainnya. Apabila melihat kenyataan bahwa hanya sebagian kecil saja orang-orang dalam mall yang betul-betul sadar atas kewajibannya, lantas masjid dalam mall itu untuk apa? Tapi sedikit bersyukur karena di dalam mall masih ada disediakan fasilitas sebagai tempat ibadah, khususnya untuk kaum muslimin. Andai eskalator dalam mall berhenti seketika dan pintu-pintu toko tertutup dengan sendirinya, tempat makan tertutup dengan jeda karena ada panggilan shalat, mungkin akan lebih terasa fungsinya sebagai sebuah masjid. 

Tak kebayang, jika di sela kesibukan para pengunjung membeli, makan, jalan dan lain sebagainya, tiba-tiba gempa melanda, mungkin mereka baru sadar akan pentingnya singgah sebentar beribadah walau hanya terpaksa. Yah manusia memang tempatnya lupa, nanti di landa susah dan musibah, baru mengingat Tuhan-nya masing-masing, seakan Tuhan pelampiasan saja. Jika ada maunya baru meronta minta-minta, setelah mendapatkan apa yang diinginkan yah pergi entah kemana. 

Tulisan ini tidak sedang menasehati pembaca, melainkan untuk diri sendiri, dan juga implementasi dari pengalaman pribadi yang dituangkan dalam tulisan sederhana di blog ini.