Doaku Sebatas Kuota

Fenomena manusia di era kekinian tak bisa terlepas dari kuota paketan internet, hidup hambar terasa jika handphone tak punya paketan, dan gelisah tak karuan ketika masuk sms peringatan! 

Ini bukan ceramah, bukan berdakwah, bukan merasa paling banyak pahala, tetapi sekadar bercerita lewat tulisan singkat yang tak butuh peringkat tetapi hanya butuh perangkat.

Sedih, miris, tragis dan pengen nangis. Melihat kemoderenan zaman, begitu banyak hal baru, inovasi baru, teknologi dan globalisasi yang sangat maju. Sudah menjadi hal lumrah dan sangat familiar ketika melihat sekumpulan makhluk yang mengaku manusia yang bertuhan. Bersujud di Baitullah, nyanyi di gereja, dan lain sebagainya sesuai ajaran para penganutnya. Namun jarang dan lantang ketika kita melihat peristiwa atau kejadian luar biasa yang terjadi di muka bumi ini entah itu musibah atau fenomena yang luar biasa lantas terdengar teriakan Allahu Akbar, Puji Tuhan dan lain sebagainya.

Anehnya, dalam persoalan ibadah kita masih sering melupakan sang pencipta dan pencinta. Tetapi di saat kita mendapat bahaya atau bencana seketika mungkin khusuknya luar biasa. Bahkan nangis yang tidak beralasan bisa sampai berjam-jam. Yah mirisnya lagi, aktivitas manusia sekarang lebih serba instan, makan pesan go food 5 menit nyampe plus kenyang. Mau kerja tugas, copy paste Google selesai. Mau nyuci, laundry aja selesai. Mau ke luar negeri, pesan tiket online aja, wah pokoknya serba instan. Sampai pada berdoa kepada Tuhan pun dimodernkan, asli edan dan tak bisa terbayangkan. Ketika ingin berdoa cukup lewat status FB, WA, Line, IG nampak seperti sedang dalam rumah Tuhan, media sosial rasa mesjid, gereja, vihara maupun tempat suci lainnya.

“Tuhan udah jadi media, nggak perlu susah sujud sampe jidat hitam, nggak perlu berdoa angkat tangan sampe ketiak kelihatan, nggak perlu shalat sampe kaki bengkak, cukup isi sesuai hajat di “ketik status” send, sampai deh ke Tuhan, cukup modal kuota aja, tanpa kuota doa ku dipending dulu”.

Hujan, macet, becek, panas, dingin, punya masalah, nampaknya media sosial menjelma seperti The Real of Solution yang lebih bisa menyelesaikan masalah. Padahal Tuhan sedang merindukan mu wahai makhluk ciptaan. Tidakkah kita sadari mengapa perbuatan sekarang lebih mudah kita laksanakan tanpa mau bersusah dahulu?

Sudah yakinkah kita akan empati maupun simpati kita bisa tersampaikan lewat kuota yang ada?? Ataukah hanya ketika kuota ada lantas kita bisa terlihat simpati dan empati lewat media-media sosial kita? Oh sungguh miris dan tragis keadaan makhluk yang lebih mencari jaringannya (sinyal) ketika hilang, ketimbang Tuhan-nya ketika jauh.#Ar-rum : 41

[TheChamp-FB-Comments style="background-color:#fff;"]