Ketika Wayang lebih Berharga dibandingkan Nyawa Rakyat

Inilah yang kini terjadi di negeri ku tercinta. Ketika di sudut negeri tengah terkoyak dan ricuh, sedikitpun mereka tak bergeming. Mereka lebih memilih mementingkan urusan nafsu mereka. Papua berteriak meronta mengharapkan pertolongan, namun mereka hanya diam seolah-olah tak mendengar. Pembakaran sebuah fasilitas pun seolah-olah kepulan asapnya tak terlihat dan tak tercium.

Belum lagi kebijakan asuransi kesehatan yang akan merangsek naik mencekik. Seperti menjadi isyarat bahwa rakyat miskin tak boleh sakit. Lalu untuk apa iuran asuransi kesehatan mereka naikkan?

Tak hanya itu, rakyat tengah dipersiapkan dengan kejutan baru. Tarif Dasar Listrik (TDL) pun akan merangkak naik, PDAM juga seakan-akan menunjukkan arah alirannya tak lagi mengalir ke tempat yang rendah, melainkan akan mengalir menuju ke atas. Apa tujuan mereka melakukan ini semua? Perlahan namun pasti rakyat akan mati di dalam lumbung padi akibat ulah penguasa negeri.

Dan yang aneh dan sangat mengocok perut, sebagian pendukung-nya menganggap dia ibarat Khalifah Umar bin Khattab. Apakah itu tidak salah? Umar bin Khattab versi siapa?

Hei… Periksa kembali bacaan dan daya ingatmu.

Apa yang telah dia lakukan untuk negeri sehingga kalian bisa mengibaratkan-nya seperti itu? Sudahkah dia menyejahterakan negeri? Menyejahterakan rakyat? Sudahkah dia memberi sokongan buat saudara mu yang didera kelaparan? Pedalaman Papua, pedalaman seram. Berapa banyak nyawa yang melayang akibat didera lapar dan ekstrimnya cuaca?

Itu baru untuk urusan dunianya saja. Belum urusan lainnya. Bagaimana untuk urusan agamamu? Apa yang telah dia lakukan? Tidakkah kalian lihat ulama di persekusi, dakwah dibatasi, volume toa dibatasi, dan juga bendera tauhid yang dilarang untuk dikibarkan.

Ah, saya heran dengan nalar kalian yang begitu memujanya.

Kerusuhan seolah-olah dianggap sebagai irama back sound dari pertunjukan wayang yang tengah ditontonnya. Teriakan jerit kesakitan rakyat seolah dianggap sebagai nyanyian sinden pengiring tema wayang yang sedang berlakon di hadapannya.

Belum lagi daerah-daerah yang masih butuh uluran pasca terjadi bencana. Di mana masyarakat setempat belum mendapat hunian untuk berteduh dengan layak. Mereka masih berteduh di bawah tenda-tenda darurat yang mereka buat seadanya. Rehab-rekon daerah-daerah pasca bencana sepertinya tak begitu menarik perhatiannya. Justru memindahkan ibu kota dengan dana yang fantastis lebih menarik buatnya. Bermain main dengan nominal yang tertera di secarik kertas sambil tertawa terpingkal-pingkal menonton wayang lebih mengasyikkan daripada proses rehab-rekon yang lebih urgent bagi rakyatnya.

Saya tak tau ini kutukan atau cobaan dari pemilik dunia karena kita sudah jauh melenceng jauh dari syariat-Nya.

Umat, bangkitlah dari tidur lelap mu yang panjang. Lihatlah dengan seksama apa yang telah terjadi di negeri mu. Lihatlah bagaimana mereka memperlakukan ibu pertiwi. Bangkitlah saudara ku, usap lah air mata ibu pertiwi. Jangan biarkan ia menangis darah melihat perlakuan saudara mu yang lain yang telah mendurhakainya.Mari bersama kita bangkit, bersama kita berjuang demi negeri tercinta. Bersama kita tegakkan keadilan berdasarkan hukum pemilik negeri, berdasarkan hukum Allah. Kita bangun negeri berdasarkan syariat Allah.